
Lestarikan Budaya yang Terkikis, HUT ke-210 Dompu Suguhkan Lu’u ’Daha, Pawai dan Pentas Budaya (2)
BANYAK hal mengagumkan dari event Pawai Budaya memeriahkan HUT ke-210 Kabupaten Dompu yang digawangi Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar), Sabtu (12/4/2025) sore.
Selain berlangsung semarak diikuti sekitar 20-an ribu orang dari berbagai elemen dan lapisan masyarakat seantero Bumi Nggahi Rawi Pahu, juga ada yang menghentakan.
Pada momen tersebut, Bupati Bambang Firdaus (BBF) seolah secara tidak langsung membungkam cibiran dan nyinyiran beberapa pihak belakangan ini.
Rezim BBF-DJ (Bupati Bambang Firdaus dan Wakil Bupati Syirajuddin) dinilai terkesan enggan dan kurang respek terhadap Muna Pa’a yang sudah menjadi Warisan Budaya tak Benda (WBtB) Kabupaten Dompu sejak 2023.
Jawaban tersebut ditunjukkan BBF, selain melalui pernyataan juga dalam sikap dan tindakan. Bagaimana bentuknya?

20-an Ribu Orang Tumpah Ruah di Jalan
Pawai Budaya dalam rangka HUT Dompu 2025 mengusung tema “Muna Pa’a Mantoi, Ndai Dompu Mantau”, dengan tagline “Bangga Memakai Muna Pa’a”.
Pawai mengambil start di Lapangan Karijawa dan finish di depan Dinas Dukcapil. Dilepas dan diterima Bupati bersama Forkopimda dan sejumlah pejabat terkait.
Menurut Kadisbudpar Kabupaten Dompu Abdul Muis (pimpinan organisasi perangkat daerah pengampu kegiatan kebudayaan ini), peserta yang mengikuti Pawai Budaya kali ini diperkirakan 20-an ribu orang.
“Kelihatannya melebihi estimasi kita. Ya, 20-an ribu orang, ada,” kata Pak Daeng, sapaan akrab Abdul Muis, pada Lakeynews.com di sela-sela pawai.
Baca juga: Lestarikan Budaya yang Terkikis, HUT ke-210 Dompu Suguhkan Lu’u ’Daha, Pawai dan Pentas Budaya (1)
Mereka berasal dari semua satuan kerja lingkup Pemkab Dompu (dari Sekretariat Daerah dan OPD-OPD), pemerintah kecamatan, desa/kelurahan dan elemen masyarakat dari delapan kecamatan. Dunia pendidikan di bawah Dinas Dikpora dari tiga kecamatan; Dompu, Woja, dan Pajo.
Menariknya, Bupati/istri, Wabup/istri, Ketua DPRD/istri dan anggota, Kapolres/istri, Dandim 1614/istri, Sekda/istri bersama unsur Forkopimda lainnya dan para pimpinan OPD ambil bagian dalam kegiatan jalan kaki itu. Berikut para Camat, Kades dan Lurah.
Tampak di sana rombongan Pakaian Adat Dompu di bawah Dinas Budpar, Majelis Adat Dana Dompu, serta Paguyuban-paguyuban; Pulau Nisa Kawangko, paguyuban Donggo, Flobamora, Minang, Jawa, Makassar, Sasak-Lombok, Pengurus Daerah Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (PD AMAN) dan lainnya.
Ada juga Dinas Instansi Vertikal, PKK /GOW/DWP, serta BUMN/Swasta, Komunitas Guru Penggerak, Komunitas Sepatu Roda, dan Organisasi Kepemudaan, serta sekolah-sekolah dan sejumlah Drum Band SD dari sejumlah kecamatan.
Para peserta tumpah ruah di jalan. Sepanjang sisi kiri-kanan jalan yang mereka lalui dipadati warga yang menyaksikan Pawai Budaya yang kadang hanya sekali setahun dilaksanakan pemerintah daerah tersebut.

“Muna Pa’a Harus Kita Lestarikan, Dompu Miniatur Indonesia”
Cibiran beberapa elemen yang mengesankan rezim BBF-DJ kurang respek terhadap Muna Pa’a belakangan ini memang belum ditanggapi secara langsung, baik oleh Bupati Bambang maupun Wabup Syirajuddin.
Namun, ketika hadir, melepas peserta dan ambil bagian dalam Pawai Budaya, sore tadi, secara tidak langsung menjawab dan membungkam cibiran tersebut. Baik secara tindakan maupun melalui pernyataan.
Secara tindakan, BBF-DJ bersama para pejabat lainnya mengenakan Muna Pa’a, kain kebanggaan Dou Dompu kini. BBF mengenakan Muna Pa’a berwarna orange, dipadu celana hitam. Sedangkan DJ mengenakan Muna Pa’a berwarna hijau, dengan celana gelap.
Ketua DPRD Muttakun juga tidak kalah. Dia tampil dengan kain Muna Pa’a corak kebanggaannya.
Sementara secara pernyataan, BBF melontarkan saat memberikan sambutan, sesaat sebelum melepas peserta pawai.
“Muna Pa’a ini warisan budaya kita. Karus tetap dan terus kita lestarikan, pertahankan, serta kembangan. Ini harus terus diwariskan kepada generasi kita,” tegas BBF disambut tepuk tangan meriah peserta.
Karena itu, lanjutnya, kegiatan Pawai Budaya seperti ini perlu terus diadakan. Selain melestarikan warisan budaya, juga wahana untuk kita memperkenalkan kepada dunia luar tentang ciri, kekhasan budaya, dan jati diri Dompu.
Dengan demikian, kedepan diharapkan tidak hanya dikenal di kalangan lokal Dompu, tapi juga tingkat nasional bahkan hingga mancanegara.
“Saya harapkan dan mengajak kita semua untuk senantiasa menggaungkan dan mempromosikan kebudayaan kita. Sehingga dunia luar mengenal, inilah Dompu dengan keasliannya,” tandasnya.
Yang tidak kalah pentingnya, kegiatan seperti ini merupakan bagian dari silaturahmi semua elemen yang ada di Kabupaten Dompu. Terlebih di daerah ini memiliki beragam paguyuban dari berbagai daerah di seantero nusantara, dengan adat dan budayanya masing-masing. “Semuanya harus kita hargai dan hormati,” imbuhnya.
BBF lalu menyebut beberapa diantaranya. Ada dari Minang – Sumatera, Sasak – Lombok, Sumbawa, Bali, Jawa, Madura, Sulawesi, paguyuban Mbojo, paguyuban Donggo, dan banyak lagi yang lainnya.
“Ini luar biasa. Semuanya bertemu padu dalam wadah ke-Bhinneka-an. Inilah sesungguhnya persatuan dan kesatuan itu. Harus terus kita jaga, pelihara, dan junjung tinggi,” pintanya.
Sehubungan itulah, Bupati BBF mengakui, Pawai Budaya sengaja pihaknya laksanakan untuk sekaligus memberikan kesempatan dan ruang bagi semua etnis yang hidup di Bumi Nggahi Rawi Pahu menunjukkan kreasinya.
Pemkab Dompu memberi ruang kepada mereka semua untuk menampilkan dan menggelar budayanya masing-masing. Dengan demikian, makin tampak bahwa Dompu kaya akan budaya. “Dompu miniaturnya Indonesia,” papar BBF bangga.

Pak Daeng: Di Dunia Ini, Muna Pa’a sebagai WBtB Hanya Milik Dompu
Ditemui terpisah, Kadisbudpar Abdul Muis memperkuat penyampaian Bupati BBF. Lelaki yang akrab dipanggil Pak Daeng ini kembali menegaskan, Muna Pa’a sebagai WBtB yang telah ditetapkan melalui Keputusan Mendikbudristek Tahun 2023.
“Di Dunia ini, Muna Pa’a sebagai WBtB hanya milik Dompu. Kita harus bangga. Kita harus tetap memelihara dan mengembangkannya,” tandasnya.
Bagian dari semangat itulah, lanjut Pak Daeng, Muna Pa’a digaungkan pada acara-acara seperti Pawai Budaya ini. “Sehingga pada Pawai Budaya tahun ini kita angkat tema: Muna Pa’a Mantoi, Ndai Dompu Mantau, dengan tagline: Bangga Memakai Muna Pa’a,” sambungnya.
Para ASN, para pejabat, aparatur pemerintah dan masyarakat juga diharapkan menggaungkan dan membudayakan penggunaan pakaian ini di acara-acara tertentu. Dengan demikian, Muna Pa’a akan menjadi komoditi UMKM yang terus dikembangkan, sehingga membawa dampak ekonomi yang luar biasa.
Pak Daeng lalu mencontohkan dampak ekonomi dimaksud. Kalau rata-rata orang memakai kain Muna Pa’a, maka akan bergairahlah para pengrajin Muna Pa’a ini. Ekonomi mereka meningkat.
“Dengan peningkatan ekonomi yang signifikan, terangkatlah derajat ekonomi mereka. Para penenun atau pengrajin Muna Pa’a, para penjahit, UMKM pengelola Muna Pa’a akan makin berkembang,” urainya.
Terkait pemakaian Muna Pa’a pada kegiatan Pawai Budaya, selain pakaian adat Dompu dan adat nusantara, Pak Daeng menjelaskan efek positifnya.
Kata Pak Daeng yang saat itu didampingi Plt Kabid Kebudayaan Dedi Arsyik, “ciri khas kita orang Dompu jika menggunakan Muna Pa’a.”
“Membawa Dompu ke manapun. Ketika orang melihat orang memakai Muna Pa’a, yang terlintas di benak dan pikirannya bahwa itu (Muna Pa’a) punyanya Dompu,” sambungnya.
Dalam upaya membumikan dan membudayakan pemakaian Muna Pa’a, menurut dia, justeru harus dimulai dari orang Dompu sendiri. Terutama oleh pemerintah daerah dan masyarakat. Sehingga yang tercipta kemudian, “kita bangga menggunakan Muna Pa’a sebagai identitas budaya sekaligus identitas Kabupaten Dompu.”
Yang tidak kalah pentingnya dari digelarnya Pawai Budaya ini adalah nilai-nilai harmoni. Kegiatan ini diikuti oleh berbagai elemen yang ada di Kabupaten Dompu. “Ini menunjukkan dan mencontohkan kepada masyarakat adanya kebersamaan,” cetusnya.
Ada interaksi antarelemen yang hidup di Dompu. Bersama-sama dan melebur jadi satu dalam bingkai Silaturahmi Budaya. Orang-orang yang berasal dari manapun yang hidup di Dompu merasa memiliki Dompu.
Semangat ini dirangkai dan dibungkus dalam “Harmoni Dou La’bo Dana Menuju Dompu Maju”. “Bersama Menuju Dompu Maju,” tutur Pak Daeng.
(won/bersambung)

One thought on “Pawai Budaya Dompu Semarak, Bupati BBF Bungkam Cibiran tak Respek Muna Pa’a”