Owner Tri Utami Jaya, Nasrin H. Muhtar, MM, saat memberikan sambutan pada peresmian Pabrik Teh Kelor (Moringa) KIDOM di Kota Mataram. (zulhaq/lakeynews.com)

Penuturan Nasrin H. Muhtar, Owner Tri Utami Jaya

MULANYA, tidak pernah terpikirkan oleh saya untuk mendirikan pabrik teh kelor sebesar dan semegah ini. Apalagi berstandar nasional, bahkan internasional. Saya sebenarnya ingin membeli rumah mobil mewah.”

Demikian penggalan kalimat Owner Tri Utami Jaya, Nasrin H. Muhtar, MM, saat memberikan sambutan pada peresmian Pabrik Teh Kelor (Moringa) KIDOM di Kota Mataram, Senin (11/1) pagi.

Pengakuan yang sama juga dilontarkan Doktor Jamu (sapaan Nasrin H. Muhtar) dalam wawancara eksklusif Lakeynews.com Perwakilan Mataram, Minggu (10/1) malam.

Proses pembangunan pabrik teh kelor pertama dan terbesar di Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) milik CV. Tri Utami Jaya ini dimulai September 2020 lalu. Tri Utami Jaya merupakan salah satu perusahaan (produsen) jamu dan minuman kesehatan.
 
Peresmian pabrik yang terletak di Jalan Sakura Raya Blok G Nomor 10 BTN Swete Indah, Mataram, ini dilakukan Gubernur NTB Dr. H. Zulkieflimansyah.
 
Mengapa Nasrin mengatakan tidak pernah terpikirkan mendirikan pabrik tersebut dan justru ingin membeli rumah mobil mewah?

Awalnya, Nasrin menyampaikan keinginannya untuk membangun rumah megah dan membeli mobil mewah kepada putra dan putrinya.

Namun, jawaban dari kedua anaknya cukup menghentakkan, menggugah dan menginspirasinya. Putra dan putrinya mengatakan, mobil dan rumah yang ada sekarang sudah cukup.

“Dua generasi saya berkata, ‘tidak usah membeli rumah atau mobil yang mewah. Lebih baik membangun pabrik untuk kami kedepannya’,” ujar pria yang juga akrab Doktor Jamu itu mengutip permintaan anak-anaknya.
 
Dengan diresmikannya pabrik kelor ini, lelaki kelahiran Kilo Dompu tersebut bertekad dan sudah berencana mengembangkan produksi yang berbahan baku daun kelor.

Selain dalam bentuk teh celup, bubuk dan kapsul, juga sudah menyiapkan untuk generasi perempuannya, masker wajah bubuk dari daun kelor.

“Hanya ada dua masker yang menggunakan face masker di Indonesia. Yang satu, pembuatan dari Korea, dan satu lagi putri saya yang buat,” katanya.
 
Disamping itu, rencananya akan memproduksi sabun, lotion, parfum, pasta gigi, shampo, dan lainnya yang berbahan dasar kelor.
 
Sedangkan generasi putranya, rencananya akan membangun (menjalankan) usaha baru. Ia mengatakan, saat ini berjalan usaha untuk memproduksi kopi, biskuit, dodol berbahan dasar kelor.

“Insya Allah akan dikenal di dunia luar. Ini rencana kami kedepannya,” tutur Nasrin.
 
Sebelumnya, dia tidak pernah mengetahui cara mengelola bisnis. Ia hanya mengenyam pendidikan sampai di bangku SMP, karena terkendala biaya. Orang tuanya hanya buruh petani.
 
Dulu, Nasrin pernah bekerja di salah satu perusahan jamu. Pertama menjadi cleaning service hingga pada umur 21 tahun diangkat menjadi wakil direktur.

Pada umur itu juga, ia mendirikan usaha sendiri. Kini, ribuan mantan karyawannya di NTB banyak yang menjadi pengusaha.
 

Penandatanganan MoU oleh Owner Tri Utami Jaya, Nasrin H. Muhtar, MM bersama beberapa pihak, disaksikan Gubernur NTB Dr. H. Zulkieflimansyah. (zulhaq/lakeynews.com)

Kelor, Jawaban Berbagai Persoalan NTB


 
Bagi sebagian banyak orang, kelor merupakan barang yang tidak memiliki nilai manfaat. Kelor hanya dikenal di kebun dan meja makan.

“Namun pada hari ini, kelor yang berasal dari NTB telah melalang buana  sampai ke 13 negara,” kata Nasrin.
 
Terkait beragam persoalan yang ada di NTB, kelor menjawab segalanya. Berbicara tentang hutan gundul, jawabannya adalah kelor. Kelor bisa menghijaukan gunung.

Berbicara mengenai erosi dan banjir, kelor solusinya, karena tanaman kelor dapat menyimpan air.
 
Mengenai lingkungan, kelangkaan pupuk, pestisida, jawabannya juga kelor, karena tidak menggunakan pupuk dan tidak membutuhkan pestisida.
 
Terkait kemiskinan, kesehatan, stanting dan gizi buruk, juga demikian. WHO mengatakan, kelor merupakan pohon (tumbuhan) yang ajaib.

Begitu pula berbicara mengenai industrialisasi. Dengan diresmikannya pabrik teh kelor ini Tri Utami Jaya ini, 50 tenaga kerja bisa ditampung,” kata Nasrin disambut tepuk tangan meriah dari para tamu yang hadir.
 
Namun, segala yang disampaikannya itu tidak memiliki nilai tanpa dukungan berbagai pihak, terutama dari pemerintah dan DPR/DPRD.

Nasrin juga berharap, ada dukungan dari dunia pendidikan.
 
Lebih jauh dipaparkan, pada hari peresmian pabrik, 17 mitra petani kelor diajak untuk melakukan kerja sama dan menandatangani MoU (nota kesepahaman). “Kelor sudah kami tanam di lahan seluas 150 hektare,” urainya.

Dari 150 hektare itu, 30 hektare sudah dipanen. Dan, dengan MoU diharapkan tercapai 1.000 hektare tanaman kelor untuk menghijaukan NTB.
 
Selanjutnya, akan hadir 10 marketing untuk menandatangani MoU yang akan menjadi distributor. Salah satunya berasal dari Bandung, yang memiliki cabang di 13 negara.

“Insya Allah marketing-marketing itu akan menduniakan produk kelor di 13 negara,” jelas Nasrin.
 
Terkait pabrik yang baru sehari diresmikan Gubernur NTB itu, Nasrin memastikan dapat menampung 200 ton daun kelor kering. Apabila ada permintaan pasar, pihaknya sudah memiliki (menyediakan) stok.

Produk aman, bahan baku sudah tersedia, proses produksi sudah sesuai, memiliki izin yang lengkap. “Maka, industrialisasi yang direncanakan Bapak Gubenur tidak hanya menjadi mimpi, namun akan menjadi nyata,” cetusnya.
 
Nasrin berharap peresmian pabrik itu dapat memberikan berkah. “Insya Allah, saya akan wakafkan pabrik teh kelor ini untuk NTB. Sehingga, NTB lebih makmur  dan sejahtera kedepannya,” tuturnya.

( Zulhaq & Sarwon )