Sejumlah pasien yang datang berobat ke Dokter Spesialis Paru, dr. Fitratul Ramadhan, Sp.P di Jalan Lintas Sumbawa, depan SPBU O’o, Kecamatan Dompu, Kabupaten Dompu. Dan, dr. Fitratul Ramadhan, Sp.P (kanan). (ist/lakeynews.com)

DOMPU, Lakeynews.com – Sejak membuka praktik mandiri sebagai dokter Spesialis Paru pada 18 April 2022 lalu, dr. Fitratul Ramadhan, Sp.P sudah melayani lebih kurang 1.000 pasien dari Kabupaten Dompu dan Bima.

“Awal-awalnya, pasien yang dilayani hanya 10-15 orang per hari. Namun, sekitar dua minggu setelah itu (mulai awal Mei), pasien yang datang memeriksakan diri rata-rata di atas 20 orang per hari,” kata Dokter Fit (sapaan Fitratul Ramadhan).

Hal itu disampaikan Dokter Fit pada Lakeynews.com di sela-sela melayani pasien di tempat praktik mandirinya, Jalan Lintas Sumbawa, depan SPBU O’o, Kecamatan Dompu.

Baca juga:

Umumnya, para pasien menderita penyakit PPOK (Paru-paru molor), Asma, TBC Paru dan Bronkitis.

Mereka dominan disebabkan oleh asap rokok, bawaan/keturunan dan penularan kuman lewat udara.

Dokter Fit merekomendasi pada para pasien dan keluarganya agar menjaga kesehatan lingkungan, mental dan rohani.

“Beberapa di antara pasien yang kondisinya tidak memungkinkan untuk obat rawat jalan, saya langsung anjurkan dirawat ke rumah sakit (RSUD Dompu, red),” jelasnya.

Apa tantangannya menjadi dokter spesialis jika dibandingkan dengan dokter umum?

Menjawab pertanyaan itu, Dokter Fit menjelaskan, tantangan sebagai dokter spesialis karena proses konsultasinya. Terutama berkaitan dengan spesialisasi, sehingga perlu penanganan yang lebih komprehensif.

“Kalau waktu menjadi dokter umum, bila kita belum cukup punya keahlian di bidang tersebut tinggal rujuk atau minta pasiennya ke dokter spesialis,” sambungnya.

Saat ini yang menjadi tantangan dan hambatannya, fasilitas tempat praktik yang belum ada pemeriksaan penunjang. Seperti tempat rontgen.

“Tapi, sementara ini, bisa diatasi dengan meminta pasien datang ke RSUD Dompu atau Bima,” tuturnya.

Kepada masyarakat, Dokter Fit mengharapkan agar lebih peka lagi terhadap lingkungan. Jauhkan asap rokok, terutama kepada perempuan dan anak atau mereka yang memiliki penyakit alergi. “Pakai masker bagi yang memiliki penyakit menular,” imbuhnya.

Sedangkan kepada instansi, Dokter Fit menilai, sejauh ini sudah mulai berkoordinasi dengan pihak-pihak terkait. Seperti bidang P2PL Dinas Kesehatan untuk screening TBC Paru.

Selain itu, rapat koordinasi dengan dokter, kepala Puskesmas dan pemegang program TB untuk meningkatkan taraf kesehatan masyarakat khususnya di bidang Paru-paru. (ayi)