Rangga Babuju, NTB Social Empowerment Team. (ist/lakeynews.com)

Penulis: Rangga Babuju *)
( NTB Social Empowerment Team )


Fenomena “Setor Nyawa” lebih cepat dari waktunya (Baca: Bunuh Diri) dengan cara menenggak Pil Tawon Liar yang dicampur kopi. Kini tengah mulai meresahkan warga Kabupaten Dompu, setelah beberapa bulan yang lalu heboh dengan para remaja yang mengakhiri hidupnya dengan menenggak Racun Serangga (La Natte) di wilayah Kecamatan Hu’u, Kabupaten Dompu.

Jika fenomena bunuh diri remaja Hu’u yang lalu didominasi oleh remaja perempuan, kini sensasi mabuk sekaligus rentan meregang nyawa didominasi oleh remaja lelaki. Bagaimana tidak, dalam sebulan terakhir (September), 4 remaja lelaki meregang nyawa setelah menikmati sensasi Pil Tawon Liar yang dicampur kopi. Sebelumnya, pada Juli lalu, seorang remaja asal Desa O’o Kabupaten Dompu, juga meregang nyawa setelah menenggak Pil Tawon Liar. Kok, tidak ada yang belajar dari peristiwa sebelum-sebelumnya, ya….???

Di Dompu, seperti yang dilansir oleh Lakeynews.com (23/9), empat dari lima korban meninggal dalam waktu sekitar sebulan terakhir. Mereka berinisial IH (19) dan AN (22), sama-sama warga Desa O’o; HN (20), warga Desa Mangge Asi; dan MB (19), warga Desa Sori Sakolo. Sedangkan satu orang lagi, Anh (22), warga Desa O’o meninggal pada Juli lalu.

“Sebelum dibawa ke rumah sakit dan akhirnya meninggal dunia, saya sempat bertanya kepada korban IH tentang penyebab dia sakit. Dia mengaku komsumsi banyak pil Tawon Liar campur kopi,” kata salah satu pemuda Desa O’o, Ardiansyah.

( Baca : http://lakeynews.com/2019/09/23/diduga-konsumsi-tawon-liar-lima-warga-dompu-meregang-nyawa

Sebelumnya, beberapa bulan yang lalu. Para remaja Kabupaten Sumbawa Besar, juga kerap mengonsumsi Pil Tawon Liar dicampur teh atau kopi ini. Ada 3 orang yang masuk rumah sakit dan salah seorang diantaranya meninggal dunia.

Dilansir oleh website bisnisnusatenggara.com, dijelaskan, Pil ini khasiatnya untuk menyembuhkan kolesterol, asam urat dan khasiat lainnya. Tetapi disalahgunakan untuk mabuk dengan cara dicampuri dengan teh atau kopi. Setelah meminum campuran jamu ini dengan teh atau kopi, maka sehari semalam tidak bisa tidur. Kemudian yang meminumnya mengeluarkan darah melalui lubang dubur. Bahkan saat ini sudah ada tiga korban yang menyalahgunakannya. Dimana satu diantaranya sudah meninggal dunia.

Sebelumnya, media online pikiranrakyat.com melansir bahwa, korban tewas berinisial Eg, warga Kedung Krisik Selatan Kelurahan Argasunya Kecamatan Harjamukti Kota Cirebon. Korban diduga meminum kapsul Tawon Liar sampai delapan butir yang dicampurkan dalam minuman kopi. Beberapa saat setelah minum, korban muntah darah dan meninggal.

Sedangkan korban selamat berinisial DG, T dan AS yang masih bertetangga, hanya mencampurkan tiga butir kapsul ke dalam minuman kopinya.

(Baca: https://www.pikiran-rakyat.com/jawa-barat/2019/08/16/tawon-liar-makan-korban-satu-orang-tewas-tiga-lainnya-kritis )

Bagaimana dengan Bima (kota maupun kabupaten)….??? Diam-diam ternyata Pil Tawon Liar mulai diminati pascatidak mempannya Obat Comix saset yang dicampur dengan minuman dingin seperti extrajoss maupun Nutrisari, untuk mendapatkan efek ‘fly’.

Fenomena ”setor nyawa” sebelum waktunya ini akan menjadi “bom Waktu” bagi generasi Dana Mbojo. Atensi khusus pun diharapkan dari para anggota legislatif Kota Bima yang baru dilantik hari ini (24/9) dan Kabupaten Bima yang akan dilantik besok (25/9).

Fenomena ini akan menyasar banyak anak-anak dan saudara kita. Fenomena ini adalah bagian dari kurang peka dan minimnya kepedulian orang tua dan para tetua tentang tumbuh kembangnya generasi.

Kita lebih sibuk mencari rejeki, kemudian menumpuk harta, ketimbang menjaga keberlangsungan bangsa ini (Bangsa Bima) untuk peradaban kehidupan kita kedepannya.

Dulu, ketika banyak Nitizen baik yang masih saya ingat maupun yang saya lupa-lupa ingat. Ketika saya menulis soal Bahaya Tramadol yang mulai mengintai Generasi kita. 80 persen akun yang mengomentari dengan menertawai dan mencibir untuk tidak usah mengurusi dan sok cari perhatian dengan status (dianggap) cari sensasi.

Kemudian, saya masih ingat pula, beberapa korban yang di bawa ke RSJ Sukma (Selagalas, Kota Mataram), RSJ Bangli (Denpasar) maupun yang direhabilitasi di BNN, adalah dari saudara dan keluarga yang menertawakan tadi, setelah beberapa tahun kemudian. Mungkin mereka tak ingat….!

Jaga keluarga dan lingkungan kita. Tandai “Pil Tawon Liar” itu karena rentan disalahgunakan oleh remaja kita. Pastikan tumbuh dan berkembangnya remaja keluarga kita dengan cara sehat dan rasional….!!  (*)

#KotaBima, 24092019

Baca juga ;

http://lakeynews.com/2019/09/23/tawon-liar-jamu-pegal-linu-diduga-ilegal-berbahan-kimia-dan-tanpa-izin-edar/ 

http://lakeynews.com/2019/09/23/tawon-liar-renggut-nyawa-pemdes-dan-bpd-oo-dompu-bentuk-tim-pengawas/