Mantan Wali Kota Bima H.M. Qurais H. Abidin di teras rumahnya. Tidak ada yang berubah darinya. Masih seperti Abah Qurais yang kami kenal dulu. (sarwon/lakeynews.com)

Catatan:

Sarwon Al Khan, Kota Bima

TEGAS, keras, disiplin dan berwibawa. Kadang tak kenal kompromi. Namun, baik hati. Bawaannya santai meski sedang membahas hal-hal serius.

Itulah kepribadian dan karakter H.M. Qurais H. Abidin yang saya kenal. Mantan Wali Kota Bima yang memiliki hobi pada olahraga sepak bola.

Sabtu (23/4) malam lalu terbersit di benak saya untuk menemuinya. Kebetulan saat itu sedang berada di Kota Bima. Persisnya, beberapa menit setelah berbincang-bincang dengan teman-teman seprofesi di Sekretariat Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Perwakilan Bima.

Di sana ada Ketua PWI Perwakilan Bima yang juga Pemred Bimanews.id Gunawan, Pemred Aktuaita.info Yudha beserta sejumlah pengurus dan anggota PWI lainnya.

Namun, saat itu, jarum jam telah menunjuk angka 23.10 Wita. Dirasa sangat tidak memungkinkan untuk mengeksekusi hasrat bertemu sahabat era ‘90-an itu.

Meneleponnya pun tidak mungkin. Malam memang sudah begitu larut. Walaupun beberapa teman mengatakan, bahwa pada jam sekian pria yang dulu akrab disapa Abah Qurais itu terkadang belum tidur (istirahat).

Sehingga, sekadar peredam “dahaga” rindu, tanpa beban saya mengirim pesan singkat melalui aplikasi WhatsAPP-nya. Inti pesan yang terkirim pukul 23.12 Wita itu, meminta waktu dan kesediaannya untuk bertemu keesokan hari, Minggu (24/4). Jam masih tentatif.

Benar juga kata teman-teman wartawan di atas. Lewat tengah malam Abah Qurais membalas pesan. “Wa’alaikumussalam Wr. Wb. Iya Adik Sarwon,” jawabnya pada pesan yang masuk dan diterima Minggu, pukul 00.21 Wita.

Sayangnya, karena satu dan lain hal, rencana tersebut tertunda. Senin (25/4) pukul 09.40 Wita, saya kembali mengirim pesan untuk hal yang sama. Hanya beberapa menit setelah pesan terkirim, Abah Qurais menjawab. “Aji tunggu (jam) 10.30,” jawabnya.

“Sebelum menerima tamu, saya kan harus bersih-bersih dulu. Ya, harus rapi dulu dong. Biar fresh,” katanya berkelakar ketika kami ngobrol di teras depan rumahnya.

Rupanya pada pukul 10.20 Wita, Abah Qurais sempat keluar, menunggu sambil duduk di teras. “Karena Anda belum datang, saya masuk lagi,” ujarnya.

Sekitar dua menit sebelum pukul 10.30, saya tiba depan gerbang rumah bercat putih itu. Rumah yang berkedudukan di Jalan Soekarno-Hatta Nomor 27, Sigi, Kelurahan Paruga, Kecamatan Rasanae Barat.

Kepribadiannya tidak Berubah

Sejak kami berpisah, Februari 2000 (saya hijrah dari Bima ke Kota Mataram) hingga 24 April 2022 (22 tahun lebih), saya tidak pernah lagi berkunjung ke rumah itu. Terlebih setelah Abah Qurais terpilih sebagai Wakil Wali Kota mendampingi Wali Kota (alm) H.M. Nur Latif pada Periode 2008-2013, saya berusaha menjaga jarak dan irama hubungan.

Dalam menjalani profesi wartawan, saya sadar betul bahwa Abah Qurais sebagai pejabat publik akan selalu saya kontrol, baik kebijakan maupun kinerjanya. Abah Qurais pun sangat mahfum dengan sikap seorang sahabat yang tergolong “berat” tersebut.

Bahkan, sejak Abah Qurais menjadi wakil wali kota, kemudian menjadi wali kota menggatikan almarhum Nur Latif yang wafat tahun 2010, lalu terakhir menjabat wali kota 2013-2018, hanya sekali saya mendatangi dan menemuinya.

Pertemuan semi resmi itu terjadi di ruang kerjanya. Diawal-awal Abah Qurais menjabat wali kota, melanjutkan sisa masa jabatan yang ditinggalkan almarhum Nur Latif. Kala itu, saya hadir untuk memperkenalkan Tabloid Histori. Media massa dwi mingguan terbitan Mataram yang saya asuh bersama Yeyen Seprian Rachmat, Iwan Kurniawan Zubair, dkk. Saya lupa waktu persisnya.

“Sudah lama Anda nggak pernah lagi ke rumah maupun ke kantor saya. Sudah sombong, ya,” tegurnya.

Mantan Wali Kota Bima H.M. Qurais H. Abidin bersedia diajak selfie bersama wartawan Lakeynews.com. (sarwon/lakeynews.com)

Teguran bernada protes tersebut acap kali saya terima darinya. Salah satunya, dia lontarkan di GOR Turida Cakranegara, Mataram, ketika kami menyaksikan pertandingan Persebi Bima. Klub bola yang dimanajeri Abah Qurais saat itu.

Kembali soal gerbang rumah. Pengalaman 20-an tahun silam, gerbang rumah pria berlatar belakang pengusaha itu jarang terkunci. Tidak seperti kebanyakan rumah mewah lainnya. Lebih-lebih saat dia berada di dalamnya, dipastikan tidak terkunci.

Rupanya, kebiasaan yang saya tinggalkan sekian lama itu masih tetap. Seperti dulu. Tidak terkunci. Juga tidak terlihat ada gembok yang menggantung di sana.

Sehingga, setelah mengucapkan salam dengan suara sedang, saya membuka sendiri gerbang dengan mendorong ke sisi kanan. Dari arah pintu rumah, tampak Abah Qurais keluar.

Meski kami berpisah sudah 22 tahun lebih, tidak ada perubahan yang signifikan dari dirinya. Masih seperti Abah Qurais yang kami kenal dulu. Sambutannya terasa begitu hangat. Bahkan, sebelum saya tiba di teras, justru sudah disapa dan langsung ditawarkan (ditanyakan) tempat ngobrol yang diinginkan.

“Kita duduk di mana, biar kita lebih leluasa ngobrol? Mau di dalam (rumah) atau di sini (teras),” tanyanya menyambut.

“Di sini saja Abah Aji,” jawabku.

Saya memang memanggilnya dengan sebutan Abah Aji. Dulu sebelum putra pengusaha “tersohor” Bima H. Abidin (Haji Bide) ini berhaji, berikut menjadi wakil wali kota dan wali kota, saya dan kami di lingkungan pergaulan memanggilnya Abah Qurais.

Enggan Bahas Pribadi Orang, Tegaskan Soal Disiplin

Pertemuan kami berlangsung sekitar satu jam 20 menit. Banyak hal serius yang dibicarakan dalam suasana santai itu. Dari hal-hal ringan hingga berat, urusan pribadi sampai umum. Bahkan, dari masalah rumah tangga hingga persoalan daerah, bangsa dan negara.

Intinya, masalah ekonomi, sosial, politik, pemerintahan dan lain sebagainya, mengemuka dalam pertemuan perdana setelah sekian lama tak bersua itu.

Namun demikian, ada beberapa hal yang paling dihindari pembahasannya. Disinggung pun dia tidak mau. Yakni terkait pribadi orang lain, siapapun.

Ketika menerima kunjungan wartawan Lakeynews.com di rumahnya, H.M. Qurais H. Abidin hanya sendiri. (sarwon/lakeynews.com)

Tetapi kalau menyangkut kebijakan, penyelenggaraan pemerintahan maupun kinerja penyelenggara pemerintahan, begitu antusias dikupasnya.

Salah satu poin yang dapat dipetik dari paparannya adalah terkait kedisiplinan. Dia tegas dan paling tidak suka dengan orang yang tidak disiplin. “Disiplin itu penting dan harus,” tegasnya.

“Tahu nggak, sebelum Anda sampai tadi, sekitar 10 menit sebelum jam 10.30 Wita, saya sudah keluar dan duduk di teras ini untuk menunggu. Karena belum Anda belum datang, saya masuk lagi,” sambungnya.

Menurut dia, disiplin merupakan bagian dari tuntunan hidup dan agama. “Disiplin itu Allah SWT yang menyuruh,” ujarnya.

Dia lalu menyebut beberapa perintah Tuhan Yang Maha Esa tentang disiplin. Antara lain, salat harus tepat waktu.

Sahur dan berbuka puasa juga harus tepat waktu. Lewat pukul 04.41 Wita, untuk wilayah Kota Bima dan sekitarnya, sudah tidak bisa makan-minum lagi. “Kalau masih makan dan minum, habis sudah puasa kita,” tuturnya.

Demikian pula waktu berbuka. Jam lima sore lewat sekian menit, umat muslim diperintahkan untuk segera berbuka. Tidak boleh ditunda-tunda. Walaupun seseorang itu merasa masih kuat 10 jam lagi berpuasa.

Bila ditunda-tunda akan mengurangi pahala puasa. Tiba waktunya berbuka, harus berbuka. “Ini bukan hanya sekadar ilmu atau kata-kata saya, tapi perintah Allah SWT,” tegasnya lagi.

Bagaimana kondisi rumah yang menjadi tempat tinggal Abah Qurais beserta keluarganya sekarang? Apa saja aktivitasnya saat ini, aktivitas selepas menjabat Wali Kota Bima? Apa dan bagaimana pula rencananya ke depan? Masihkah berkiprah di dunia politik? Nantikan catatan selanjutnya. (bersambung)