
Semua upaya itu dilakukan, antara lain, untuk mempertahankan, melestarikan dan mengembangkan budaya daerah kita yang terkikis dan hampir punah oleh budaya-budaya asing.” Abdul Muis, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Dompu
BEBERAPA kegiatan budaya sebagai rangkaian peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-210 Kabupaten Dompu yang puncaknya 11 April 2025, akan ditampilkan. Diantaranya, Upacara Lu’u ’Daha, Pawai Budaya, dan Pentas atau Pagelaran Budaya.
“Semua upaya itu dilakukan, antara lain, untuk mempertahankan, melestarikan dan mengembangkan budaya daerah kita yang terkikis dan hampir punah oleh budaya-budaya asing,” kata Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Dompu Abdul Muis pada Lakeynews.com.
Ditemui di ruang kerjanya pada Rabu (9/4/2025), pria yang akrab disapa Pak Daeng itu didampingi Sekretaris Dinas Zainal Afrodi (Ferry Afrodi) dan Plt. Kabid Kebudayaan yang juga Pamong Budaya Dedi Arsyik (Dedi Kandai).
Upacara Lu’u ’Daha
Upacara Lu’u Daha ditampilkan sebelum Upacara Peringatan HUT ke-210 Kabupaten Dompu, Jumat (11/4/2025) pagi tadi. Pentingnya kegiatan itu digelar, juga sebagai bahan edukasi kepada generasi penerus dan masyarakat Dompu umumnya.
“Ini representasi apresiasi pemerintah daerah dan masyarakat kepada Bupati (Bambang Firdaus) dan Wakil Bupati (Syirajuddin),” jelas Muis.
Hal lainnya, ini kesempatan dan ruang bagi pemerintah daerah untuk selalu dan terus mengedukasi masyarakat agar selalu bangga dengan identitas diri sebagai Dou Dompu (Orang Dompu).
“Kita harus bangga bahwa kita punya identitas diri,” tegas Muis.
Muis yang diperkuat Dedi Arsyik kemudian menguraikan beberapa hal terkait Upacara Lu’u ’Daha.
Lu’u artinya masuk, ‘daha artinya pasukan. Lu’u ’Daha berarti prosesi masuknya seluruh pasukan kesultanan setelah melakukan parade. Dimulai dari kediaman Rato Renda (Menteri Pertahanan Keamanan) menuju halaman Istana.
Kegiatan itu dirangkaikan dengan Apel Paripurna yang diikuti seluruh aparat penyelenggara pemerintahan (Sara’) – Hadat dan Hukum, baik dari pusat hingga pejabat wilayah dan seluruh pasukan.
Upacara Lu’u ’Daha yang terlaksana hari ini adalah serangkaian dengan perayaan HUT ke-210 Kabupaten Dompu 2025.
Berikut elemen-elemen dalam barisan yang mengiringi prosesi Upacara Lu’u ’Daha:
– Barisan Tambur Lawata Kampo milik Istana Dompu, sebagai penanda upacara dimulai.
– Pasukan gendang, silu (nafiri) dan gong;
– Barisan Dou Suba adalah Pasukan Infanteri Kesulatan Dompu yang dipimpin oleh Rato Bumi Suba;
– Barisan Pasukan Gerak Cepat (Lamonca), yang terdiri dari Dou Suba;
– Barisan Pejabat Wilayah Jeneli (Camat), Kepala Desa/Lurah (Gelarang) dan Anangguru;
– Barisan Sarian dan pejabat lainnya; dan
– Barisan Juru Paju.
“Juru Paju merupakan pemegang payung yang terbuat dari dau lontar atau dalam bahasa daerah Dompu Paju Ro’o Ta’a yang ditutup dengan kain warna kuning emas dan Anangguru Baju dengan memakai baju besi,” jelas Muis.
Pada prosesi Upacara Lu’u ’Daha ini disuguhkan, Makka disertai Nggahi Dana dan Makka, Kanja, Toja, dan Sere.
Makka, tarian pejabat hadat dan hukum yang dipersembahkan di hadapan raja sebagai ungkapan rasa setia dalam mengabdikan diri kepada raja (Nggahi Dana dan Makka, red).
Kanja, tarian yang diperagakan di depan raja oleh Rato Renda atau Rato Suba saat upacara Lu’u ’Daha.
Toja, tarian yang diperagakan pada saat Upacara Lu’u ’Daha, Tuha ra Lanti, dan ketika menyambut tamu-tamu agung di istana.
Sere, sebuah tarian untuk mengelu-elukan kebesaran raja dan tamu agung. “Jadi, pada momen HUT ke-210 Kabupaten Dompu ini, Bupati dan Wakil Bupati diperlakukan seperti Raja/Sultan sehari,” papar Muis.
Nggahi Dana dan Makka
Nggahi Dana dan Makka adalah ungkapan ikrar sumpah setia yang berisikan rangkaian kalimat yang mengandung makna tertentu. Menurut Muis, itu dimaksudkan sebagai ungkapan rasa kesetiaan dan pengabdian yang hakiki.
Berikut selengkapnya bunyi Nggahi Dana dan Makka;
“Na wa’udu sama ro sabua kai mafaka
Samena na dou sapaju dana ‘dompu
Na wa’udu hiri ra dampa
Samena na sara’
Samena ‘daha ra ‘dali
Tampu’u ainai na ake
Ita Ruma dinemba
Mada doho diada”
(ayi/bersambung)

2 thoughts on “Lestarikan Budaya yang Terkikis, HUT ke-210 Dompu Suguhkan Lu’u ’Daha, Pawai dan Pentas Budaya (1)”