DOMPU, Lakeynews.com – Sebuah video tentang dugaan pemalakan terhadap turis di dalam lingkungan Bandara Muhammad Salahuddin Bima, viral di media sosial (Medsos) pada dua hari terakhir ini. Praktik premanisme itu diduga dilakukan oknum porter dan beberapa orang yang terkesan preman.

Diketahui, video berdurasi 37 menit tersebut pertama kali diunggah salah satu pelaku pariwisata Lakey, Kecamatan Hu’u, Kabupaten Dompu, Firman Syamsuddin melalui akun FB miliknya, Kamis (6/6/2019) sore, sekitar pukul 17.58 Wita. Firman juga merupakan guide selancar Lakey dan Bali.

Sejak diunggah Firman hingga Jumat (7/6/2019) sore, sekitar pukul 17.30 Wita, video pemalakan itu sudah ditonton (dilihat) hampir 100 ribu orang (nitizen) dan dibagi oleh 2000-an orang.

Belum diketahui persis, siapa yang mengambil dan kapan video itu diambil. Namun, mendadak viral setelah diunggah Firman.

TOLONG SEMPATKAN WAKTUNYA MENONTON. Beginilah cara Porter BANDARA di BIMA meminta jatah uang tanpa bekerja kepada turis/wisatawan LAKEY di DOMPU. Bahkan kita juga yang orang lokal diperlakukan seperti ini. Saya rasa ini sangat tidak nyaman..!!,” demikian status Firman menyertai video yang diunggahnya itu.

Dikonfirmasi Lakeynews.com pada Jumat (7/6/2019) siang, Firman mengaku, video tersebut didapat dari seorang tamu asing, wisatawan mancanegara (Wisman).

“Tamu asing yang bikin video. Belum tahu pasti kapan itu kejadiannya dan kapan dibikin atau diambil,” jelasnya tanpa menyebut negara asal Wisman yang mendokumentasikan kejadian tersebut.

Kejadian itu dianggap meresahkan terutama wisatawan, baik wisatawanmancanegara (Wisman) dan wisatawan domestik (Wisdom). Selain itu, kasus tersebut merusak citra daerah dan dunia pariwisata Bima dan Dompu, serta NTB pada umumnya.

“Hal serupa sering kita alamin di Bandara Sultan Muhammad Salahuddin Bima,” ungkap Firman. “Yang sering kena sasaran mereka (oknum pemalak di bandara, red), turis asing dan kita yang di (dari) Lakey,” sambungnya.

Meski sering mengalami dan menjadi korban premanisme ketika sampai di Bandara Bima, Firman mengaku tidak tidak bisa berbuat banyak. “Biasanya mengeluh saja. Tamu luar negeri juga sering ngeluh. (Tapi) apa mau dikata,” ulasnya dengan nada tanya.

Yang menjengkelkan, oknum-oknum itu menuntut pembayaran dari turis padahal jasa mereka tidak dipakai. Turis pun bereaksi, karena merasa membawa sendiri barang, tasnya. Itupun sudah membayar tapi tetap ditagih lagi.

“Saya membawa tas saya sendiri dan saya sudah membayar, kenapa masih meminta lagi?” kata turis itu berbahasa Inggris berkali-kali dalam video (setelah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia).

Aparat Terkait Didesak Bertindak Tegas

Menanggapi dugaan pemalakan oknum porter dan “preman” dalam video tersebut, beragam reaksi dengan berbagai komentar nitizen pun bermunculan. Warga asing pun ikut berkomentar.

Di antara mereka, ada yang mendesak para pihak dan aparat terkait segera mengambil tindakan tegas. Seperti pemerintah daerah, kepolisian, Pol PP, pihak bandara, DPRD, pemerhati pariwisata dan daerah, serta para pihak lainnya. Berbagai elemen masyarakat juga diharapkan berperan dalam meminimalisir hingga memerangi perbuatan tercela tersebut.

Ada pula yang menyoroti cara oknum-oknum dalam video itu dalan mencari uang, mencari makan, mencari nafkah untuk keluarga dengan cara tidak baik dan brutal, serta sederet pernyataan minor dan sinis lainnya.

Salah satunya datang dari akun Muhtar Muhtar; “Kami minta pihak kepolisian di bandara segera ditindak tegas ini orang byk laporan ini org suka bikin onar jangan bikin malu orang Bima dong …..”

Demikian juga akun Pua Fi; “Polres Bima Kabupaten, Polres Bima (Kota). Tolonglah.. Ngga akan maju pariwisata kalau dibuat begini orang yg datang…”

Akun Haerudin Bima pun menegaskan; “Harus diusut, merusak nama Bima, tdk nyaman bagi tamu.”

Namun ada pula yang mengingatkan Firman agar tidak menaikan di dinding FB-nya. “Aina tau aka wall arie, gak enak di-coment sama teman-teman bule 🙏 Kita bahas az aka group arie (Jangan dimasukan ke dinding adinda, gak enak dikomentari sama teman-teman bule 🙏 Kita bahas saja di grup adinda, red),” kata akun Muhamad Yusuf Saleh dalam bahasa Bima-Dompu campur Indonesia dan Inggris.

(Selengkapnya, komentar sejumlah nitizen yang dipilih dan dihimpun Lakeynews.com, baca di: (http://lakeynews.com/2019/06/07/pihak-bandara-bima-dan-aparat-terkait-didesak-tindak-tegas-pemalak-turis/ ) (won)