Selain menyumbang lagu, Bupati Dompu Bambang Firdaus BBF bersama istrinya, Onti Farianti Bambang, juga ikut menari bersama para penari pada Pentas Budaya di Taman Kota, Sabtu (12/5/2025) malam. (ist/lakeynews.com)

 

Lestarikan Budaya yang Terkikis, HUT ke-210 Dompu Suguhkan Lu’u ’Daha, Pawai dan Pentas Budaya (3)

 

SETELAH Lu’u ’Daha, Upacara Bendera, Pawai Budaya, dan beberapa kegiatan lain, maka Pentas Budaya pada Sabtu (12/5/2025) malam lalu adalah klimaks dari rangkaian kegiatan menyemarakkan peringatan HUT ke-210 Kabupaten Dompu. Puncak HUT sendiri dirayakan melalui upacara pada Jumat (11/5/2025).

Kegiatan yang diselenggarakan di bilangan Taman Kota Dompu tersebut berlangsung begitu meriah. Dihadiri selain pemerintah juga berbagai elemen masyarakat dan paguyuban warga yang hidup di Bumi Nggahi Rawi Pahu.

Di antaranya, Majelis Adat Dompu, Lembaga Adat Masyarakat Donggo, Paguyuban Bima, Paguyuban Samawa, Paguyuban Sasak, Paguyuban Bali, Paguyuban Madura, Paguyuban Sulawesi, Paguyuban Jawa, Paguyuban NTT, Paguyuban Padang, dan lainnya.

Mereka berbaur, menyatu padu dengan berbagi kebahagiaan dengan masyarakat Dompu. Merasakan kebahagiaan, menikmati berbagai hiburan yang disuguhkan panitia Pentas Budaya bertema “Harmoni Dou La’bo Dana Menuju Dompu Maju” itu.

“Kegiatan yang dibingkai dalam kegiatan budaya ini lebih kepada malam ramah tamah dan keakraban, malam kesenian dan hiburan, setelah melaksanakan berbagai kegiatan,” kata Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Dompu Abdul Muis pada Lakeynews.com.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Dompu Abdul Muis. (dok/lakeynews.com)

Kegiatan tersebut memang berlangsung begitu meriah. Diisi dengan penampilan-penampilan menarik dari beberapa sanggar budaya dan paguyuban warga.

Pada pra acara Pentas Budaya perdana dalam pemerintahan Bupati BBS bersama Wakil Bupati Syirajuddin, disuguhi Tarian Toho Soji Ra Sangga dari Sanggar Mada Ntana – Pajo.

Setelah dibuka dan dilanjutkan sambutan Bupati Bambang Firdaus (BBF), lagi-lagi hadirin dimanjakan dengan beragam hiburan.

BBF sendiri bersama istri tercinta (Ketua PKK) Onti Farianti Bambang, dengan semangat ikut menari bersama sejumlah penari pada malam itu. Namun sebelumnya sempat menyumbangkan lagu. Melantunkan syair-syair lagu Nggahi Rawi Pahu, dan mendapat sambutan hangat warga yang hadir.

Anak-anak Sanggar SMAN 2 Dompu mendapat giliran kemudian untuk menunjukkan kebolehannya. Mereka menampilkan Tarian Tempurung yang mengundang decak kagum. Kemudian disusul Musik Lasqi.

Selanjutnya, Tarian Piring dari Paguyuban Minang, Lagu Campur Sari dari Paguyuban Jawa, dan Tarian Massal Flobamora yang merupakan salah satu Tarian Adat NTT.

Band RVB (Ruka Voice Band), dan Lagu-lagu Daerah Dompu turut menggema di malam yang kian larut tersebut.

Menurut Kadisbudpar Abdul Muis, Pentas Budaya untuk memeriahkan Hari Jadi Dompu tahun ini mengusung tema Harmoni Dou La’bo Dana Menuju Dompu Maju.

“Tema ini bermakna menciptakan keselarasan, keseimbangan dan kebersamaan antara sumber daya manusia dan sumber daya alam yang dimanfaatkan untuk mewujudkan Dompu yang terus bergerak ke arah lebih baik dan maju,” urainya.

Baca juga:

Perayaan Hari Jadi Dompu kali ini, lanjutnya, berbeda dengan sebelum-sebelumnya. Seluruh elemen masyarakat di Kabupaten Dompu turut serta menyukseskan acara. Seluruh etnis merasakan keakraban sesuai dengan tema yang diangkat.

“Peringatan Hari Jadi Dompu kali ini sebagai wujud kebersamaan. Elemen-elemen masyarakat Dompu yang tergabung dalam berbagai peguyuban, dengan latar belakang budaya berbeda-beda, namun tetap dalam satu bingkai ke-Bhinneka-an,” papar Pak Daeng, sapaan akrab Abdul Muis.

Paguyuban Minang yang ada di Dompu ketika memainkan Tarian Piring, tarian tradisional Minangkabau, Sumatera Barat. (ist/lakeynews.com)

Sinopsis-Filosofi Empat Tarian

Sebagaimana disebutkan di atas, pada malam hiburan, Pentas Budaya menampilan empat jenis tarian. Yakni Tarian Toho Soji Ra Sangga, Tarian Tempurung, Tarian Piring, dan Tarian Massal Flobamora.

Plt. Kabid Kebudayaan Disbudpar Kabupaten Dompu Dedi Arsyik pada Lakeynews.com menjelaskan sinopsis dan filosofi singkat tarian-tarian itu;

 

Tarian Toho Soji Ra Sangga

Tarian Toho Soji Ra Sangga, disuguhkan Sanggar Mada Ntana – Pajo sebelum seremonial acara dimulai. Tarian ini merupakan sebuah karya tari yang diilhami dari ritual sakral dan magis masyarakat Dompu sebelum masuknya Islam.

“Tarian ini adalah ritual peletakan sesaji yang terdiri dari hasil bumi dan laut. Toho Soji sebagai perantara memohon keberkahan juga keberhasilan dalam kehidupan kepada para leluhur,” jelas Dedi.

Dalam tarian ini, penari wanita membawa kamaya mengi (kemenyan) diiringi syair-syair sakral Nangi la Mema (Tangisan si Mema). Puncak dari tarian ini saat para leluhur merasuki tubuh para penari dan terjadinya Bolo (kesurupan), bermakna sesaji yang dikhaturkan telah diterima.

 

Tarian Tempurung

Tarian Tempurung, ditunjukkan anak-anak binaan Sanggar SMAN 2 Dompu. Filosofinya, mengajarkan masyarakat dan semua orang untuk menjadi orang baik, bermanfaat dan tidak merugikan orang lain.

“Jadi, jangan sampai kita menjadi orang yang memberontak dan berbuat keburukan. Sebaliknya saling menghormati dan berbuat baik kepada sesama,” kata Dedi mengutip penjelasan pihak Sanggar SMAN 2 Dompu.

 

Pamog Budaya yang juga Plt. Kabid Kebudayaan Disbudpar Kabupaten Dompu Dedi Arsyik. (ist/lakeynews.com)

Tarian Piring

Tarian Piring yang dipertontonkan Paguyuban Minang yang ada di Dompu adalah tarian tradisional Minangkabau, Sumatera Barat.

Tarian ini menampilkan atraksi menggunakan piring. Para penari mengayunkan piring di tangan, mengikuti gerakan-gerakan cepat yang teratur, tanpa satupun piring terlepas dari tangan.

Tari ini biasanya dipentaskan dalam berbagai acara, seperti pernikahan, khitanan, dan upacara adat lainnya. Pementasannya menunjukkan pentingnya nilai-nilai budaya dalam kehidupan sehari-hari.

“Tari Piring mengisahkan hubungan antara manusia dengan alam, hubungan sesama manusia, dan hubungan manusia dengan Yang Maha Kuasa,” jelas Dedi.

 

Tarian Paguyuban Flobamora

Tarian dari Paguyuban Flobamora – NTT diketahui ada beberapa jenis tarian. Dua diantaranya, Tarian Flobamora untuk malam.

Salah satunya, Tarian Malam Flobamora sebagai tarian-tarian kebersamaan dalam menyatukan berbagai suku, klen, marga dan etnis di NTT. Bersatu padu dalam derap langkah yang sama. “Bergembira bersama karena berbagai keberhasilan,” jelas Dedi.

Satu lagi tarian untuk malam, Tarian Etnis Sumba Barat Daya NTT. Namanya Tarian Gasa. Tarian ini menggambarkan proses menanam padi, merawat, mencegah dari hama di sawah atau ladang, dan proses panen. Kemudia di bawah ke rumah, mengawetkan dan mengolah menjadi beras untuk dikonsumsi oleh keluarga.

Selain itu, ada juga Tarian Woleka, Tarian Spontanitas di VIIP saat karnaval dari Sumba Barat Daya. Tarian ini untuk penyambutan tamu kehormatan dari pemerintah atau tokoh adat yang dihormati atau dituakan. Ungkapan rasa syukur dan bangga karena berkenan hadir di tengah-tengah suku/etnis untuk berbagai acara.

Kemudian, Tarian Ja’i Bajawa, Tarian Spontanitas di VVIP saat karnaval. Ini tarian karena sukacita ulang tahun atau pernikahan, selesai panen dan acara sukacita lainnya. Juga rasa syukur atas berkat Tuhan dalam keluarga.

Tarian ini membangun kebersamaan dan berbagi kebahagiaan, serta bersatu padu sebagai suatu kerabat sosial. Situasi suka dan duka selalu saling menopang, bergandengan tangan dan saling menguatkan.

Bagaimana respons “mereka” terkait digelarnya beberapa event kebudayaan dan dijadikan rangkaian perayaan HUT ke-210 Kabupaten Dompu? Nantikan pada ulasan berikutnya, sekaligus edisi pamungkas. (won/bersambung)