
“Jalankan RPJMD, Sambut Peluang Investasi Majukan Daerah”
–
KESAN pro-kontra membayang-bayangi rencana Pemkab Dompu membangun arena pacuan kuda bertaraf internasional di kawasan lereng gunung Tambora. Itu tergambar dari pernyataan sejumlah elemen, baik di dunia nyata maupun di dunia maya.
Tetapi, ibarat pandangan akhir fraksi-fraksi di dewan terhadap laporan pertanggungjawaban suatu kepala daerah. Secara umum publik Dompu dapat menerima rencana pemerintahan AKJ-Syah (Bupati “Aby” Kader Jaelani dan Wakil Bupati H. Syahrul Parsan) itu, namun disertai dengan beberapa catatan.
Gambaran itu antara lain menonjol dalam diskusi lepas di WAG LakeyNews.Com yang bergulir sejak Minggu (20/2) malam. Diskusi tanpa moderator tentang Urgensi Pembangunan Arena Pacuan Kuda di Lereng Tambora.
“Saya setuju dengan pikiran Bang Muttakun. AKJ-Syah harus fokus menuntaskan janji-janji politiknya yang tertuang dalam RPJMD,” kata Herman Pelangi, anggota grup yang dikenal sebagai pemerhati masalah sosial dan politik.
Baca juga:
- Seberapa Urgen Arena Pacuan Kuda di Lereng Tambora?
- Urgensi Pembangunan Arena Pacuan Kuda di Lereng Tambora; Diskusi GWA LakeyNews.Com (1)
- Arena Pacuan Kuda Internasional Akan Dibangun di Lereng Tambora
Tetapi dalam perjalanan (pelaksanaan dari RPJMD), pemilik nama asli Suherman menekankan, AKJ-Syah juga tidak boleh menutup mata terhadap tawaran peluang investasi (bisnis) bagi kemajuan pembangunan infrastruktur, ekonomi, pariwisata dan lainnya di daerah.
“Soal regulasi, anggaran dan sebagainya, ini perlu dibahas dan diskusikan bersama. Tapi semangat menyambut peluang, kita harus hargai,” saran Herman.
Anggota grup lainnya, Muhdar. Kandidat doktor lingkungan yang akrab disapa Ori Muhdar ini mengaku, kabar tentang rencana pembangunan arena pacuan kuda jauh sebelum AKJ terpilih dan dilantik sebagai ketua Pordasi NTB.

“Pembangunan arena pacuan kuda berskala nasional atau internasional tentu butuh dana yang sangat besar. Untuk menggunakan piti (dana, red) dari APBD Dompu sangat mustahil memang menurut saya,” tandasnya.
Kalau dilihat dari sisi politik, lanjutnya di kolom komentar lain, pasti ada yang memiliki kepentingan untuk itu, baik lokal maupun nasional.
Muhdar sepakat kegiatan Pemkab Dompu sesuai RPJMD. “Catat apa yang akan dilakukan dan lakukan apa yang telah dicatat. Mungkin seperti RPJMD,” ujarnya.
Meski demikian, sambungnya, kalau ada tawaran peluang lain dan tidak diambil karena tidak tercatat, lalu peluang itu diambil oleh daerah lain, nanti muncul lagi pertanyaan, “Dompu dapat apa?”
Sumbawa telah mengambil peluang untuk penyelenggaraan Motocros Dunia. Muhdar perkirakan, sikap Pemda Sumbawa diambil setelah penetapan RPJMD dan mungkin tidak ada dalam RPJMD-nya.
“Maat, bicara tentang RPJMD saya tidak terlalu paham. Saya hanya melihat, kalau ada peluang dan itu akan membawa kebaikan untuk masyarakat Dimpu, kenapa tidak diambil peluang itu?” katanya dengan nada tanya.

Mantan Ketua KPU Dompu Rusdyanto lain lagi. Dae Rusdy (sapaannya) membayangkan, jika jadi arena pacuan kuda bertaraf internasional di lereng Tambora bakal ada (hadir) peserta-peserta lomba dari mancanegara. “Tentu keren,” cetusnya.
Tapi, jika dihajatkan untuk skala regional/nasional, menurut dia, cukup disesuaikan dengan kebutuhan. Makin tinggi kualitas, tentu makin besar anggaran yang diinvestasikan.
“Juga harus dipikirkan biaya pemeliharaan untuk kelanjutannya,” saran lelaki yang dikenal cukup irit bicara itu.
“Semoga sudah ada peta jalan (road map) menuju nilai manfaat produktif dari investasi yang direncanakan,” sambung Rusdy berharap.
Diskusi ini mengingatkannya tentang lapangan bola yang bagus di GOR Ginte. “Karena tidak dipelihara secara rutin, akhirnya kurang bermanfaat maksimal,” tandasnya. (tim)
