Tabung kosong gas Elpiji 3 Kg milik salah seorang warga Dompu ini sampai Rabu (30/5/23) malam masih belum dapat ditukar di kios karena tidak ada pasokan. (tim/lakeynews.com)

DOMPU – Para pengguna gas Elpiji 3 Kg (kilogram) sudah hampir seminggu langka di Kabupaten Dompu, terutama di wilayah kota dan sekitarnya.

Selain itu, kalaupun ada, setelah dicari berhari-hari, harganya naik. Lebih mahal. Dari biasanya Rp. 20 ribu menjadi Rp. 25 ribu.

Beberapa warga/pengguna elpiji yang ditemui Lakeynews.com mengaku kelimpungan mencari elpiji 3 kg sejak pekan lalu.

“Saya kehabisan gas elpiji Senin (29/5/23). Baru dapat Rabu (31/5/23) malam ini,” kata Putri, salah seorang warga Sawete, Kelurahan Bali, Kecamatan Dompu, tadi malam.

Ditanya harganya, Putri mengaku, lebih mahal. Biasanya, dia bayar elpiji 3 kg ke kios tempat penukaran tabung gas hanya Rp. 20 ribu.

“Tapi tadi harganya sudah Rp. 25 ribu. Saya hanya bawa uang Rp. 20 ribu. Ya, terpaksa balik ke rumah untuk mengambil lagi uang Rp. 5000,” tutur Putri.

Untuk mendapatkan barang yang merupakan kebutuhan pokok rumah tangga itu, dia harus berkeliling, mencari ke hingga puluhan kios di sejumlah tempat.

Hal yang sama juga dialami sejumlah warga lain dengan berbagai latar belakang pekerjaan dan profesi.

Kamis pagi ini, informasi tentang kelangkaan dan lonjakan harga elpiji 3 kg beredar di media sosial, terutama di Facebook dan grup-grup WhatsApp.

Informasi tersebut datang dari Muhammad Iksan alias Papi Iron. “Info di grup sebelah, ada pengecer yang sudah tidak hari tidak ada pasokan gas,” tulis Iksan di WAG LakeyNews.Com.

“Hari ini ada keluarga di Kandai Satu cari gas keliling Dompu dan dapatnya di kios yang ada di Desa O’o. Hargapun sudah naik Rp. 35 ribu, karena barang langka nggahina (katanya, red),” sambung pria yang kini menjabat Sekdis Dikpora Dompu itu.

Sejumlah pemilik kios tempat penukaran tabung elpiji, sebagian di antaranya membenarkan bahwa sudah beberapa hari mereka belum menerima pasokan elpiji, khususnya 3 kg.

“Gas elpiji 3 kg tidak ada. Belum datang lagi. Mungkin satu dua hari lagi sudah ada,” kata pemilik kios tempat penukaran tabung elpiji di wilayah Kelurahan Karijawa pada media ini, Selasa malam lalu.

Informasi senada diperoleh dari sekitar lima kios di wilayah Kelurahan Bali. Sayangnya, rata-rata di antara mereka tidak tahu alasan keterlambatan pasokan elpiji 3 kg tersebut.

Namun, ada elemen warga yang menduga bahwa itu permainan dan sengaja dilakukan oknum-oknum dan pihak-pihak yang berniat picik.

Ini bisa saja mereka lakukan sebagai strategi awal untuk menaikkan harga. Barangnya dibuat langka dulu, kemudian ada namun dengan harganya lebih mahal.

“Mau tidak mau, karena kebutuhan, ya pengguna akan bayar dengan harga baru tersebut,” kata M. Fadli, salah seorang warga Dompu.

Warga berharap, Pemkab Dompu melalui instansi terkait tidak tinggal diam atau tenang-tenang saja terhadap persoalan ini.

“Kalau pemerintah tidak segera bersikap, kelangkaan dan mahalnya harga elpiji ini bisa merugikan dan membahayakan warga,” tegas Fadli.

Anehnya, ditengah masyarakat kelimpungan memenuhi kebutuhannya, Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Perindag) Kabupaten Dompu Armansyah, justeru melontarkan statemen yang bertolak belakang dengan kondisi riil di lapangan dan dinilai konyol.

Dikutip dari pemberitaan Matitinews.com, 1 Juni 2023, Armansyah mengaku pasokan gas elpiji 3 kg di Kabupaten Dompu masih sangat terkendali. Katanya, tiga agen utama penyuplai gas Elpiji rutin menyalurkan ke semua pangkalan yang berizin resmi.

“Hingga hari ini (1/6/23), kami pastikan bahwa pasokan gas elpiji 3 kg tidak langka dan masih aman,” kata Armansyah.

Ketiga agen utama yang terus menyuplai gas elpiji di Dompu, sebut Armansyah, PT. Dompu Karya Perkasa, PT. Fitrah Abadi Migas dan PT. Dompu Cahaya Makmur Agung Utama. (tim)