Menderita Kejiwaan, Diduga Setelah Teman Kerja Meminumkan Pil “Anjing Gila”

Catatan :
Sarwon Al Khan, Dompu – NTB

Teman kerjanya merasa iri dengan posisi strategis dan penghasilan tinggi yang didapat Iradat. Oknum itu diduga meminumkan pil BK, pil anjing gila kepada Iradat. Sehingga, tak lama setelah itu, Iradat mulai menderita gangguan kejiwaan. Kini penderitaannya telah berlangsung lebih dari 20 tahun.

Kondisi kesehatan kejiwaan Iradawansyah Usman atau dipanggil Iradat, kini sudah mulai normal. (sarwon/lakeynews.com)

IRADAT tiba-tiba diketahui mengalami gangguan kesehatan yang cukup serius. Yang diserang penyakit adalah syaraf, sehingga memengaruhi dan merusak jiwanya.

Pihak keluarga di Dompu tidak seorang pun yang mengetahui secara pasti. Baik penyebab maupun kapan waktunya, tidak ada yang tahu.

Baca juga; http://lakeynews.com/2019/07/15/kisah-pilu-iradawansyah-programer-handal-perusahaan-migas-amerika-asal-dompu-1/

Keluarga hanya bisa memperkirakan kejadiannya sekitar 22-23 tahun yang lalu. “Kami baru mengetahuinya ketika Iradat kembali ke Dompu. Ya, sekitar tahun 1997 atau 1998,” kata abangnya, Suaidin Usman, saat ditemui Lakeynews.com di kediamannya, beberapa waktu lalu.

Menurut pria yang saat ini dipercaya sebagai Korwas pada Kantor UPT Layanan Dikmen Kabupaten Dompu itu, saat pulang kampung, Iradat diurus keluarga besar yang ada di Jakarta dan orang-orang yang prihatin dengan kondisinya. Mereka mengantar Iradat ke Terminal Pulo Gadung.

Dari Terminal Pulo Gadung ke Dompu, Iradat menggunakan salah satu bus AKAP Jurusan Bima-Jakarta (Jakarta-Bima). “Bus itulah mengantarnya sampai di rumah,” cerita Suaidin.

“Tidak ada sama sekali barang yang dibawa. Tidak membawa apa-apa. Dompetnya pun tidak ada,” sambung pria yang akrab disapa Dae Deo itu.

Keluarga kaget bukan main. Iradat saat itu, bukan seperti Iradat sekian tahun sebelumnya. Iradat yang baru pulang tersebut, sulit diajak bicara dan berkomunikasi secara normal.

Dari sekian pertanyaan keluarga, hanya satu yang dijawab dalam sehari. Itupun dengan suara kurang jelas. Selebihnya, pertanyaan-pertanyaan lain ditanggapinya dengan emosi dan ngamuk-ngamuk.

Bahkan, keluarga harus mengelus dada, menarik napas panjang dan bersabar selama sekian hari, jika ingin melontarkan suatu pertanyaan. “Kalau hari ini satu pertanyaan, maka satu pertanyaan lagi kita lontarkan besok atau lusa,” tutur Suaidin.

Dari komunikasi yang terbata-bata, terputus-putus dan setengah-setengah yang berlangsung berhari-hari tersebut, diketahui bahwa semua barang bawaannya hilang. Termasuk dompetnya lenyap dalam perjalanan.

Keluarga tidak tega melihat kondisi Iradat. Tidak tenang rasanya selama belum mengetahui sebab musabab Iradat seperti itu. Karenanya, setelah beberapa hari Iradat berada di kampung, keluarga di Dompu menghubungi keluarga di Jakarta.

Sayangnya, keluarga di ibukota negara juga tidak ada yang tahu persis penyebab dan kejadian sebenarnya. Namun menurut informasi dari beberapa keluarga di Jakarta, (diduga) ada teman kerjanya yang iri dengan posisi dan penghasilan Iradat (hingga Rp. 15 jutaan per bulan).

Konon, pada suatu hari, oknum yang iri itu memengaruhi dan membujuk Iradat untuk mengonsumsi suatu pil. “Informasinya, yang diberikan untuk dikonsumsi oleh adik saya itu semacam pil BK. Pil untuk anjing gila,” papar Suaidin.

Dugaan kuat pihak keluarga pun menunjukkan indikasi benar. Sebab, pascamengonsumsi pil itu dan dari situlah kondisi kejiwaan Iradat mulai tidak normal.

Dikabarkan, sekitar dua bulan dia linglung tanpa diketahui penyebabnya. Ingatannya pun mulai terganggu. Hal itulah yang membuat keluarga dan beberapa orang yang iba, mengantarkannya ke Terminal Pulo Gadung. Selanjutnya ke Dompu.

Sekian lama Iradat di Dompu, bukannya sembuh. Dari tahun ke tahun kondisinya bertambah parah. Tiap hari mengamuk, rumah dirusak dan perabot-perabot rumah tangga dihancurkan.

Suaidin bersama keluarga sempat berupaya mengobati adiknya ke Rumah Sakit Jiwa (RSJ) NTB di Selagalas, Kota Mataram. Tetapi gagal karena Iradat mengamuk sejadi-jadinya, saat hendak dibawa ke Mataram.

“Kita sempat berpikir untuk memasungnya. Tapi saya tidak tega, sehingga tidak jadi,” kenang Suaidin.

Semenjak Iradat gagal dibawa ke RSJ dan batal dipasung, keluarga melakukan pengobatan secara terus menerus ke RSUD Dompu dan Puskesmas-puskesmas.

Seiring dengan ikhtiar tersebut, keluarga juga senantiasa memanjatkan doa kepada Yang Maha Kuasa untuk kesembuhan Iradat. “Ibunda kami (Siti Hawa) bahkan selalu bangun shalat malam dan mendoakan khusus untuk kesembuhan Iradat,” urai Suaidin.

Rupanya, berbagai usaha itu mulai membuahkan hasil, doa didengar oleh Sang Pencipta. Beberapa tahun kemudian, Iradat mulai kurang mengamuk.

Iradat lebih tenang jika berada di luar rumah. Jalan-jalan dan beraktivitas di luar. Bagi pengunjung Taman Kota Dompu, wajah Iradat bukan asing. Tiap hari bertemu dengan Iradat yang selalu bersama gitar kecilnya.

Namun demikian, Suaidin dan sejumlah anggota keluarga lainnya hampir putus asa. Iradat menderita terlalu lama dan tak kunjung sembuh sebagaimana diharapkan.

Hingga pada suatu waktu, sebuah keajaiban pun menghampirinya. Apakah keajaiban itu? Bagaimanakah proses penyembuhannya? Oknum pimpinan sebuah instansi di Dompu tega “mengusir” Iradat yang sedang dipulihkan kejiwaannya. Mengapa bisa sekejam itu? Ikuti kupasannya pada tulisan selanjutnya. (bersambung)