
Merasa Sedang Isolasi Mandiri, Warga Kansa Gagal Lagi Dijemput Tim Satgas
–
Informasi yang beredar dan diterima di lapangan simpang siur, koordinasi antarunsur satuan tugas (Satgas) kacau, pelayanan buruk dan penanganannya membingungkan.
———–
ITULAH antara lain fakta-fakta tak terbantahkan yang tergambar dalam penanganan seorang pasien positif Covid-19 asal Lingkungan Sambi Tangga, Kelurahan Kandai Satu (Kansa), Kecamatan Dompu, Kabupaten Dompu, NTB.
Tadi malam, Kamis (3/12) sekitar pukul 23.00 Wita, pasien berinisial N (37) gagal lagi dijemput tenaga kesehatan bersama unsur TNI dan Polri.
Wanita yang bekerja sebagai cleaning service (CS) RSUD Dompu itu, ternyata merasa sedang menjalani isolasi mandiri di rumahnya.
Saat ini, N bersama suami, Man (39) dan dua anaknya tinggal di Perumahan SDN 21 Dompu.
BACA JUGA : Warga Kansa Dihantui Ketakutan, Pasien Positif Covid-19 Keliaran di Kampung
Diketahui, N dinyatakan positif terpapar Covid-19 pekan lalu. Setelah keluar hasil pemeriksaan swab yang dikirim ke Sumbawa.
Sejak mengetahui hal itu, warga Lingkungan Sambi Tangga –terutama yang berdomisili di sekitar tempat tinggal N– resah.
Keresahan mereka makin menjadi, karena sejak pekan lalu hingga Kamis sore kemarin, N belum juga “dieksekusi” isolasi oleh Satgas Covid-19. Terlebih suami N, Man sempat menentang (tidak izinkan) istrinya dibawa untuk diisolasi.
Untuk membuktikan kondisi riil di lapangan, kemarin sekitar pukul 17.30 Wita, Lakeynews.com yang menyamar sebagai warga luar Sambi Tangga turun ke sana.
Memang, tidak terlalu dekat ke perumahan tempat tinggal N. Hal itu, untuk menghindari kemungkinan terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan. Apalagi yang dipantau itu adalah pasien positif corona.
Beberapa warga sekitar yang diajak berbincang-bincang mengatakan, semenjak dinyatakan positif Covid-19, N tidak pernah meninggalkan rumahnya.
Sedangkan suaminya yang tetap keluar untuk mencari nafkah. Salah seorang anaknya yang seusia SMP tetap keluar dan bergaul dengan teman-temannya.
“Yang tetap bersama ibunya (N) di rumah itu, anaknya yang kecil. Umurnya sekitar 3-4 tahun. Kalau N tidak pernah kemana-mana,” kata seorang ibu rumah tangga di sekitar rumah N.
Saat itu, wanita ini didampingi beberapa warga lain. Mereka mengaku sangat takut terjangkit virus diketahui bisa mengakibatkan kematian itu.
Saking takutnya, ada di antara warga yang memilih tidak mengizinkan putra-putrinya masuk sekolah. Walaupun mereka tahu, sebenarnya anak-anak mereka harus mengikuti ulangan.
“Dari pada risiko, lebih baik anak saya tidak pergi sekolah dulu,” kata seorang wali murid laki-laki pada media ini yang tengah menyamar.
Menanggapi itu, sebelumnya, Plt. Kadis Kesehatan Kabupaten Dompu Maman, SKM, M.MKes, mengatakan, Satgas Covid-19 kabupaten serius menangani pasien Covid-19 ini.
Menurutnya, pihak RSUD dan Dikes sudah menyiapkan tempat untuk isolasi N sejak pekan lalu. Bahkan sudah dijemput tapi suaminya yang melarang.
“Kami tidak bisa memaksa. Gugus Tugas berkoordinasi dengan pihak Kodim 1614/Dompu untuk menjemput yang bersangkutan,” kata Maman pada Lakeynews.com.
Pernyataan senada disampaikan Sekretaris Satgas Covid-19 Dompu Jufri, ST, M.Si.
Selengkapnya BACA JUGA : Warga Kansa yang Positif Covid-19 Itu Bakal Diisolasi Paksa
Sayangnya, kondisi di lapangan menunjukkan, pasien Covid-19 masih di tempat tinggalnya. Parahnya, masih selalu bersama suami dan anak-anaknya.
Warga sekitar pun kian ketakutan dan resah, karena belum juga diambil tindakan untuk diisolasi oleh pihak terkait (Tim Satgas Covid-19).
Namun, selepas Magrib kemarin, Lurah Kansa Dedy Arsyik, S.Sos, mengabarkan bahwa malam itu akan turun Satgas Covid-19.
“Informasi dari Sekretaris Satgas Covid-19 kabupaten, beliau akan turun bersama tim untuk menjemput N,” kata Dedy melalui telepon genggamnya.
Ternyata benar. Menjelang Salat Isya, Jufri yang datang mengendarai sepeda motor tiba di Kansa. Pria yang akrab disapa Bang Jef itu terlebih dulu melakukan pertemuan koordinasi dengan Lurah Dedy dan Babinsa Kansa Serda Syahrir. Tepatnya, di rumah Dedy Arsyik.
Bang Jef kemudian berkoordinasi dengan pihak (pimpinan) kepolisian dan TNI, serta pihak terkait lain. Termasuk Dinas Kesehatan.
Sekitar pukul 21.45 rombongan sepeda motor; Bang Jef, Dedy Arsyik, Serda Syahrir dan wartawan (penulis dan Juanda), meluncur ke Lingkungan Sambi Tangga.
Tak lama di berada di pertigaan jalan masuk, menuju gang perumahan SDN 21 Dompu (tempat tinggal N), mobil patroli Koramil 01-1614/Dompu dan disusul disusul Patroli Polsek Dompu tiba di sekitar lokasi.
Luar biasanya, sejumlah personel polisi dipimpin Kapolsek Dompu IPDA Kadek Atmajaya, S.Sos. Demikian juga sejumlah personel TNI dipimpin Danramil 01-1614/Dompu Kapten Inf Muhammad Yamin.
Di tempat itu kembali berlangsung koordinasi, pemantauan situasi sekitar dan menunggu datangnya mobil ambulan. Lebih kurang setengah jam, akhirnya dua mobil ambulan tiba juga di lokasi.
Hanya saja, satu mobil terlihat balik arah. Sedangkan satu unit mobil lagi stand by di sana.
Mobil di lokasi itu hanya memuat satu tenaga kesehatan (Nakes) yang sekaligus sebagai sopirnya. Nakes pria yang hanya mengenakan jaket dan masker itu mengaku bernama Budiman, Koordinator 119 (Layanan Kesehatan) Dikes Dompu.
Bersama Budiman, sejumlah personel kepolisian, TNI, wartawan dan beberapa warga berjalan kaki lebih kurang 100 meter menuju tempat tinggal pasien Covid-19.
Tak butuh waktu lama. Begitu rombongan sampai, Man, suami N, keluar menyambutnya. Danramil Yamin pun langsung naik dan duduk di emperan perumahan itu. Menyusul di sampingnya Kapolsek Kadek.
Tidak tampak raut sangar dan penentangan dari Man, seperti yang diperlihatkannya ketika kali pertama istrinya hendak dibawa ke RSUD Dompu, pekan lalu. Tadi malam dia tampak luluh.
Terlibat perbincangan antara Man dengan Danramil, Kapolsek dan beberapa anggota. Termasuk wartawan, sesekali ikut melontarkan pertanyaan.
Baik Danramil maupun Kapolsek, sama-sama menyampaikan tujuan kedatangan mereka untuk menjemput N. Selain itu, memberikan pemahaman dan pengertian kepada Man agar kooperatif proses penanganan Covid-19, demi kesembuhan istrinya.
Mendengar itu, Man mengaku, dirinya tidak bermaksud membangkang. Sebab, akhir pekan lalu dia sempat membawa istrinya ke RSUD Dompu untuk diisolasi.
“Tapi oleh Ibu Ayu, kepala ruangan di Kamar Bersalin, menyuruh kita pulang. Katanya, isolasi mandiri saja di rumah. Makanya, kita pulang lagi,” kata yang diperkuat istrinya, N, dari dalam rumah.

Sementara itu, Ibu Ayu melalui telepon genggam yang diperbesar suaranya, tadi malam mengakui, bahwa N memang diminta isolasi mandiri di rumahnya.
Sebenarnya, menurut dia, yang positif terpapar Covid-19 bukan hanya N. Tapi ada lima orang lain, termasuk Dokter Ad. Sehingga jumlahnya enam orang.
Dijelaskan Ayu, Dokter Ad (disebutkan nama lengkap, red) telah diisolasi di Mataram. Sedangkan empat pasien positif lainnya sudah isolasi mandiri di rumah masing-masing.
“Maka, N juga kita suruh isolasi mandiri di rumahnya selama 10 hari. Sama dengan yang lainnya,” ujarnya.
Informasi yang diperoleh Lakeynews.com di lapangan, hasil pengambilan Swab keenam pasien itu dikirim ke Sumbawa untuk diperiksa pada 23 November lalu. Keluar hasilnya dan dinyatakan positif pada 27 November.
Kebijakan isolasi mandiri selama 10 hari itu dinilai aneh. “Kok, bisa berubah begini waktu isolasinya? Padahal yang kita tahu, masa inkubasinya, kan 14 hari,” kata beberapa warga berpendidikan mendengar penjelasan Ayu.
Mengingat masa isolasi mandiri sudah mau berakhir, tim yang turun tadi malam memutuskan, tidak jadi “mengeksekusi” N untuk diisolasi ke RSUD atau Gedung Sanggilo.
Tetapi sebelum meninggalkan rumah N sekitar pukul 23.20 Wita, Kapolsek Kadek dan Danramil Yamin kembali memberikan pengarahan pada Man (suami N).
“Kalau ada penanganan lebih lanjut dan Bapak/Ibu dibutuhkan, tolong kooperatif ya. Jangan persulit,” pesan Kapolsek.
Hal senada juga disampaikan Danramil. Bahkan, Yamin sempat mengajak Man untuk jalan-jalan ke rumahnya.
“Jika besok lusa Man dan istrimu diminta untuk pemeriksaan kesehatan misalnya, ikuti dan hadir, ya,” imbuh Yamin.
Mendengar pesan-pesan dari dua perwira dari Polri dan TNI itu, Man mengiyakannya. “Iya Pak, saya akan ikuti,” jawab Man sembari mengangguk-anggukan kepalanya.
Masalahnya tidak sampai disitu. Yang parah lagi, koordinasi antarunsur Satgas Covid-19 Dompu terkesan kacau. Sehingga informasinya menjadi simpang siur.
Selain itu, pelayanan dan penanganan terhadap pasien N tergambar buruk dan begitu membingungkan.
Bayangkan sekelas Sekretaris Satgas Kabupaten Jufri tidak mengetahui sama sekali tentang isolasi mandiri bagi N. Yang dia tahu selama ini, N diisolasi di RSUD.
Jufri mengaku, sudah konfirmasi dan koordinasi langsung dengan Direktur RSUD Dompu, dr. Alif. Dokter Alif menegaskan, tidak ada kebijakan isolasi mandiri di rumah bagi N.
“Beliau mengatakan tidak pernah memerintahkan isolasi mandiri. Justru kata Direktur, sudah menyiapkan ruangan isolasi di rumah sakit,” tandas Bang Jef (sapaan Jufri), mengutip penjelasan dr. Alif.
Jufri menegaskan, dirinya tidak ingin kasus serupa (koordinasi dan kekacauan informasi) terulang kembali.
“Kalau sebelumnya kita tahu bahwa N diisolasi mandiri, maka kita tidak gila hendak menjemput malam-malam begitu di rumahnya,” tegas Jufri pada Lakeynews.com, Jumat (4/12) pagi tadi.
Kekecewaan tiada tara juga datang Lurah Kansa Dedy Arsyik. Rasa kecewanya, berawal dari lambannya eksekusi isolasi N.
“Akibat terlambatnya N dibawa isolasi, warga saya yang berdomisili di sekitar perumahan SDN 21 Dompu di Sambi Tangga menjadi resah. Mereka ketakutan sekali,” tegas Dedy.
Dampak lain dari kurang seriusnya penanganan N, sebagian warga Kansa kini mulai tidak percaya dengan Covid-19. “Mereka sudah ada yang terang-terangan mengatakan tidak ada Covid. Covid itu bohong,” sambung Dedy.
Kekecewaan Dedy bertambah puncak, ketika mengetahui tidak ada informasi yang jelas serta melihat koordinasi yang lemah dan kacau dalam penanganan pasien Covid-19 di wilayahnya.
“Tidak masuk akal, saya sebagai Lurah sekaligus ketua Satgas Covid-19 Kelurahan, tidak tahu N diisolasi mandiri. Kalau jelas informasinya dari awal, pasti kita semua paham,” ujarnya dengan nada kesal.
( sarwon al khan )
