
Menjelang Festival Tambora 2022
BRANDING Festival Tambora 2022 sedikit mengalami penyesuaian. Dari “Tambora Menyapa Dunia (TMD)” menjadi “Dunia Menyapa Tambora (DMT)”.
Tambora menyapa berbagai negara di belahan dunia dengan ledakan yang maha dahsyat pada tahun 1815. sejumlah benua disapunya kala itu. Duniapun menjadi mengetahui dan mengenalnya.
Letusan Gunung Tambora kali pertama diperingati pada tahun 2014. Genap 200 tahun setelah gunung merapi ini meletus. Peringatannya bersamaan dengan momen perayaan Hari Jadi ke-200 Tahun Kabupaten Dompu.
Baca juga: Seperti Apa Logo dan Tema Festival Tambora 2022? Ini Uraian Pak Daeng
Hingga 2021 lalu, labelnya masih Tambora Menyapa Dunia. Walaupun dibungkus dengan nama event Festival Tambora. Namun pada Festival Tambora tahun ini (2022), kegiatan yang juga menyemarakkan Hari Jadi ke 207 Tahun Kabupaten Dompu dilabeli Dunia Menyapa Tambora.
Bagi sebagian orang, hal itu sederhana. Tetap bagi sebagian lagi menimbulkan tanya.
Semula sempat terlintas di benak bahwa DMT itu kemungkinan keliru penulisan. Belakangan diketahui ternyata bukan kekeliruan. Tapi memang sudah diputuskan dengan alasan dan pertimbangan.
Apa alasan dan pertimbangannya, sehingga brand TMD diganti dengan DMT?
“Alasan menjadi Dunia Menyapa Tambora, salah satunya, memositifkan energi negatif dalam membangun Dompu,” kata Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Dompu Ir. Abdul Muis, M.Si.
Ditemui Lakeynews.com di kantornya, Selasa (24/), pria yang akrab disapa Pak Daeng itu menjelaskan, pada tahun 1815, Tambora menyapa dan menyapu dunia dengan letusan dahsyatnya.
Tetapi kalau Tambora menyapu dunia dikembangkan, itu konotasinya negatif. Tidak ada nilai positif atau nilai tambahnya bagi daerah maupun masyarakat Dompu. Malah yang timbul adalah kesan dan energi negatif.
Untuk memositifkan energi negatif saat itu, dicarilah kepadanan kata yang tepat. Ditemukan kata “menyapa”, menggantikan kata “menyapu”. “Jadilah Tambora Menyapa Dunia. Kata ‘menyapa’ mengandung konotasi yang positif,” urai Pak Daeng.
Konotasi dan energi positif lainnya, lanjut Pak Daeng, Tambora, Dompu, mengenalkan diri ke dunia. Sehingga istilahnya Tambora menyapa dunia dengan segala keunikan dan daya tariknya.
Sekarang (2022), sudah berlalu tujuh tahun letusan Tambora diperingati dengan brand Tambora Menyapa Dunia. Pemkab Dompu bersama berbagai stakeholder terkait, dari kabupaten, provinsi hingga pusat, telah berbuat banyak.
Hari ini, Dompu harus menyiapkan diri, mempersiapkan sarana prasarana di sana. Sehingga, sesuai energi positif yang dibangun, bukan lagi Tambora yang menyapa dunia tapi dunia yang menyapa Tambora.
Kalau dunia yang menyapa Tambora, dunia sudah mengetahui pasti. Karena sudah tahu maka dunia yang akan ke Dompu, mengunjungi Tambora.
“Sehingga bahasanya di sana, dalam tema kegiatan, ’Mewujudkan Destinasi Wisata Pegunungan yang Mendunia’,” jelas Pak Daeng.
–
Lima Menteri Akan ke Doroncanga
Pada sisi lain Pak Daeng mengungkapkan, lima menteri direncanakan hadir pada acara puncak Festival Tambora 2022, “Dunia Menyapa Tambora 207” di Sabana Doroncanga, Kecamatan Pekat, 4-5 Juni depan.
Kelima menteri tersebut; Menteri BPN/Kepala Bappenas, Menko Kemaritiman dan Investasi (Marves), Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK), serta Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf).
Jika para menteri itu benar-benar hadir, bakal menjadi hal yang luar biasa. Mengapa mereka harus hadir semua?
“Karena beliau-beliau itulah yang memiliki kewenangan yang bersinggungan langsung dengan pengembangan Tambora. Lewat tangan beliau-beliau itulah terwujudnya Dunia Menyapa Tambora,” jawab Pak Daeng.
Pemerintah kabupaten, lanjutnya, merancang dan menyampaikan informasi tentang Dompu. Tidak hanya soal Tambora tapi juga di luar itu. “Sehingga, para menteri itu bisa membantu Dompu. Selain menyangkut pengembangan Tambora, juga di luar urusan Tambora,” tandasnya.
Dia mencontohkan peran Menteri BPN/Kepala Bappenas sebagai induk perencanaan secara nasional. Kemudian, Menko Marves diharapkan memfasilitasi investor-investor yang mau menanamkan dan mengembangkan investasinya di Dompu.
Demikian pula Menteri ESDM. Tambora adalah gunung yang pernah meletus, mempunyai kandungan energi dan sumber daya mineral.
“Menteri ESDM juga berbicara tentang geologi yang ada di sana. Bagaimana hal-hal itu bisa dikembangkan. Apakah mengarah ke pariwisata, atau apapun. Itu yang kita harapkan,” jelasnya.
Namun, starter pointnya ada di Pariwisata. Bagaimana muaranya mengarah ke Pariwisata dan memiliki manfaat secara langsung ke daerah Dompu.
Menteri LHK juga begitu. Bagaimana dilakukan konservasi. Di satu sisi, hutan tetap bagus. Tapi di sisi lain, dalam kawasan hutan bisa dimanfaatkan untuk pengembangan pariwisata.
“Dengan kolaborasi ini, kedepan Dompu juga mendapatkan hasil (manfaat) dari rencana dan target kita. Yakni tumbuh dan berkembangnya pariwisata,” tandas Pak Daeng.
Endingnya, dari Kemen-Parekraf. Yaitu tercipta atau terbangunnya industri pariwisata. Industri inilah yang membuat masyarakat ikut menjadi bagian di dalamnya. Sehingga tumbuhlah UMKM dan lainnya.
Ada atraksi budaya, sebut Pak Daeng, orang (masyarakat) bisa mengambil bagian di dalam kegiatan itu. Ada atraksi motor offroad, masyarakat juga bisa terlibat. Ketika di sana banyak orang, komponen masyarakat bisa menyiapkan makanan-minuman.
“Dampak-dampak ikutan inilah yang diharapkan oleh pemerintah daerah, lebih khusus lagi Disbudpar,” tambahnya.
Disamping menjaga Geopark Tambora, Gunung Tambora tetap lestari, juga ada manfaat lain. Manfaat ekonomi yang dirasakan secara langsung oleh masyarakat. “Motor penggeraknya ada di Pariwisata (Budpar, red),” tegas Pak Daeng.
–
Rancang “Africa Van Dompu”
Lebih jauh Pak Daeng memaparkan hal-hal yang sedang dan akan dirancang Pemkab Dompu melalui Disbudpar. Pemerintahan dibawa kepemimpinan pasangan Bupati Kader Jaelani dan Wakil Bupati H. Syahrul Parsan akan mengembangkan destinasi baru pariwisata.
Apa saja destinasi baru dimaksud?
“Safari di Sabana Doroncanga (Desa Soritatanga, Kecamatan Pekat). Atau, di-branding Africa Van Dompu,” jawab Pak Daeng sembari melempar senyum.
Harapannya, bagaimana orang-orang yang datang (pengunjung) melihat gunung-gunung di sana, sekitar Sabana Doroncanga dan keunikannya menggunakan mobil offroad.
Ketika melihat suasana itu dengan mobil bakal terbuka, orang juga merasakan sensasi lain. “Bagaimana orang berkesan seperti sedang safari di Afrika,” urainya. (sarwon al khan)

2 thoughts on “Mengapa ”Dunia Menyapa Tambora”? Pak Daeng: Energi Positif Membangun Dompu”