Dari Kiri; Kepala SMAN 3 Dompu Hendratno, Ketua Komite Sekolah Masran M. Yasin, Kanit Reskrim Polsek Kota Dompu Aiptu Taufikurahman dan Danramil 01-1614/Kota Dompu Kapten Inf M. Yamin. (tim/lakeynews.com)

Laporan:

Tim Lakeynews.com, Dompu – NTB

CUACA pagi itu cukup cerah. Namun, suasana panas-dingin mewarnai Pertemuan dan Silaturahmi Akbar Keluarga Besar (KB) SMAN 3 Dompu, NTB, di halaman sekolah terkait, Sabtu (8/1).

Hadir dalam acara itu, selain pihak sekolah dan komite sekolah, dan 50-an orang dari 235 orang tua/wali murid (sesuai daftar hadir), juga dihadiri sejumlah pihak terkait. Diantaranya, Danramil 01-1614/Kota Dompu Kapten Inf M. Yamin, Kapolsek Dompu diwakili Kanit Reskrim Aiptu Taufikurahman, para Bhabinkamtibmas dan Babinsa.

Juga hadir sejumlah tokoh masyarakat dari Desa O’o dan Karamabura, Kecamatan Dompu. Seperti Bambang Hermanto, S.Pd, M.M.BA (mantan kepala SMAN 2 Dompu), Drs. Sanusi H. Rasyid (mantan kepala SMAN 3 Dompu), Sirajuddin, S.Pd, Alamsyah, S.Pd, Jufrin Ta’abi, Mirafuddin dan lainnya.

Baca juga:

Ketika memberikan sambutan sesaat setelah acara dibuka, Kepala SMAN 3 Dompu Hendratno, S.Pd, mengungkapkan, perkelahian antarsiswa di sekolah itu sudah berlangsung lama.

Hendratno mengaku, menjabat kepala SMAN 3 Dompu mulai Agustus 2021. Baru sekitar lima bulan. Selama masa kepemimpinannya saja, sudah tiga kali kejadian besar.

“Itu kejadian besar hingga ke polisi. Kalau yang kecil-kecil sudah tidak terhitung lagi. Dan, itu dapat kita selesaikan secara internal di sekolah,” kata Hendratno.

Guru-guru SMAN 3 Dompu, katanya, sudah tidak nyaman mengajar. Terbaru, siswa berkelahi tiga hari berturut-turut di awal masuk sekolah pascaliburan. Dari Senin, Selasa dan Rabu (3-5/1).

Sehingga pada hari ketiga, Rabu, semua peserta didik dipulangkan lebih awal. Selanjutnya, Kamis-Jumat (5-6/1) KBM tatap muka terpaksa ditiadakan. “KBM dilakukan secara daring,” jelasnya.

Padahal, ditahun baru 2022 dan awal semester genap ini, sekolah-sekolah wajib KBM tatap muka. “Tapi mau bilang apa? Perkelahian siswa tidak henti-henti, ya kita terpaksa KBM secara daring (online),” paparnya.

Selama liburan kemarin (dua minggu), menurut informasi yang dihimpun pihak sekolah, perkelahian siswa SMAN 3 Dompu tetap terjadi.

Beberapa orang tua siswa mengaku kepada pihak sekolah, bahwa di rumah atau di lingkungan keluarga anak-anak mereka baik dan nurut. “Mungkin begitu. Tapi, begitu mereka bertemu dengan teman-temannya di luar, ribut hingga ke sekolah,” beber Hendratno.

Karena itulah, pertemuan sengaja digelar pada Sabtu pagi hingga siang itu untuk menemukan formulasi yang tepat, atau yang harus dilakukan dalam mengatasi masalah ini.

Komite dan Guru BK Siap Datangi Siswa “Berulah” ke Rumahnya

Ketua Komite SMAN 3 Dompu Drs. Masran M. Yasin, juga berharap dapat ditemukan solusi terbaik. Menurutnya, kejadian perkelahian siswa sekolah itu sudah berulangkali.

Sekolah sudah berusaha semaksimal mungkin, melakukan yang terbaik, dengan berbagai metode. Tetap saja terjadi perkelahian siswa. Kadang memalukan juga. Apalagi masalah ini sampai diunggah di media sosial.

“Orang tua tidak boleh masa bodoh dengan kondisi anaknya yang seperti itu,” imbuhnya dengan nada tinggi, juga ketika memberikan sambutan.

Diakui Masran, banyak orang tua siswa datang protes ke sekolah. Mereka bertanya, kenapa anak-anaknya bisa seperti itu (berkelahi) begitu ke sekolah. Sedangkan di rumah baik dan patuh.

“Para orang tua harus tahu bahwa karakter anak-anak sangat dipengaruhi oleh lingkungan pergaulannya. Mereka itu kadang rusak saat bertemu teman-temannya di luar,” ungkapnya.

Pada kesempatan itu, Masran menyarankan kepada pihak sekolah untuk mendata lagi semua anak yang sering membuat ulah. “Kalau sudah didata, insya Allah nanti saya bersama guru BK akan datangi siswa dan orang tuanya di rumah mereka,” sambungnya.

Masran menegaskan, siapapun kepala sekolah dan gurunya, tidak akan sanggup mengatasi karakter siswa yang rusak parah seperti ini. “Karena itu, sangat diharapkan peran aktif para tokoh masyarakat dan semua pihak dalam mengatasi masalah ini,” imbuhnya.

Suasana Pertemuan dan Silaturahmi Akbar Keluarga Besar SMAN 3 Dompu, NTB, di halaman sekolah terkait, Sabtu (8/1).

Didamaikan Terus, Siswa tak Kapok, Bahkan Makin Parah

Kapolsek Kota Dompu diwakili Kanit Reskrim AIPTU Taufikurahman, mengajak semua pihak agar sama-sama menjaga dan membina peserta didik SMAN 3 Dompu ini. Tidak hanya pihak sekolah, tapi juga orang tua, keluarga, para tokoh dan masyarakat unumumnya.

“Kalau pembinaan di sekolah, hanya sebentar. Yang banyak ruang dan waktu membina anak-anak ini adalah para orang tua, keluarga dan lingkungan,” paparnya.

Dikatakan, zaman dulu dan zaman sekarang beda. Dulu, siswa dikerasi seperti apa, tidak masalah. Sekarang, hal itu sulit diterapkan.

Dia mengakui, sudah dua kali kepolisian (Polsek Kota Dompu) memediasi kasus perkelahian antarsiswa SMAN 3 Dompu. “Tapi, didamaikan terus,” tegas Taufik, sapaan Taufikurahman.

Namun, kalau siswa-siswa itu masih melakukan tindakan kriminal, pihaknya tidak akan menolerir lagi. “Jika dibiarkan terus, mereka tidak akan kapok. Akibat belum pernah ditindak tegas, belum diproses secara hukum, maka perbuatan mereka semakin parah,” tegasnya lagi.

Padahal, menurut dia, tidak ada guna atau manfaatnya berkelahi dengan sesama. “Masih mendingan ditahan di Dompu, tapi kalau ditahan di Mataram (hanya di Mataram yang ada Rutan Anak, red), ini kan berat,” tandasnya.

Dicolek Sedikit Saja, Guru Dilawan, Orang Tuanya Datang Menyerang

Danramil 01-1614/Kota Dompu Kapten Inf Muhammad Yamin, juga angkat bicara. TNI, katanya, sebagai pembina teritorial. “Kami sering memberikan nasihat kepada para pelajar di dua wilayah binaannya, Kecamatan Dompu dan Woja,” ujarnya.

Selebihnya Yamin berbagi pengalaman pribadi dalam upayanya mendidik dan membina putra-putrinya di rumah. Termasuk caranya menyiapkan anak-anak agar mandiri.

“Mereka saya ajak kerja keras. Yang laki diajak bercocok tanam, yang perempuan diajak membantu ibunya dalam melakukan berbagai pekerjaan di rumah,” urainya.

Beberapa waktu lalu, salah seorang putranya mencoba mengikuti jejaknya, dengan mendaftar sebagai calon anggota TNI. Yamin melepas putranya untuk mengurus sendiri semua persyaratan dan kebutuhan lainnya.

Alhamdulillah, untuk kali ini, ananda itu belum beruntung diterima sebagai anggota TNI,” kata pria berkumis tebal yang dikenal tegas namun santun itu.

Kesempatan itu dimanfaatkan Yamin untuk mengingatkan para orang tua siswa dan warga umumnya. Menurut dia, waktu guru untuk mengajarkan, mendidik dan membina siswa hanya sekitar enam jam sehari.

“Selebihnya, orang tualah yang memiliki waktu lebih banyak untuk mendidik dan membina anaknya. Pembinaan anak-anak di rumah harus lebih intensif dan maksimal lagi,” pintanya.

Anak zaman dulu dibina sedemikian tegas dan kerasnya, tidak ada yang melawan guru, apalagi mendatangi atau menyerang guru. “Sekarang, baru dicolek sedikit saja, guru dilawan. Orang tuanya mengamuk, datang menyerang,” ungkapnya.

“Zaman sekarang, guru yang sedang duduk diajak rokok dengan panggilan sobat, kawan dan sejenisnya. Ketika diberitahu baik-baik malah membangkang, menentang dan melawan. Menyedihkan sekali,” tambah Yamin. (bersambung)