Presiden RAN Foundation Ir. Muhammad Ruslan () dan Direktur Tri Utami Jaya, Nasrin H. Muhtar, S.Adm, didampingi beberapa pengurus RAN, usai penandatanganan Surat Perjanjian. (tim/lakeynews.com)

Buktikan dengan Penandatanganan Surat Perjanjian

YAYASAN Rai Aina Ngantu (RAN) atau RAN Foundation mensupport kebutuhan ekspor kelor CV. Tri Utami Jaya, perusahaan (produsen) jamu dan minuman kesehatan terbesar di NTB.

Sebagai bentuk dan mewujudkan dukungan nyata tersebut, Presiden RAN Foundation Ir. Muhammad Ruslan (Pihak I) dan Direktur Tri Utami Jaya, Nasrin H. Muhtar, S.Adm (Pihak II), menandatangani Surat Perjanjian Budidaya Kelor.

Penandatanganan surat perjanjian tersebut berlangsung di Markas RAN Foundation, Wisma Samada. Tepatnya, di Jalan Gadjah Mada, Nomor 18, Kabupaten Dompu, Selasa (26/1) sore.

Ikut menyaksikan penandatanganan surat perjanjian dimaksud, Drs. Abdul Jabbar Haq selaku unsur Dewan Pengawas RAN (bukan dewan pembina, red), Sekjen RAN Sarwon Al Khan, S.Sos dan sejumlah pengurus lainnya.

Sedangkan dari pihak Tri Utami Jaya, hadir dan juga ikut menyaksikan penandatanganan surat perjanjian itu, Manajer Produksi Erwin Irawan, SP.

“Penandatanganan kerja sama (surat perjanjian, red) ini merupakan bagian program kerja RAN. Yaitu Pengembangan Industri yang berbasis pada komoditas unggulan daerah,” jelas Dae Olan, Presiden RAN sapaan Muhammad Ruslan.

Ada beberapa pasal yang tertuang dalam surat perjanjian tersebut. Diantaranya, terkait kesiapan RAN menyiapkan lahan 100 hektare untuk penanaman kelor.

Sedangkan Tri Utami Jaya yang memiliki usaha industri kelor di Kota Mataram memproduksi beberapa merk utama. Seperti KIDOM, SASAMBODOM dan MORIKAI.

Daun kelor kering diolah menjadi Teh, Kosmetik dan Food (makanan). Teh misalnya, ada Teh Serbuk, Teh Celup, Kapsul dan lainnya.

Kalau Kosmetik, ditambah Sabun Padat, Sabun Cair, Handbody, Masker wajah, Shampoo, Pasta Gigi dan lainnya. Sedangkan Food/Makanan, ada Biscuit Kopi Kelor, Dodol Kelor, Mie, Donat, Bubur, Steak dan lainnya.

BACA JUGA:

Pabrik Teh Kelor Berstandar Nasional dan Internasional di NTB Diresmikan Gubernur

Dibalik Terwujudnya Pabrik Teh Kelor Terbesar dan Berstandar Internasional di NTB

Di Tangan Dingin Nasrin, Kelor jadi Uang

Menariknya, Tri Utami Jaya siap membeli hasil budidaya kelor RAN Foundation yang sudah kering berapapun banyaknya. Disamping akan memberikan bibit kelor sesuai kebutuhan.

Tri Utami Jaya akan membeli hasil daun kelor kering dan bubuk kelor dari Pihak Pertama dengan harga berkisar Rp. 10.000 hingga 15.000 per Kg (kilogram) daun kelor kering. Sementara bubuk daun kelor dibeli dengan harga Rp. 17.000 per Kg bubuk kelor dan selanjutnya sesuai dengan harga pasar.

Sementara RAN Foundation, selain harus menanam kelor dan beberapa kewajiban lainnya, tidak dibenarkan menjual daun kelor basah maupun kering kepada pihak lain tanpa sepengetahuan atau tanpa persetujuan pihak Tri Utami Jaya.

Asyiknya lagi, dalam surat perjanjian itu, RAN dapat mengembangkan budidaya kelor di lokasi lain.

Suasana rapat internal RAN Foundation yang dipandu Sekjen Sarwon Al Khan, di Wisma Samada (markas RAN), Selasa (26/1). (tim/lakeynews.com)

Abah Jabbar Manajer RAN Agro, Yudha Manajer Budidaya Kelor

Prosesi penandatanganan surat perjanjian dilakukan setelah sebelumnya dilakukan rapat internal RAN.

Rapat yang dipimpin Sarwon Al Khan itu, membahas beberapa hal. Antara lain, terkait RAN saat ini, termasuk evaluasi terhadap yang sudah, sedang dan akan dilakukan.

Poin lain yang dibicarakan dan diputuskan adalah menyangkut restrukturisasi beberapa pengurus inti. Termasuk pula menunjuk penanggung jawab (manajer) program yang menjadi terobosan lanjutan RAN.

Abdul Jabbar misalnya. Pria yang akrab disapa Abah Jabbar itu dipercaya sebagai Manajer RAN Agro (Program Pengembangan Pertanian Teepadu) yang mulai digarap di Dusun Dam Kasipahu, Desa Doropeti, Kecamatan Pekat.

Kemudian yang akan bertanggung jawab terhadap Program Budidaya Kelor RAN di tujuh kecamatan (minus Kecamatan Kilo), peserta rapat mendaulat Jainudin alias Yudha.

Dalam rapat tersebut, Presiden RAN yang biasa dipanggil Dae Olan dan Bendahara RAN yang juga Owner Tri Utami Jaya yang kerap disapa Paduka dan Doktor Jamu, memberikan presentasi secara bergilir.

Diawali Dae Olan. Mantan perancang kursi Copilot pesawat di bawah PT. Dirgantara Indonesia itu, memaparkan banyak hal terkait kondisi dan internal RAN.

Kalau salah satu Ormas tegas meminta pengurus dan kadernya agar “hidup-hidupilah organisasi (disebutkan nama organisasi dimaksud, red), tapi jangan cari hidup dari organisasi.”

“Saya justru berpikir dan mengatakan sebaliknya. Saya harapkan, hidup-hidupilah RAN agar kita semua bisa mendapatkan kegunaan dan kehidupan dari RAN,” pesan Dae Olan.

Dia menggambarkan dan meyakini, bahwa Program Pengembangan Pertanian Terpadu di Doropeti akan membantu mengatasi pengangguran dan menghidupkan banyak orang.

BACA JUGA: Terobosan Lanjutan, RAN Foundation Kembangkan Pertanian Terpadu di Doropeti

Tiba giliran Nasrin H. Muhtar untuk bicara. Dan, sekadar diketahui, dalam kepengurusan RAN Foundation, Nasrin juga memiliki posisi strategis. Dia merupakan Bendahara.

Pemilik suara emas ini, sempat menguraikan panjang lebar soal industrialisasi kelor. Mulai dari budidaya hingga produksi dan pemasarannya.

“Saat ini kami (perusahaan Tri Utami Jaya) sedang mempersiapkan ekspor kelor ke 13 negara,” ungkap Nasrin.

Dia lalu menguraikan sederet langkah dan strategi yang dilakukan pihaknya untuk memenuhi permintaan negara-negara tersebut. Termasuk menjalin kemitraan dengan para kelompok tani kelor di NTB.

Untuk Kecamatan Kilo saja, Tri Utami Jaya sudah melakukan kemitraan dengan beberapa kelompok petani kelor. “Sementara ini, kita sudah tanda tangani MoU (nota kesepahaman) untuk budidaya kelor di sana dengan total luas lahan 400 hektare,” jelasnya.

Penyampaian Nasrin tersebut seirama dengan komunikasi-komunikasi yang terbangun apik sebelumnya. Sehingga, Presiden RAN yang diamini para peserta rapat pun menyatakan kesiapannya untuk langsung menandatangani MoU dengan Owner Tri Utami Jaya.

“Hal ini merupakan bagian program kerja RAN. Yaitu Pengembangan Industri yang berbasis pada komoditas unggulan daerah,” jelas Dae Olan. (tim)