Sultan Terakhir Dompu Muhammad Tadjul Arifin Siradjuddin, juga sebagai Bupati Dompu yang Pertama bersama permaisuri. (ist/lakeynews.com)

Momen Peringatan Hari Jadi ke-208 Kabupaten Dompu Tahun 2023 (3)

Oleh: Muhammad Syahroni *)

MUHAMMAD Tadjul Arifin Siradjuddin adalah putra dari Abdul Wahab Sirajuddin dengan istrinya Siti Misbah. Lahir di Kampung Potu pada tanggal 12 September 1918.

Sebagian besar masyarakat Dompu mengenalnys sebagai Sultan Dompu yang terakhir. Juga, merupakan Bupati Dompu yang pertama.

Baca juga:

Hal itu didasarkan pada Undang-undang Nomor 44 Tahun 1950, dimana Kesultanan Dompu berubah statusnya menjadi Daerah Swapraja.

Muhammad Tadjul Arifin Siradjuddin-pun tetap berstatus Sultan yang berperan sebagai Kepala Pemerintahan. Setelah Swaparaja berubah statusnya menjadi Kabupaten, mulai terhitung tanggal 1 Desember 1958 berdasarkan Surat Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor: 1187/14/35, tanggal 2 Oktober 1958, beliau diangkat menjadi Bupati Kepala Daerah Kabupaten Dompu

Dalam perannya sebagai Sultan, Muhammad Tadjul Arifin Siradjuddin adalah pelopor dan penggerak bagi kembalinya Kesultanan Dompu yang berdaulat setelah sempat digabungkan dengan Kesultanan Bima.

Berbagai catatan sejarah dan arsip istana Kesultanan Dompu menjelaskan, bagaimana perjuangan panjang Muhammad Tadjul Arifin Siradjuddin dari tahun 1934 sampai tahun 1947 untuk meraih kembali Kesultanan Dompu yang berdaulat.

Penulis, Muhammad Syahroni. (ist/lakeynews.com)

Muhammad Tadjul Arifin Siradjuddin merupakan sosok pejuang Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Situasi dan kondisi keamanan yang membaik setelah Perundingan Rum Royen, dimanfaatkan Sultan Muhammad Tadjul Arifin Siradjuddin dan Sultan Bima Muhammad Salahuddin untuk mengadakan pertemuan guna menyatukan sikap mendukung Negara Kesatuan RI, seperti yang tertuang dalam Maklumat 22 November 1945.

Kedua Sultan meminta kepada Sultan Sumbawa agar berkenan melakukan pertemuan, yang dilaksanakan di Kesultanan Dompu pada 11 April 1950. Ajakan itu dikabulkan oleh Sultan Sumbawa, dan berjanji akan mengirim utusan dalam pertemuan tersebut.

Kesultanan Dompu dipilih untuk menjadi tuan rumah pertemuan, bukan hanya karena letaknya yang strategis bagi utusan Bima dan Sumbawa, tetapi ada pertimbangan lain. Sultan Muhammad Tadjul Arifin Siradjuddin dianggap mampu menjaga keamanan dari gangguan kaki tangan NICA.

Para peserta pertemuan dengan suara bulat menyatakan dukungan dan bergabung dengan NKRI dalam waktu yang singkat. Pernyataan bersama tiga Sultan, disampaikan langsung oleh Sultan Dompu Muhammad Tadjul Arifin Siradjuddin, Sultan Bima, dan Datu Ranga Sumbawa.

Pada tanggal 13 Mei 1950, mereka menghadap Presiden Soekarno di Jakarta. Kemudian bertemu dengan pejabat tinggi pemerintah pusat di Yogyakarta.

Berkat limpahan rahmat Tuhan Yang Maha Kuasa, perjuangan Muhammad Tadjul Arifin Siradjuddin bersama Sultan Muhammad Salahuddin menjadi kenyataan pada tanggal 18 Agustus 1950.

Mulai saat itu, bentuk negara kembali ke bentuk aslinya, NKRI. Seperti yang dinyatakan dalam Proklamasi Kemerdekaan RI tanggal 17 Agustus 1945.

Sultan Muhammad Tadjul Arifin Siradjuddin telah memberi andil dalam menyelamatkan bentuk NKRI yang kita cintai bersama.

Roda politik pemerintahan terus bergulir, seiring perjalanan waktu. Berdasarkan Undang-undang Nomor 44 Tahun 1950, status Kesultanan berubah menjadi Swaparaja. Kemudian diganti statusnya dengan Kabupaten. Sultan Muhammad Tadjul Arifin Siradjuddin diangkat menjadi Kepala Daerah Swatantra Tingkat II Dompu tahun 1958-1960.

Perubahan status pemerintahan dana Dompu, tidak akan mengurangi peran Muhammad Tadjul Arifin Siradjuddin di bidang politik pemerintahan. Beliau tetap berperan sebagai kepala pemerintahan. Peluang untuk mewujudkan cita-cita yang tersisa masih terbuka lebar.

Semua idaman terpendam, terus diperjuangkan. Pendidikan agama dan umum yang tertinggal terus dibenahi. Rumah-rumah ibadah seperti Sigi ro Langga ditingkatkan jumlahnya. Perannya sebagai tempat beribadah serta pusat pendidikan dan pengajian terus dilestarikan. Bersamaan dengan itu, jumlah sekolah agama dan sekolah umum terus ditambah dan ditingkatkan mutunya.

Pembangunan di bidang ekonomi, terutama di bidang pertanian, yang telantar akibat Perang Dunia II mulai mendapat skala prioritas. Dana Dompu kembali sebagai daerah penghasil beras seperti sedia kala.

Dikala sedang asyik berjuang untuk membangun dou labo dana Dompu tercinta, ketika sinar mentari 12 September 1964 menyinari gunung, lembah dan ngarai negeri Dompu permai, Sultan muda usia kembali ke alam baka. Menghadap Allah SWT pencipta alam semesta.

Seluruh rakyat seantero negeri bersedih dan berpilu hati, ditinggalkan oleh pemimpin sejati. Linangan air mata disertai doa kehadapan Yang Maha Kuasa mengiring arwah sultan masih muda usia. Seolah-olah dia berpesan, “Hai rakyat tercinta, jangan engkau bersedih, teruskan perjuanganku yang belum selesai.” (bersambung)

*) Penulis adalah Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan (Distanbun) Kabupaten Dompu.