Pejabat itu menanyakan atau menawarkan kepada saya, ‘apakah mau dikembalikan sebagai guru di SMKN 1 Woja supaya saya tidak kehilangan hak sertifikasi atau melanjutkan permohonan Pensiun Dini’.” Drs. Abdul Jabar, mantan Kepala SMKN 1 Woja, Dompu.

Mantan Kepala SMKN 1 Woja, Kabupaten Dompu, Drs. Abdul Jabar, yang dimutasi menjadi guru di SMKN 1 Dompu dan tidak sesuai dengan keahliannya, teknis bangunan. (sarwon/lakeynews.com)

DOMPU, Lakeynews.comBagaimana kelanjutan persoalan mantan Kepala SMKN 1 Woja, Kabupaten Dompu, Drs. Abdul Jabar, yang dimutasi menjadi guru di SMKN 1 Dompu dan tidak sesuai dengan keahliannya, teknis bangunan?

Jabar mengaku belum lama ini pernah berkomunikasi dengan salah satu pejabat Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) Provinsi NTB. Dalam komunikasi via ponsel salah seorang kepala sekolah di Dompu itu, oknum pejabat itu menanyakan ketegasan sikap Jabar terkait surat permohonan Pensiun Dini yang diajukannya, beberapa waktu lalu.

“Pejabat itu menanyakan atau menawarkan kepada saya, ‘apakah mau dikembalikan sebagai guru di SMKN 1 Woja supaya tidak kehilangan hak sertifikasi atau melanjutkan permohonan Pensiun Dini’,” ungkap Jabar pada Lakeynews.com di Dompu, Kamis (1/2/2018) pagi menjelang siang.

Bagaimana tanggapan Anda atas tawaran itu?

“Saya katakan, tetap melanjutkan permohonan pensiun dini,” kata Jabar singkat. (Baca juga; Mutasi Kasek di NTB; Profesionalisme, Zalim ataukah Politis? )

Sayangnya, siapa oknum pejabat yang berkomunikasi dengannya, Jabar enggan menyebutkan. Demikian pula, kepala sekolah yang mempunyai ponsel yang digunakan Jabar saat berbicara dengan pejabat itu, dia minta tidak dipublikasikan.

Namun, mengapa Anda tetap bertekad melanjutkan permohonan Pensiun Dini? Bukankah “tawaran” alternatif pilihan itu merupakan progres positif bagi hak Anda yang diduga dizalimi pihak tertentu?

Diberondong dengan dua pertanyaan itu, Jabar kemudian menguraikan argumentasi dan alasannya. Intinya, yang tengah diperjuangkan bukan hanya untuk dirinya tapi juga menyangkut hak dan nasib rekan-rekannya yang mengalami hal yang sama dengan Jabar.

“Begini alasan saya memilih tetap melanjutkan permohonan Pensiun Dini itu. Jangankan dikembalikan sebagai guru di SMKN 1 Woja agar tidak kehilangan hak sertifikasi saya, dikembalikan sebagai kepala sekolah pun saya tidak mau kalau hanya untuk kepentingan pribadi saya,” tegasnya.

“Tapi kalau SK (surat keputusan) Mutasi bagi semua teman-teman (guru/kasek) yang mengalami hal sama seperti saya diperbaiki, maka saya siap ditempatkan di mana saja di seluruh wilayah NTB ini,” sambung pria yang akrab disapa Abah Jabar ini, juga dengan nada tegas. (Baca juga; Tak Mau Makan Gaji Buta, Mantan Kepala SMKN 1 Woja Ajukan Pensiun Dini )

Jabar kemudian menyebut sejumlah temannya, khususnya mantan kepala sekolah yang mengalami nasib serupa dengannya. Mereka yang juga terpaksa kehilangan tunjangan sertifikasinya karena ditempatkan di sekolah yang tidak sesuai dengan keahliannya itu tersebar di sejumlah kabupaten dan kota di NTB. Termasuk di Dompu, Kota Bima, Sumbawa dan lainnya.

Karena itu, kepada rekan-rekan yang senasib dengannya, walaupun tidak terlibat secara langsung dalam memperjuangkan hak yang diduga dizalimi oleh atasan itu, Jabar berharap supaya memberikan dukungan. “Ya, teman-teman mendukung saya dengan doa. Itu saja sudah cukup,” tandas pria fenomenal yang dikenal kritis ini. (won)