Kerja untuk Pemulihan Kejiwaan, tak Digaji, Justru “Diusir” Oknum Kepala Kantor

Catatan :
Sarwon Al Khan, Dompu – NTB

Upaya pengobatan dan penyembuhan Iradawansyah Usman alias Iradat mulai membuahkan hasil. Sebagai bagian dari proses pemulihan kejiwaannya dan atas saran dokter ahli jiwa, Iradat dipekerjakan di salah satu instansi pemerintah di Kabupaten Dompu. Gajinya pun tidak bukan dari kantor itu, tapi dibayar pihak keluarga. Namun, seolah tanpa nurani dan perikemanusiaan, oknum pimpinan kantor itu justru “mengusir” (mengeluarkan) Iradat dari kantor tersebut. Sungguh kejam kesannya.

Kondisi kejiwaan Iradat mengalami kemajuan luar biasa. Saat Hari Raya Idul Fitri beberapa waktu lalu, dia ikut menunaikan Shalat Id. (ist/lakeynews.com)

SEKITAR 22-23 tahun sudah Iradat menderita gangguan kejiwaan. Berbagai upaya dilakukan pihak keluarga untuk kesembuhannya. Namun, hasilnya minim dan jauh dari harapan.

Hingga pada suatu hari di bulan Februari 2019 lalu, awal keberuntungan menghampiri. Saat itu, beberapa petugas Puskesmas Dompu Barat, Kabupaten Dompu mendatangi keluarga Iradat.

Mereka menyampaikan adanya program pengobatan dan penyembuhan penderita gangguan jiwa, seperti Iradat. Program tersebut kerja sama dengan Rumah Sakit Jiwa (RSJ) NTB di Mataram.

Mendengar itu, keluarga Iradat merasa senang sekali. Tanpa banyak kata, mereka langsung mengatakan setuju. Proses pengobatan Iradat pun dimulai.

Pola dan metode pengobatan yang dilakukan mudah, simpel dan sederhana. Keluarga cukup memasukkan obat yang diberikan petugas itu ke makanan dan minuman Iradat.

Baca juga: http://lakeynews.com/2019/07/15/kisah-pilu-iradawansyah-programer-handal-perusahaan-migas-amerika-asal-dompu-1/

Baru sekitar sebulan proses pengobatan berlangsung, kondisi kesehatan kejiwaan Iradat sudah menunjukkan kemajuan yang luar biasa dan menakjubkan.

Bahkan, pada suatu hari, Iradat tiba-tiba mengungkapkan keinginannya untuk kembali ke rumahnya di Kampung Polo, Kelurahan Kandai Dua. Rumah itu memang dihajatkan untuk tempat tinggal Iradat setelah (ketika) menikah nanti.

“Saya kaget, senang bercampur haru mendengar pengakuan dan keinginan adik saya itu. Walaupun akhirnya, saya tidak mengizinkannya,” kata salah satu abang Iradat, Drs. Suaidin Usman. Selama ini Suaidin sabar dan ikhlas mengurus adiknya yang mengalami ujian gangguan kejiwaan itu.

Proses penyembuhan tetap terus dilakukan. Seiring dengan kondisi kejiwaan Iradat yang menunjukkan tren membaik, dokter ahli jiwa merekomendasikan agar Iradat diberikan aktivitas. Seperti melakukan pekerjaan secara rutin di sebuat kantor. Itu harus dilakukan sebagai bagian dari proses pemulihan kejiwaan Iradat.

Atas dasar rekomendasi itulah, Suaidin kemudian berkomunikasi dengan pimpinan (kepala) salah satu instansi vertikal yang ada di Dompu. Bos kantor itu menerima Iradat untuk bekerja sebagai upaya pemulihan (terapi) kejiwaannya.

Akhirnya, sekitar bulan Mei, Iradat masuk kerja sebagai petugas pada pelayanan buku tamu, sambilan bersih-bersih di ruang tamu dan sekitarnya.

Apalagi selama bekerja di kantor itu, kondisi kesehatan kejiwaan Iradat menunjukkan kemajuan yang luar biasa. Jauh lebih baik dari sebelumnya.

Bicaranya mulai normal, melaksanakan shalat, mengaji dan menghafal lagi ayat-ayat pendek. Bahkan, saat Hari Raya Idul Fitri lalu, Iradat ikut menunaikan ibadah Shalat Id.

“Juga, sudah bisa mengendarai lagi sepeda motor. Ya, walaupun cuma keliling-keliling lapangan dan lingkungan sekitar tempat tinggal,” urai Suaidin.

Sayangnya, upaya pemulihan terhadap Iradat hanya berlangsung satu bulan lebih. Karena, awal Juli lalu, Iradat dikeluarkan oleh oknum pimpinan dari kantor itu.

“Alasan dia (kepala kantor itu, red) pada saya, karena sering dipertanyakan dan dikritisi oleh anak buahnya lantaran mempekerjakan orang sakit jiwa di kantor itu,” tutur Suaidin.

Hal tersebut, kontan saja membuat Suaidin merasa terpukul dan guncang. Karenanya, dengan penuh kecewa dan perasaan terluka, pria yang saat ini sebagai Korwas pada Kantor UPT Layanan Dikmen Kabupaten Dompu, langsung membonceng pulang adiknya.

“Saya sedih sekali dan merasa begitu terpukul,” tandas Suaidin yang ditemui Lakeynews.com di kediamannya, beberapa waktu lalu.

Apalagi di atas motor, Iradat sempat melontarkan pertanyaan pada Suaidin (dalam bahasa Bima-Dompu). “Kenapa saya dibawa pulang Dae Deo (panggilan akrab Suaidin Usman, red). Kan belum waktunya pulang. Nanti saya ditegur atau dimarahi oleh pimpinan,” cerita Suaidin dengan pandangan mata sembab.

Tidak berlebihan jika Suaidin kecewa bukan kepalang. Adiknya yang dalam proses pemulihan kejiwaannya justru dikeluarkan tanpa perikemanusiaan seperti itu. Padahal, Suaidin sangat berharap dengan bantuan dipekerjakan di kantor itu, kesehatan Iradat pulih total.

Menurutnya, kalau pimpinan instansi itu memberikan penjelasan bahwa Iradat bekerja di situ hanya untuk proses pemulihan kejiwaannya, Suaidin yakin tak ada yang keberatan.

Iradat hendak berangkat kerja sebelum “diusir” salah satu oknum kepala kantor yang ada di Kabupaten Dompu. (ist/lakeynews.com)

Tapi kenyataannya, kepala kantor itu (diprediksi) tidak pernah menjelaskan apa-apa pada anak buahnya atau pada siapa saja yang bertanya. “Malah dia jadikan pertanyaan-pertanyaan bawahannya sebagai alasan untuk mengeluarkan adik saya,” tegasnya.

Suadin juga mengaku mendengar informasi bahwa sejumlah pegawai dan pejabat di jajaran instansi tersebut, melontarkan sejumlah pertanyaan. Antara lain; “Kenapa orang gila bisa dipekerjakan di kantor ini? Apakah tidak ada lagi orang yang waras untuk bekerja di sini? Dan, beberapa pertanyaan sinis dan menyindir lainnya.”

Parahnya, ada juga yang sampai menganggap miring pada Suaidin. Mentang-mentang sebagai Korwas, seenaknya memasukan adiknya yang kurang waras untuk bekerja di sebuah kantor itu.

Baca juga: http://lakeynews.com/2019/07/16/kisah-pilu-iradawansyah-programer-handal-perusahaan-migas-amerika-asal-dompu-2/

Disamping itu, rumor yang berkembang dari beberapa oknum yang mempertanyakan dan mempersoalkan Iradat bekerja di situ, karena kuatir keluarga mereka yang lebih dulu kerja di sana akan dikeluarkan. “Itu, ibarat jauh langit dan bumi. Tidak ada niat kami yang seperti itu,” tegasnya.

Namun demikian, Suaidin menganggap semua pertanyaan, pandangan dan penilaian minor terhadap dirinya dan adik itu, karena ketidaktahuan saja. Sang pimpinan kantor itu, tidak pernah menjelaskannya.

“Wajar mereka bertanya atau menyoroti karena tidak tahu. Kalau saja kepala kantor tersebut memberitahukan alasan adik saya dipekerjakan di tempat itu, pasti mereka paham dan memakluminya,” tegasnya.

Suaidin sangat menyadari bahwa semua pertanyaan dan anggapan miring orang-orang tersebut karena ketidaktahuannya terhadap masalah sesungguhnya. Karena itulah, beberapa hari sebelum ditemui Lakeynews.com, dia menjelaskan dan mempermaklumkan kepada para pihak yang sempat mempersoalkan adiknya bekerja, termasuk oknum pimpinan kantor tersebut itu, di salah satu Grup WhatsApp.

Bagaimana tanggapan orang-orang itu?

“Ternyata benar perkirakan saya. Mereka tidak tahu masalah sebenarnya. Hampir semua yang berkomentar, menyampaikan keprihatinannya, rasa iba, dan lainnya. Ada juga yang menyarankan agar Iradat dimasukan kembali ke kantor itu. Tapi saya tidak mau lagi,” tegas Suaidin.

Berikut isi permakluman Suaidin di salah satu grup WA. Namun, atas kesepakatan dengan penulis, ada beberapa kata atau kalimat yang dipenggal. Termasuk menyangkut nama lembaga, nama orang dan jabatannya;

“ASSALAMU’ALAIKUM WR. WB. DIPERMAKLUMKAN KEPADA WARGA…., DLL, BAHWA ADIK SAYA IRADAWANSYAH YANG SAYA TITIP SEBAGAI OPAS DI….. BUKAN IRADAWANSYAH YANG SAKIT JIWA SEPERTI DULU. SAYA MINTA BANTUAN KEPALA….. DENGAN TUJUAN TERAPI BERDASARKAN REKOMENDASI dr. Ahli Jiwa agar diberikan pekerjaan atau aktivitas utk proses pemulihan. Karena berdasarkan hasil pengobatan dan Teraphy bahwa ybs sudah dinyatakan sembuh. Tinggal saran dokter itulah yg sy coba, bisa bekerja jadi OPAS agar pulih total 100 persen. Sy mohon agar semua pihak tdk langsung memvonis mempekerjakan orang gila di…… Sy juga tdk mungkin masukan kerja kalau bukan karena saran dokter. Dan tidak nungkin saya minta tolong kantor di Jawa, di Donggo Bima atau di Lombok. Tentu saya memilih yang saya anggap bisa bijak dan busa meluruskan anggapan orang bahwa bukan Iradat yg Gila seperti dulu. Ini proses pemulihan, tdk sy harapkan gaji. Biar tenaga lepas tujuan awal-awal. Karena itu saya gaji sendiri utk proses pemulihan ini. Dan tdk ada yg dirugikan, apalagi mengeluarkan staf yg ada karena Iradat masuk. KALAU ITU KEPUTUSAN YG PALING BIJAK UTK MENGELUARKAN, SEBAGAI…. SY ANGGAP ITU KEHENDAK…. YG PAKING BIJAK. SUDAH SAYA PULANGKAN. DUM SEMOGA ALLAH YANG MAHA MELIHAT, YG TDK BUTA, YANG TIDAK PERNAH LUPA. MENAUNGI KUTA SEMUA. AAMIIN.”

Lalu apa aktivitas Iradat setelah “diusir” salah satu oknum kepala kantor? Bagaimana rencana Suaidin dalam upaya segera memulihkan kejiwaan adiknya? Ikuti ulasan pada tulisan selanjutnya. (bersambung)