Pertemuan dan silaturahmi akbar keluarga besar SMAN 3 Dompu, Sabtu (8/1) lalu. (tim/lakeynews.com)

Laporan:
Tim Lakeynews.com, Dompu – NTB

TEI angi ndai taho pu tei dou India (ajarkan keluarga sendiri lebih baik ajarkan orang India; Dompu-Bima, red).”

Kalimat itu mengawali lontaran Guru Bimbingan Konseling (BK) SMAN 3 Dompu Al Uswatun, S.Pd, saat pertemuan dan silaturahmi akbar keluarga besar sekolah itu, Sabtu (8/1) lalu.

Wajar Uswatun (sapaannya) berkata seperti itu. Sebab, 90-an persen peserta didik SMAN 3 Dompu merupakan warga komunitas dan keluarganya sendiri.

Dia menjadi guru BK di sekolah itu baru lebih kurang setahun. Sebelumnya, Uswatun mengabdi (guru BK) SMKN 1 Hu’u, sekitar 10 tahun.

Menurutnya, 10 tahun mengabdi di SMKN 1 Hu’u, perkelahian pelajar hanya terjadi sekitar 10 kali. Itupun bisa dan mudah diidentifikasi dan diselesaikan.

“Tapi setahun saya bertugas di SMAN 3 Dompu, kejadian perkelahian siswa sudah tidak terhitung,” ungkap Uswatun yang disambut geleng-geleng kepala hadirin.

Parahnya lagi, perkelahian di sekolah yang didominasi siswa asal Desa Karamabura dan Desa O’o itu, sulit diidentifikasi dan diselesaikan oleh sekolah. “Kami bingung cara menangani dan mengatasinya,” papar Uswatun.

Padahal, lanjutnya, berbagai upaya, pola dan strategi sudah dilakukan sekolah. Termasuk melalui kegiatan Sabtu Budaya. “Tujuannya agar anak-anak bisa bertemu, bermain, berolahraga dan melakukan kegiatan bersama-sama,” jelasnya.

Baca juga:

Hal lain, Uswatun mengingatkan para orang tua siswa agar memperhatikan pakaian siswanya.

Dia sempat menyindir dengan guyon. Katanya, kalau orang tua membeli pakaian sekolah bagi anaknya, jangan beli yang robek-robek.

Kalau merasa membeli yang baru, kemudian ketika anak pulang melihat pakaiannya sobek, maka orang tua harus kritis memperhatikannya. “Bapak-Ibu harus menanyakan, kenapa pakaiannya sobek begitu. Jangan cuma melihat saja,” tegasnya.

Uswatun mengingatkan juga, orang tua tidak tepat beralasan tidak pernah bertemu dengan anak-anaknya. “Tidak masuk akal Bapak-Ibu tidak pernah bertemu anak-anaknya,” ujarnya.

Tidak bisa hanya guru dan sekolah yang dilimpahkan untuk mengurus anak-anak (siswa) itu. Orang tua di rumah, keluarga dan lingkungan tempat tinggal juga harus merasa bertanggung jawab terhadap pembinaan siswa.

Guru-guru tak Nyaman dan tak Aman Mengajar

Sementara itu, Wakasek Kurikulum Guru Khaerudin, S.Tp, mengatakan anak-anak (siswa-siswi) sebenarnya ibarat kertas putih. Warna apa yang ditorehkan pada lembaran putih itu, tergantung pola asuh dan pembinaan orang tua di rumah.

“Misalnya, kontrol anak-anaknya (yang muslim), sudah Salat apa belum. Bapak-ibu orang tua merasakah pernah mengontrol hal itu atau tidak pada anaknya,” tanyanya.

Dia sering mendengar pertanyaan dari banyak orang tua siswa. Khususnya, terkait apa saja yang dilakukan guru-guru dan sekolah selama ini, sehingga siswa ribut terus.

Seperti yang sudah dijelaskan oleh guru BK, sudah banyak yang kita (guru dan sekolah) lakukan dalam membina peserta didik. Berulang-ulang mereka tengahi, lerai dan mendamaikan siswa yang ribut. Hingga beberapa kali keluar masuk kantor polisi

“Kerjaan kami di sekolah ini bukan hanya menangani siswa yang ribut. Banyak yang lain. Tidak mungkin hanya urus yang berkelahi,” tegasnya. “Kami sangat terganggu dengan ulah siswa ini. Kami guru-guru tidak nyaman dan tidak aman mengajar,” sambungnya.

Dikunci dalam Kelas, Pergi Kelahi, Keluar Lewat Jendela

Pembicara pamungkas Bhabinkamtibmas Desa O’o Aipda Sirjono. Dia menegaskan, masalah perkelahian siswa ini tidak bisa hanya mengandalkan polisi, tentara, atau sekolah saja dalam menanganinya.

“Orang tua dan pemerintah desa juga harus bertanggung jawab. Tapi ini, bagaimana masyarakat mau sadar, bagaimana masalah selesai, kalau kepala desanya saja tidak mau hadir dalam pertemuan ini,” tegas Jono.

Menurut dia, kalau kebetulan lewat depan sekolah, orang tua melihat anak-anaknya ngumpul di luar, sebaiknya berhenti sejenak. “Harus diperhatikan. Tanyakan kepada anak-anak kenapa berada di luar sekolah saat jam belajar,” imbuh Jono.

Dia tidak setuju kalau para orang tua hanya bisa menyalahkan polisi, tentara dan sekolah. Informasi yang diterima dari anak-anak harus diolah dulu. Tidak diterima begitu saja.

Dia mencontohkan salah satu informasi keliru yang membuat kakak seorang siswa datang dan mencak-mencak ke sekolah, beberapa hari lalu. Saat itu, Jono bahkan secara terbuka menyebut nama siswa itu bersama kakak dan orang tuanya.

“Siswa itu sudah dilarang keluar kelas. Bahkan sudah dikunci dalam kelas bersama teman-teman dan gurunya. Namun, dia ngotot keluar lewat jendela. Dia pergi kelahi di jalan raya,” beber Jono. (habis/*)