
Sabtu Pertemuan Akbar, Hendratno: Kita Undang Semua Pihak Terkait
–
Catatan:
Sarwon Al Khan, Dompu – NTB
–
MORAL sejumlah peserta didik –terutama SMA/sederajat– di beberapa wilayah Kabupaten Dompu, Nusa Tenggara Barat (NTB), belakangan ini patut dikatakan semakin mendegradasi. Saat ini terasa naik ke titik nadir, bahkan mencapai level yang sangat mengkhawatirkan.
Setelah beberapa waktu lalu seorang siswa SMAN 1 Hu’u bersama kakak dan bapaknya diduga mengeroyok guru di sana, kini antarsiswa SMAN 3 Dompu “aktif” berkelahi.
Informasi yang dihimpun Lakeynews.com, perkelahian sesama pelajar di satu sekolah itu sudah berlangsung lebih dari sebulan. Pihak sekolah, mulai dari kepala sekolah, guru-guru, tata usaha, penjaga dan keamanan sekolah, dibuat kewalahan menghadapi mereka.
“Guru-guru seolah tidak dianggap lagi oleh mereka. Ditegur atau dipanggil oleh kepala sekolah pun, sering kali tidak didengarkan dan tidak dihargai,” kata salah seorang guru di sekolah itu.
Perkelahian antarsiswa tersebut mulai terjadi awal Desember 2021. Beberapa kali pihak sekolah mencegah, melerai, memisahkan hingga mendamaikan, tak mempan juga. Mereka masih mengulangi perbuatannya, perkelahian tetap saja terjadi.
Kadang, awalnya berkelahi di lingkungan sekolah, kemudian berlanjut ke (di) luar. Sebaliknya, ada yang berawal dari perkelahian di luar, lalu berlanjut di lingkungan sekolah.
Belum jelas pemicu maupun motifnya. Namun, diduga ada dendam satu sama lain. Hal-hal sepele pun memicu keributan dan perkelahian di sekolah.
Parahnya lagi, ada di antara mereka yang disebut-sebut justru berani membawa senjata tajam ke tempat menimba ilmu pengetahuan, serta wadah pembentukan moral dan karakter baiknya.
Senin (3/1) lalu, hari pertama masuk sekolah pascaliburan. Yang memilukan, bukannya dijadikan momen lepas kangen karena sekian lama tidak bertemu. Justru, kesempatan awal masuk sekolah tersebut menjadi ruang mereka melanjutkan prilaku buruknya, perkelahian.
Keributan mereka berlanjut pada dua hari berikutnya. Berturut-turut Selasa dan Rabu. Perkelahian tambah parah. Kejar-kejaran begitu sulit dihindari dan dilerai oleh pihak sekolah.
“Kita merasa sangat tidak aman dan tidak nyaman mengajar,” keluh beberapa guru di sekolah itu.
Perkelahian antarsiswa sekolah yang berkedudukan di Dompu timur terhenti setelah Bhabinkamtibmas Junaidin, mengejar dan membubarkan mereka.
Kabarnya, pada masa liburan semester selama dua minggu kemarin, perkelahian di antara pelajar tersebut kerap terjadi. Dan, berlanjut hingga awal masuk sekolah pascaliburan.

Lama Terjadi, Sempat Masuk Polisi dan Dikembalikan ke Orang Tua
Jauh sebelum peristiwa di atas terjadi, keributan dan keonaran antarpeserta didik SMAN 3 Dompu sudah lama dan sering meletus, baik di dalam maupun di luar sekolah itu.
Bahkan, sesuai fakta yang dihimpun media ini, sejak Hendratno menjabat Kasek pada Agustus 2021 saja, masalah perkelahian siswa di sekolah tersebut sudah dua kali masuk kepolisian, Polsek Kota Dompu. Pertama, bulan Agustus. Kedua, bulan November.
Pada kasus pertama, sejumlah siswa membuat penyataan tidak mengulangi lagi perbuatannya disertai konsekuensi jika mengulangi lagi.
Kemudian dalam bulan November, dari sejumlah siswa yang bermasalah pada Agustus itu, terdapat lima orang yang kembali berulah.
Untuk yang kedua ini, kelima orang itu kembali membuat surat pernyataan dan berjanji tidak akan mengulangi lagi perbuatannya. Jika masih mengulangi lagi, mereka siap dikembalikan kepada orang tuanya.
Tetapi tak lama kemudian, bahkan masih dalam bulan November 2021, kelima siswa itu kembali bikin ulah. Ribut dan berkelahi lagi.
Karena itu, dengan berbagai dasar dan pertimbangan yang didukung (diperkuat) oleh pernyataan di kepolisian, pihak sekolahpun akhirnya memutuskan mengembalikan kelima siswa tersebut ke orang tuanya.
Sayangnya, keputusan sekolah itu justru ditentang pihak orang tua dan keluarga siswa. Beberapa oknum warga, seolah tidak mau tahu dengan kejadian dan proses yang telah berlangsung, menuntut dan memaksakan agar anak-anak berkasus tersebut kembali masukan ke sekolah itu.
Sehingga, pihak sekolah mengakomodir kelima siswa itu untuk dididik dan dibina kembali. Keputusan menerima kembali setelah pihak sekolah melakukan pertemuan dengan berbagai elemen terkait. Termasuk unsur TNI dan Polri, komite sekolah, tokoh masyarakat dan orang tua/wali murid.
Lagi-lagi disertai dengan pembuatan surat pernyataan. Intinya, kelima siswa itu tidak akan mengulangi perbuatannya. Seperti membuat keributan, perkelahian dan kericuhan. Jika masih juga mengulangi lagi, maka mereka akan dikeluarkan dari sekolah tanpa syarat dan toleransi lagi.
Lalu apa yang terjadi?
Keributan demi keributan, perkelahian demi perkelahian antarsiswa SMAN 3 Dompu terus terjadi. Terbaru, perkelahiaan awal masuk pascaliburan semester yang berlangsung tiga hari berturut-turut.
Hanya saja, hingga tulisan ini dibuat, belum diketahui persis apakah pembuat onar kali ini termasuk yang lima orang itu ataukah siswa lain.
“Kita masih cari tahu untuk mengetahui dan memastikan hal itu,” kata Kepala SMAN 3 Dompu Hendratno, S.Pd pada Lakeynews.com, Kamis (6/1) pagi.

Cari Solusi, Pertemuan dan Silaturahmi Akbar
Melihat situasi tersebut, Rabu (5/1) Hendratno melakukan rapat bersama dewan guru. Keputusan rapat yang dipimpinnya itu, bahwa Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) secara luar jaringan (luring/offline) dihentikan sementara.
Hari Rabu itu, siswa dipulangkan lebih awal. Pada Kamis dan Jumat (6-7/1), siswa-siswi tidak dianjurkan ke sekolah. KBM dilakukan secara dalam jaringan (daring/online).
“Siswa menerima pelajaran secara daring di rumahnya masing-masing,” jelas pria yang akrab disapa Pak Hen itu.
Sedangkan guru-guru tetap masuk sekolah seperti biasa, terutama yang memiliki jam mengajar. “Dari sekolah, rekan-rekan guru akan mengajari peserta didik secara daring,” sambung Pak Hen.
Selain KBM daring, poin yang diputuskan rapat dewan guru SMAN 3 Dompu untuk menetralisir kondisi ini tidak terus berlarut dan makin memburuk adalah pertemuan akbar.
Rencananya, pertemuan akbar sebagai upaya merekatkan kembali hubungan silaturahmi siswa itu dilaksanakan di lingkungan SMAN 3 Dompu, Sabtu (8/1) ini.
Kata Pak Hen, dalam kegiatan itu, pihaknya akan mengundang dan menghadirkan berbagai pihak terkait. Selain para peserta didik, seluruh orang tua/wali murid, komite sekolah, tokoh masyarakat dan tokoh agama.
Selain itu, diundang pula Kades O’o dan Kades Karamabura, Bhabinkamtibmas dan Babinsa O’o dan Karamabura, KCD Dikbud Dompu dan para pengawas.
“Insya Allah, dalam pertemuan dan silaturahmi akbar itu nanti akan dibahas bersama tentang berbagai hal terkait masalah ini, termasuk langkah dan solusinya,” kata Pak Hen. (*)

3 thoughts on “Degradasi Moral; Siswa Terus Berkelahi, SMAN 3 Dompu Hentikan KBM Luring”