Posisinya Menentukan, Gaji Rp. 15 Juta per Bulan
Catatan :
Sarwon Al Khan, Dompu – NTB
Pintar, cerdas, jenius. Begitu menuntaskan tambahan ilmu komputernya di Jakarta, Iradat muda langsung direkrut oleh salah satu perusahaan asing. Perusahaan perminyakan dan gas bumi (Migas) asal Amerika Serikat. Posisi pria asal Kabupaten Dompu, Nusa Tenggara Barat (NTB) kelahiran 1973 itu, cukup strategis dan menentukan. Peranannya begitu penting. Bisa dikatakan, maju atau hancurnya perusahaan ada di tangannya. Sebagai programer dan handal (andalan) dengan gaji Rp. 15 jutaan per bulan.

SAYA meyakini, warga Dompu atau luar Dompu yang sering berkunjung ke Taman Kota (selatan kantor bupati) dalam beberapa tahun terakhir, tidak asing dengan pria ini. Kadang pagi, siang, sore, kadang malam, bahkan hingga larut dia ada di sana.
Taman Kota Dompu dan sekitarnya adalah wilayahnya. Dia selalu hadir bersama gitar mininya. Suara lembut teralun saat melantunkan syair-syair andalan, sembari berharap recehan dari pengunjung taman yang mendengar lagunya.
Mungkin sebatas itulah umummya yang diketahui dan dipahami kebanyakan orang tentangnya. Tetapi, siapa dia, dari mana asalnya, sejak kapan dan kenapa dia seperti itu, di mana dan bagaimana kondisinya sekarang? Diyakini tidak banyak yang mengetahuinya.
Sejak tamat SMP atau ketika usianya sekitar 15 tahun, pemilik nama lengkap Iradawansyah Usman (46) itu tinggal bersama abangnya, Drs. Suaidin Usman (Dae Deo). “Saat itu, saya bertugas sebagai guru (ASN) pada sebuah SMA negeri di Makassar, Sulawesi Selatan,” cerita Suaidin pada Lakeynews.com.
Iradat remaja bersekolah di tempat abangnya mengajar. Sambil sekolah, ikut kursus komputer dan diperkuat dengan membaca buku-buku penuntun tentang komputer.
“Tahun ’92 saya pindah ke Dompu,” kata Suaidin yang saat itu didampingi istri tercinta, Puji Astuti di kediamannya, RT 04/RW 02 Lingkungan Polo, Kelurahan Kandai Dua.
Tentu saja Iradat yang sedang duduk di bangku Kelas III SMA ikut pindah dan melanjutkan pendidikan di SMAN 1 Dompu. Bertepatan dengan semester genap. Dan, tamat tahun pelajaran 1992/1993.
Putra ke 10 dari 11 bersaudara buah hati pasangan Usman Abbas (alm) dan Siti Hawa H. Abdul Majid itu, sempat ikut tes masuk Perguruan Tinggi Negeri (PTN) Rayon NTB yang dipusatkan di Mataram. Namun Iradat gagal.
Karena tidak berminat masuk PTS, Iradat pulang ke Dompu. Di daerah kelahirannya, dia menjadi tutor (instruktur) komputer pada sebuah lembaga pendidikan komputer. Lebih kurang dua tahun.
Meski sudah menjadi instruktur, dia merasa ilmu komputer yang dimilikinya masih kurang. Iradat minta izin pada abangnya, Suaidin dan keluarga besar ke Jakarta untuk meningkatkan ilmu pengetahuan dan keterampilan tentang komputer.
Suaidin dan keluarga pun menyetujuinya. Singkatnya, di Jakarta Iradat menimba pengetahuan komputernya di salah satu lembaga pendidikan dan pelatihan komputer. “Kalau tidak salah, sekitar setahun lamanya,” sebut Suaidin.
Selama belajar di lembaga pendidikan komputer itu, Iradat relatif menonjol. Bahkan dia dinilai memiliki kemampuan dan keterampilan di atas rata-rata, dibanding rekan-rekannya.
Semangat dan perjuangannya hingga harus meninggalkan kampung halaman, tidak sia-sia. Kecerdasannya membuahkan hasil.
Tak berapa lama selesai menimba ilmu tambahan komputer, Iradat direkrut oleh salah satu perusahaan asing. Perusahaan yang bergerak di bidang Migas asal Amerika Serikat. Penghasilannya lumayan tinggi untuk ukuran saat itu dan untuk pegawai baru sepertinya.
“Gaji terakhir Iradat sebelum keluar, sekitar Rp. 15 juta per bulan,” ungkap Suaidin yang saat ini sebagai Koordinator Pengawas (Korwas) pada UPT Layanan Dikmen Kabupaten Dompu.
Apa penderitaan yang dialami Iradat? Apapula penyebabnya? Sejak kapan mulai mengalami penderitaan itu? Ikuti kupasannya pada tulisan berikutnya. (bersambung)

3 thoughts on “Kisah Pilu Iradawansyah, Programer Handal Perusahaan Migas Amerika Asal Dompu (1)”