
Masih Tinggal di Rumah Panggung Pemberian Orang Tua
–
Catatan:
Sarwon Al Khan, Dompu – NTB
–
PAGI Jumat (3/12) pekan lalu, beberapa Pengurus Daerah Ikatan Guru Indonesia (IGI) Kabupaten Dompu dan media massa mengunjungi Syafruddin, S.Pd di Desa Adu, Kecamatan Hu’u.
Guru Matematika berstatus honorer di SMAN 1 Hu’u itu merupakan korban pengeroyokan yang diduga dilakukan oknum siswa sekolah itu, S, bersama kakak dan bapaknya, Kamis (2/12).
Korban dan para terduga pelaku berasal dari desa yang sama. Mereka hanya beda dusun. Korban beralamat di Dusun Sambi Kompo. Sedangkan para terduga berdomisili di Dusun Adu.
Baca Juga;
- SMAN 1 Hu’u Putuskan, Siswa Keroyok Guru Dikembalikan ke Orang Tua
- Hasil Rontgen, Jari Manis Guru SMAN 1 Hu’u Itu Patah
Jam di ponsel menunjukan angka 08.17 Wita. Rombongan yang terdiri dari Ketua IGI Dompu Ida Faridah, S.Pd, Sekretaris Kisman Rizky, M.Pd dan Bendahara Siti Atikah, S.Pd, tiba di rumah korban.
Tidak sulit menjumpai rumah pahlawan tanpa tanda jasa yang akrab disapa Guru Udin itu. Rombongan hanya butuh dua kali bertanya pada warga yang dijumpai.
Petunjuknya jelas dan mudah. Apalagi rumah korban bersebelahan langsung dengan lapangan Sambi Kompo.
Pertanyaan pertama, dilontarkan rombongan pada warga yang sedang gotong royong di pinggir jalan raya, Jalan Lintas Lakey. Kedua, bertanya pada warga yang ternyata tetangga korban di sebelah kiri rumahnya.
Guru Udin tinggal di sebuah rumah panggung sembilan tiang. Rumah yang lumayan berusia itu merupakan pemberian orang tuanya.
Di rumah tersebut, Guru Udin tinggal bersama istri, seorang anak (7 tahun) dan ibundanya. Ayahanda Udin sudah wafat beberapa tahun lalu.
Ketika rombongan tiba, Guru Udin, istri, ibu dan beberapa tetangganya ada di sana. Kebetulan pagi itu dia sedang bersiap-siap ke RSUD Dompu untuk menjalani foto rontgen jari manis tangan kirinya, yang belakangan diketahui patah.
Di sela-sela menerima kunjungan tiga pengurus inti IGI Dompu dan media massa, Guru Udin mengaku, selepas kuliah di Universitas Muhammadiyah Makassar tahun 2010, mengabdi sebagai guru Matematika di SMP Daerah Hu’u.
Saat ini, atas permintaan sendiri, di SMP Daerah itu Guru Udin hanya mengajar lima jam. Honornya Rp. 300 ribu per empat bulan.
Guru Udin kemudian menambah tempat pengabdian dan dedikasinya. Tahun 2015, mulai mengajar di SMAN 1 Hu’u. Mata pelajarannya sama, Matematika.
Honor yang diterima sebagai guru SMA itu lumayan, karena diatur dan diputuskan Pemprov NTB. Di sekolah tersebut Guru Udin dibayar Rp. 40 ribu per jam.
Sekarang ini, Guru Udin mendapat 20 jam mengajar. Tiap bulan honornya dibayar Rp. 800 ribu (Rp. 40 ribu dikali 20 jam). Pembayaran honornya berjalan lancar.
“Memang kadang sesekali honor dirapel sekaligus dua bulan. Itupun karena kondisi saja,” uarinya.
“Sampai saat ini saya mengajar mata pelajaran Matematika di dua sekolah itu,” sambungnya Guru Udin.
Dalam pertemuan itu, berlangsung perbincangan serius antara pengurus IGI dengan Guru Udin. Ada tanya-jawab singkat juga.
Guru Udin kemudian menceritakan perihal peristiwa nahas menimpa dirinya pada Kamis siang lalu. “Saat itu pulang sekolah,” tutur Guru Udin memulai ceritanya.
Setiap pulang sekolah, sudah menjadi kebiasaan guru-guru di SMAN 1 Hu’u menjaga di pintu keluar. Itu untuk memastikan semua anak-anak (peserta didik) langsung pulang.
Nah, pada hari Kamis itu, dari arah Desa Sawe, ada anak-anak yang disebut-sebut dari Hu’u dan diketahui hendak berkelahi. “Di antara mereka, ada menggunakan panah,” kata Guru Udin.

Guru Udin sangat mengkhawatirkan hal itu. Karena itu, dia menyuruh semua siswanya agar langsung pulang. Terutama siswa yang berasal dari Desa Adu dan Cempi Jaya.
Tapi salah seorang siswa berinisial S (disebutkan nama lengkap, red) dari Desa Adu dan beberapa siswa lainnya, tidak mengindahkannya. Siswa berinisial S bahkan sempat menabrakan badannya ke badan Guru Udin.
Karena S dan beberapa siswa lainnya tidak mau mendengarkan arahan untuk langsung pulang, Guru Udin pun mengambil bambu ukuran jari.
Bambu itu diayun-ayunkan sembari memerintahkan para siswa itu agar segera pulang. “Ayo semuanya pulang sana,” kata Guru Udin mengungkapkan kembali perintahnya pada anak-anak itu.
Ketika bambu itu diayunkan dan diarahkan ke semua siswa yang ngotot tidak mau pulang, akhirnya mengenai juga bagian belakang badan siswa berinisial S. “Bukan S saja yang kena bambu itu. Ada juga siswa lain yang kena,” papar Guru Udin.
Hal itu rupanya tidak diterima oleh S. Oknum siswa ini marah, tapi saat itu tidak dihiraukan Guru Udin karena sedang mengurus siswa lainnya.
Guru Udin terus berusaha menghalau siswa sampai Cabang Cempi Jaya. Di cabang itu Guru Udin berjaga-jaga untuk beberapa saat supaya anak-anak yang dari Hu’u tadi tidak sampai ke situ. Selain, agar anak-anak Desa Adu dan Cempi Jaya tidak kembali lagi.
Saat itulah, tiba-tiba kakak S datang, marah-marah. Pria itu sempat bertanya kepada Guru Udin, “kenapa pukul adik saya.” Seiring dengan itu, lelaki tersebut langsung melayangkan pukulan ke Guru Udin. “Tapi, berhasil dilerai oleh warga dan siswa yang masih ada di sekitar lokasi kejadian,” ujar Guru Udin.
Bukan itu saja. Dari arah yang lain, datang S bersama bapaknya dan langsung menyerang. Guru Udin dilempar pakai batu, dipukul, kemudian (diduga) dikeroyok bertiga.
“Saya dipukul juga pakai kayu. Warga di sekitar tempat kejadian tidak mampu melerai. Wajah dan badan saya bengkak. Jari tangan saya juga patah,” beber Guru Udin sembari mengangkat dan memperlihatkan jari manis tangan kirinya yang terlihat bengkak dan bengkok.
–
Perlu Efek Jera, IGI Dompu Siap Kawal Proses Hukum Hingga Tuntas
Kejadian ini sudah dilaporkan Guru Udin ke pihak kepolisian. Pengakuan yang tidak jauh berbeda dengan yang disampaikan kepada pengurus IGI dan media massa, juga disampaikan semua oleh Guru Udin ke polisi.
Diketahui, kasus tersebut tengah diproses pihak kepolisian. Tiga terduga pelaku telah diamankan. Dan, hingga berita ini diunggah ketiga terduga pelaku masih diupayakan konfirmasi dan tanggapannya.
Guru Udin menegaskan, tidak ada jalan damai dalam kasus ini. Kasus ini harus selesai dan tuntas secara hukum. Dia mengharapkan keadilan hukum. “Para (terduga) pelaku harus bertanggung jawab terhadap apa yang telah mereka perbuat,” tandasnya.
Menurut dia, kasus serupa sering terjadi di Kecamatan Hu’u. Dia tidak ingin terjadi lagi kedepan. “Demi keadilan, dan agar ada efek jera terutama bagi pelaku, kasus ini harus dituntaskan secara hukum,” tegasnya.
Setelah berbincang-bincang dan mendengarkan cerita Guru Udin, pengurus IGI Kabupaten Dompu sepakat dengan keinginan korban. Yakni penyelesaian kasus ini secara hukum.
“Insya Allah, kami dan kita semua akan kawal proses hukum kasus ini sampai tuntas. Harus ada efek jera dan tidak boleh dibiarkan para pelaku kekerasan terhadap guru semacam ini,” tegas Ketua IGI Ida Faridah.
Dalam kunjungan yang disertai dengan bantuan sekadarnya itu, Ida juga sangat berharap kepada pihak penegak hukum, agar memenuhi rasa keadilan korban.
“Kita berharap kepada lembaga dan aparat penegak hukum kiranya dapat memroses tuntas kasus ini sesuai aturan yang berlaku,” ujarnya. (*)

Man tap. semoga LAkey.news makin maju dan tetap bersinergi demi kemajuan Dompu NggahI RawI Pahu.