
HARI itu, Senin (20/6). Hari pertama Brigjen TNI Lalu Rudy Irham Srigede, ST, M.Si, mantan Komandan Korem (Danrem) 162/Wira Bhakti (162/WB) beraktivitas tanpa pakaian dinas.
Itu setelah menyerahkan jabatan Danrem kepada Kolonel Inf Sudarwo Aris Nurcahyo, S.Sos, MM pada Kamis (16/6), di Lapangan Niti Mandala Renon, Denpasar, Bali.
Jabatan tersebut dipegang pria yang akrab disapa Miq Rudy enam bulan kurang tujuh hari. Atau, lima bulan 23 hari.
Bagaimana rasanya setelah melepas kedinasan dan pensiun? Apa saja aktivitasnya, terutama sepanjang hari pertama tidak berpakaian dinas?
Berikut rangkuman hasil perbincangan Wartawan Lakeynews.com dengan Miq Rudy di kediamannya, Jalan Panji Tilar Ampenan, Kota Mataram.
Saat itu, sudah menunjukkan pukul 22.07 Wita. Waktu yang sedianya orang mulai istirahat. Namun, kami baru memulai pertemuan dan berbincang-bincang.
Semula pertemuan ini direncanakan berlangsung pada hari Sabtu atau Minggu pekan lalu. Namun, karena kesibukan Miq Rudy pada momen akhir jabatannya, maka, secara lisan disepakati Senin malam. Jamnya tentatif, tidak ditentukan persisnya.
Pertemuan akhirnya terjadi sesuai rencana. Berdua di ruang belakang. Karena cuma berdua, agar wajah kami sama-sama tercover oleh kamera ponsel, maka terpaksa minta izin sangat jenderal untuk selfie.

Hanya ada satu anggota (ajudan) yang sempat menyediakan kami masing-masing segelas teh manis diawal pertemuan.
Miq Rudy masih energik. Meski tampak sedikit kelelahan di raut wajahnya. Malam itu mengenakan celana jeans dipadu kaos berkerah bergaris-garis horizontal.
Banyak hal yang kami bicarakan. Dari situasi Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) hingga nasional. Dari masa lalu hingga agenda daerah/negara sekian tahun kedepan.
Hampir semua bidang dan sektor didiskusikan dalam pertemuan yang berlangsung hingga pukul 24.11 Wita itu.
“Saya merasa biasa-biasa saja. Belum ada yang terasa berubah,” kata Miq Rudy, membuka jawaban atas berbagai pertanyaan yang saya ajukan.
Biasa-biasa saja. Rasanya masih segar, seolah masih kerja (dinas). Usia cepat berjalan. Ternyata sudah pensiun.
Yang membuat kami tertawa lepas di malam makin larut, ketika Miq Rudy menceritakan aktivitasnya setelah bangun tidur pagi hari.
Seperti biasa, sebagai umat muslim, bangun tidur, Miq Rudy salat Subuh. Kemudian melanjutkan aktivitas dan rutinitasnya.
Usai salat Subuh, biasanya ambil ponsel, buat laporan ke Pangdam IX/Udayana. Tiap hari. Maksimal jam enam pagi, laporan sudah dikirim.
“Saya laporan ke Pangdam tiap hari, dua kali. Maksimal jam enam pagi dan jam enam sore,” tuturnya.
Lucunya, pada pagi Senin itu, usai salat Subuh, Miq Rudy ambil HP dan hendak membuat laporan. Kegiatan yang menjadi kebiasaannya setengah tahun terakhir.
“Setelah pegang HP baru saya sadar, ternyata tidak lagi membuat laporan,” ujarnya sembari tertawa.
Mau membuat laporan, tidak lagi. Mau tidur lagi, tidak terbiasa. Pekerjaan lain juga tidak ada.
Dari pada bingung, Miq Rudy lepas HP di tangan lalu ganti pakaian. Kemudian menguras dan membersihkan kolam ikan di belakang rumahnya. Tidak jauh dari tempat kami duduk.
“Saya bersihkan sampai sekitar jam sembilan (pagi),” sambung Putra kelahiran NTB itu.
Setelah mandi, ganti pakaian dan sarapan, Miq Rudy bersama istri dan ibunda serta tantenya meluncur ke Lombok Tengah dan lanjut ke Lombok Timur. Sopir sendiri. Pun tanpa ajudan.
Baca juga:
- 21 Menit dengan Lalu Rudy, Putra NTB Pertama jadi Jenderal TNI AD
- Brigjen Rudy Pensiun, Kolonel Sudarwo Danrem “Baru” 162/WB
Sesungguhnya Miq Rudy masih berhak menggunakan sopir dan ajudan dari kesatuannya hingga 30 Juni ini. Sebab, baru benar-benar melepas semuanya dan masuk pensiun, 1 Juli depan.
Miq Rudy mengaku, dari dulu memang suka membawa sendiri kendaraan. Berjalan tanpa sopir dan ajudan. Namun, karena protokoler dinas, dia harus taati.
“Sekarang baru saya rasakan lagi. Tadi saya puas-puasin, jalan bawa mobil sendiri, keliling dengan istri dan ibu,” sambungnya.
Ada agenda apa ke Lombok Tengah?
Ke Lombok Tengah meninjau sebuah masjid di Kota Praya. Namanya Masjid An-Nashry. Masjid itu merupakan nazar dari ayahanda Miq Rudy. “Karena ayah meninggal dunia, akhirnya dibangun oleh ibunda saya,” jelasnya.

Ukurannya cukup luas. 20 x 30 meter. Berlantai dua. Pembangunannya belum selesai. Belum pakai keramik. Saat ini sedang dibuatkan tempat wudhu untuk jamaah perempuan. “Itulah yang saya cek tadi,” jelasnya.
Lalu ke Lombok Timur?
Lebih kurang dua minggu sebelum masa jabatan sebagai Danrem berakhir, Miq Rudy pernah touring dengan menggunakan sepeda motor. Keliling Lombok.
Sampai di Pantai Maik Anyir, Ijobalit, terlihat ramai sekali. Ratusan orang berkunjung ke sana.
Di sudut lain, Miq Rudy melihat di sana ada musala kecil. Dia mengajak Dandim Lombok Timur untuk gotong royong memperbaiki tempat ibadah itu.
Miq Rudy ingin musala itu dibenahi. Atapnya dibongkar dan diperbaiki. Lantainya dipasang keramik. “Kebetulan saya punya keramik,” paparnya.
Bupati Lombok Timur juga ikut nyumbang. Pekerjaannya dilakukan anggota Kodim setempat bersama masyarakat di sana.
Musala itu sudah dibongkar dan mulai dikerjakan. Ukurannya juga sudah diperlebar. Awalnya, 3 x 4 meter. Sekarang 7 x 10 meter.
Untuk tempat imam, disiapkan dua meter. Alasan, siapa tahu ke depan musala itu jadi tempat Jumatan. Ruang dua meter tersebut bisa dibagi dua. Setengah untuk khotbah, setengah lagi untuk imam.
“Nah, saya ke sana tadi untuk cek itu,” jelas Miq RudyRudy seraya mengatakan, air di sana bagus, jernih.
Dari sana, Miq Rudy balik ke Mataram. Namun, sebelum pulang, mampir ke rumahnya kakeknya. Sekitar lima kilometer dari lokasi musala.
“Saya salat Magrib dulu di situ, baru ke sini (rumah di Jalan Panji Tilar, red),” tuturnya.
Setelah ini, ke mana Jenderal Rudy melangkah kaki selanjutnya? Akankah terjun ke dunia politik, mengikuti jejak sejumlah seniornya? (sarwon al khan/bersambung)

One thought on “Brigjen Rudy Setelah Pensiun (1); Bangun Tidur Mau Laporan Pangdam, Baru Sadar saat Pegang HP”