
Refleksi Kritis Hari Pendidikan Nasional 2026
Oleh: Ida Faridah, S.Pd, Gr. *)
HARI ini, 2 Mei 2026 adalah peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas). Pada momen ini, kita tidak hanya mengenang nama besar Ki Hajar Dewantara. Lebih dari itu, juga diuji sejauh mana kita benar-benar menghidupkan ruh perjuangan beliau dalam praktik pendidikan hari ini.
Di ruang-ruang kelas, pendidikan sering kali masih terjebak pada rutinitas, mengajar untuk menuntaskan kurikulum, bukan menuntun kodrat anak. Murid hadir, tetapi belum tentu merasa dihadirkan. Guru mengajar, tetapi belum tentu benar-benar menjadi teladan.
Di tengah derasnya arus teknologi dan tuntutan zaman, kita terkadang lupa bahwa inti pendidikan bukan pada kecanggihan alat, melainkan pada ketulusan hati dan kesadaran peran.
Filosofi Ing Ngarso Sung Tulodo, Ing Madyo Mangun Karso, Tut Wuri Handayani bukanlah sekadar slogan yang dihafal, tetapi nilai yang harus menjelma dalam sikap.
Makna filosofi itu; “Di depan, guru menjadi contoh hidup. Di tengah, guru membangkitkan semangat dan harapan. Di belakang, guru memberi kepercayaan dan ruang untuk tumbuh.”
Jika ini benar-benar dijalankan, maka pendidikan tidak akan kehilangan arah.
Pendidikan sejatinya harus berpihak pada murid, menghargai kodrat alamnya, memahami latar belakangnya, dan menuntunnya sesuai kodrat zamannya. Anak-anak kita hidup di era yang berbeda, dengan tantangan yang jauh lebih kompleks. Maka, pendidikan tidak bisa lagi berjalan dengan cara lama. Ia harus adaptif, humanis, dan memerdekakan.
Hari ini, refleksi kita seharusnya lebih dalam dari sekadar seremoni.
Sudahkah kita menjadi guru yang menuntun, bukan menekan?
Sudahkah kita mendidik dengan hati, bukan hanya dengan target?
Sudahkah kita benar-benar hadir untuk murid, bukan sekadar hadir di kelas?
Karena pada akhirnya, pendidikan bukan tentang seberapa banyak materi yang selesai diajarkan, tetapi seberapa banyak jiwa yang tersentuh, karakter yang terbentuk, dan masa depan yang diselamatkan.
Mari kita jujur pada diri sendiri. Pendidikan hari ini tidak membutuhkan guru yang sempurna, tetapi sangat membutuhkan guru yang sadar bahwa setiap langkahnya adalah teladan, setiap katanya adalah arah, dan setiap sentuhannya adalah harapan.
Saatnya kembali ke hakikat, bukan sekadar mengajar, tetapi menyalakan jiwa. Selamat Hari Pendidikan Nasional. (*)
*) Penulis adalah Ketua IGI Kabupaten Dompu, Ketua Komunitas Guru Penggerak Kabupaten Dompu, dan Fasilitator Pembelajaran Mendalam Nusa Tenggara Barat (NTB).
