
–
Laporan:
Tim Lakeynews.com, Dompu – NTB
–
PERTEMUAN dan Silaturahmi Akbar Keluarga Besar (KB) SMAN 3 Dompu, NTB, di halaman sekolah terkait, Sabtu (8/1), diisi dengan diskusi, usul dan saran. Bahkan, ada juga kritikan.
Semua itu sebagai bagian dari upaya mendapatkan formulasi penyelesaian masalah perkelahian pelajar di sekolah itu yang terjadi lebih dari sebulan terakhir. Rumusan formulasi menjadi rujukan pihak sekolah dalam menghadapi dan menangani persoalan tersebut.
Baca juga:
- Pertemuan Bahas Perkelahian Siswa SMAN 3 Dompu (1); Telurkan Empat Poin Perjanjian Damai
- Pertemuan Bahas Perkelahian Siswa SMAN 3 Dompu (2); Tak Akan Ditolerir Lagi, Langsung Diproses secara Hukum
- Degradasi Moral; Siswa Terus Berkelahi, SMAN 3 Dompu Hentikan KBM Luring
- Sayangkan Perkelahian Pelajar di Dompu, Kadis Dikbud NTB: Perlu Didalami Penyebab Utamanya
- KCD Dikbud Klarifikasi Ketidakhadiran di Pertemuan KB SMAN 3 Dompu
Salah seorang tokoh masyarakat Dompu timur Drs. Sanusi H. Rasyid, saat itu berbicara cukup keras. Meskipun mantan kepala SMAN 3 Dompu itu kadang menyelinginya dengan guyonan.
Antara lain yang dia soroti adalah tingkat kehadiran orang tua/wali murid untuk memenuhi undangan sekolah. Hari itu saja, dari total 235 orang tua/wali murid yang diundang, yang hadir hanya 50-an orang (sesuai daftar hadir).
“Sudah menjadi kebiasaan di SMAN 3 Dompu, bahwa setiap kita udang orang tua/wali murid, yang hadir hanya sebagian kecil begini,” tegas Guru Neso (sapaan akrabnya) yang sejak empat tahun lalu meninggalkan SMAN 3 Dompu karena pensiun.
Lebih jauh disampaikan, pada zaman Orde Baru ada Tri Pusat Pendidikan; rumah tangga, masyarakat dan pemerintah (sekolah bersama pemerintah).
“Memasuki era reformasi hingga pasca reformasi sekarang bertambah satu lagi. Yaitu siswa-siswi itu sendiri. Peserta didik termasuk menjadi pusat pendidikan dan ikut bertanggung jawab,” tandasnya.
Guru Neso kemudian melontarkan ide dan saran dalam menangani siswa yang suka bertindak di luar batas. Sekolah dapat menerapkan sederet sanksi dalam konteks pendidikan dan pembinaan.
Salah satu strategi bagi siswa yang suka berantam, berikan sanksi untuk piket bersama. Tidak cukup hanya dengan mendamaikan begitu saja.
“Misalnya si A dan si B berkelahi. Setelah didamaikan, mereka disuruh piket bersama. Jangan libatkan yang lain,” ujarnya. “Insya Allah akan lebih baik,” sambung Guru Neso.
Guru Neso juga sependapat dengan pendapat-pendapat yang mengatakan, bahwa saat ini guru-guru sudah tidak punya kewibawaan. “Ruang guru untuk membina dan mendidik siswa dengan tegas, tak ada lagi. Sehingga, tidak ada yang membuat peserta didik jera,” tegasnya.
Pada kesempatan itu, tokoh pendidikan ini mengharapkan kepada para orang tua siswa agar tidak menelan bulat-bulat informasi atau laporan apapun dari anaknya.
“Jika menerima suatu pengaduan dari anak tentang pembinaan yang dilakukan guru atau pihak sekolah, tanyakan kepada pihak sekolah agar mengetahui masalah sesungguhnya,” imbuhnya.
Kebetulan pada hari itu, tidak satupun siswa yang masuk sekolah. Karena itu, melalui para orang tua dan wali murid, secara pribadi dan mewakili semua yang hadir, Guru Neso menitipkan salam kepada semua peserta didik.
“Sampaikan salam doa kami semua kepada anak-anak yang tidak sempat hadir dan semua anak-anak di rumah. Salam dari saya bersama Pak Danramil Kota Dompu, Kapolsek (diwakili Kanit Reskrim) Kota Dompu, kepala sekolah, guru-guru dan komite sekolah,”
Menyusul Guru Neso, tokoh masyarakat yang juga tokoh pendidikan Bambang Hermanto, S.Pd, M.M.Pd.
Pria yang akrab disapa Bang Harto itu mengaku, dulu tegas bahkan keras membina peserta didik. Apalagi saat dia mengajar, lalu murid mengganggu, pasti disanksi tegas. “Tapi sekarang, zamannya beda,” ujarnya.
“Sekarang sedapat mungkin kita sentuh dengan cara-cara manis. Tentunya, tidak boleh juga membiarkan jika ada siswa yang bertindak melampaui batas,” pintanya menambahkan.
Bang Harto salut dengan perjuangan keras dan begitu maksimal dilakukan pihak SMAN 3 Dompu dibawa pimpinan Hendratno, S.Pd.
“Kalau sudah ada kesepakatan, jangan dilanggar lagi. Mari kita patuhi. Bila ada (siswa) yang melanggar, harus diproses dan diambil tindakan tegas. Tidak bisa dibiarkan lagi,” tegasnya.
Kalau ada siswa yang diproses secara hukum karena pelanggaran berat yang dilakukannya, jangan malah orang tuanya yang lebih dulu pergi ke kantor polisi dan meminta dibebaskan. “Itu tidak baik, tidak mendidik,” tuturnya.
Salah orang warga, Ilham Ahmad, setuju dengan ide Ketua Komite Sekolah Masran M. Yasin, agar pihak sekolah mendata lagi anak-anak yang selama ini suka bikin onar. Kemudian, didatangi, dilakukan pendekatan dan diberikan pembinaan di rumahnya.
Selain itu, dia menyarankan agar mempertemukan kembali semua anak yang selama ini terlibat perkelahian, tanpa pengecualian.
“Harapan kita, saat dipertemukan nanti, selain bersilaturahmi dan menumbuhkan kembali rasa saling menyayangi di antara mereka, juga untuk mengetahui apa yang mereka inginkan,” urainya.
Wali murid lainnya, Tamrin H. Barahima dengan tegas mengatakan, jangan pernah ada yang mempolitisasi dan mempersoalkan siapa kepala sekolah dan guru-guru SMAN 3 Dompu.
Dia juga sempat mengkritisi tidak dihadirkannya peserta didik dalam pertemuan itu. Dimana, tidak hanya orang tua yang didamaikan. Justru anak-anaklah yang lebih penting dihadirkan dan kita damaikan.
“Mestinya anak-anak dihadirkan juga dalam pertemuan ini. Kedepan kalau ada pertemuan seperti ini, tolong hadirkan juga para siswa,” saran Tamrin. (bersambung)
