Kadis Pertanian dan Perkebunan Kabupaten Dompu Muhammad Syahroni, MM (kanan) ditemani Kabid Prasarana dan Sarana Pertanian (PSP) Edy Chaidir. (ist/lakeynews.com)

DOMPU, Lakeynews.com – Puncak panen jagung di Kabupaten Dompu tahun 2022 diperkirakan berlangsung pada akhir Maret ini dan April depan. Pada puncak panen ini diperkirakan mencapai 46.441 hektare (Ha).

Perkiraan itu disampaikan Kadis Pertanian dan Perkebunan (Distanbun) Dompu Muhammad Syahroni, MM. “Maret sekitar 30.945 Ha dan April 15.496 Ha,” katanya pada Lakeynews.com, usai menghadiri Rapat Dengar Pendapat Umum (RDPU) DPRD Dompu, Jumat (11/3).

Hal senada disampaikan Syahroni dalam RDPU di Ruang Sidang Utama DPRD yang membahas masalah harga jagung, pupuk dan obat-obatan (pestisida).

Secara spesifik, Kadis muda yang akrab disapa Dae Roni itu menguraikan hal-hal terkait tugas pokok dan fungsi Distan. Yakni produksi dan budidaya.

Menurutnya, pada Januari lalu, realisasi panen jagung 573 Ha. Sedangkan pada Februari seluas 8.869 Ha.

Sebelumnya, Dae Roni mengungkapkan, realisasi tanam (luas tanam) jagung sampai keadaan Februari, 55.892 Ha. Capaian tersebut melampaui target tanam musim hujan tahun 2022.

“Target tanamnya sebesar 53 ribu hektare. Realisasinya, 55.892 hektare. Atau, melebihi target sebesar 106 persen. Ada peningkatan luas tanam,” papar Dae Roni.

Dijelaskan, sisi produsi tahun 2022, budidaya dan produksi relatif lebih baik dari tahun lalu (2021). Lebih baik karena gangguan OPT (organisme pengganggu tanaman) dan perubahan iklim tidak terlalu berdampak pada proses produksi. “Kita berharap hasil produksinya tinggi,” ujar Dae Roni.

Bagaimana dengan persoalan harga saat ini?

Meski tidak terkait langsung dengan Tupoksi Distanbun, Dae Roni menegaskan, masalah harga saat ini harus benar-benar menjadi atensi bersama.

“Kami pihak dinas pertanian sangat mengapresiasi langkah advokasi yang dilakukan rekan-rekan GMNI (Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia Cabang Dompu, red). Baik terkait harga jagung maupun pupuk dan pestisida,” tandasnya.

Dae Roni juga berharap, perbaikan produksi dan budidaya tahun ini jika dibanding tahun sebelumnya benar-benar dinikmati masyarakat petani. “Ini selaras dengan yang disampaikan pihak GMNI,” paparnya.

Jika merujuk pada HPP (harga pokok penjualan), sebut Dae Roni, harga jagung Rp. 3.150 rupiah per kilogram (Kg). “Kami menyebut harga jagung sekarang Rp. 4.600 per Kg, tapi dari pihak gudang menyebut Rp. 4.800 per Kg,” jelasnya.

Hal ini, menurut dia, sesuatu yang harus diapresiasi. Dengan harapan, seperti penjelasan pihak pengusaha, tergantung sungguh mekanisme pasar. “Komitmen pemerintah akan tetap mengawasi,” tegas Dae Roni. (ayi)