Ketua Forum Umas Islam (FUI) Kabupaten Dompu H.M. Amin, M.M.Pd. (dok/lakeynews.com)

Oleh: H.M. Amin, M.M.Pd  *)

TUNJUKI Kami Jalan yang Lurus” (Al-Faatihah Ayat 6). Demikian Allah SWT ajarkan kepada orang beriman untuk memohon hidayah dalam Alquran.

Kemudian Allah menerangkan lebih jelas lagi. “Inilah jalanku yang lurus ikutilah dan jangan mengikuti jalan yang lain yang menceraiberaikan kamu” (Al-An Am: 153).

Ibnu Katsir menjelaskan dalam tafsirnya, yang dimaksud jalan yang lurus itu adalah Alquran dan Assunah yang berfungsi sebagai guideline kehidupan bagi umat Muhammad SAW. Yang dapat membimbing umat manusia untuk keluar dari kegelapan menuju cahaya kehidupan yang abadi.

Di ayat lain Allah memvisualisasikan ada beberapa golongan  manusia yang berada di atas hidayah (jalan lurus) dan disebut sebagai orang yang memperoleh nikmat Allah adalah: para nabi, shiddiqin, syuhada dan shalihin. “Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya” (QS an-Nisa`: 69).

Mereka yang tersebut di atas adalah para Ahlul Quran (Generasi Quran) yang kehidupannya dapat dijadikan teladan manusia sepanjang zaman. Mereka hidup bersama Alquran. Mempelajari, mentadaburi,  mengamalkan dan memperjuangkan Alquran agar dapat menyinari kehidupan alam semesta.

Pada Masa Rasulullah SAW Hidup

Peranan Alquran dan Assunah telah memberi kontribusi yang besar terhadap lahirnya sebuah peradaban  baru yang berlandaskan Tauhid. Peradaban yang membebaskan manusia dari Penyembahan Berhala, Penindasan dan Perbudakan pada masa itu. Yang mengajarkan nilai-nilai kebangsaan, toleransi, kemanusiaan dan keadilan.

Pada masa itu, hidup berdampingan berbagai Ras dan Kelompok agama secara damai. Intelektual muslim, mantan Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim menyebut masyarakat heterogen yang hidup di era kepemimpinan Rasulullah disebut sebagai masyarakat Madani, yakni masyarakat yang beradab dan hidup sejahtera di bawah naungan hidayah Alquran.

Demikian juga pada masa Khalifah Umar Bin Khatab. Beliau menaklukan Palestina dari kekaisaran Bizantium yang beragama Nasrani. Pada masa itu, Tidak ada satu gerejapun yang dirobohkan. Semua Ras dan kelompok agama (Islam, Yahudi dan Nasrani) hidup berdampingan di bawah kepemimpinan Khalifah Umar.

Kehidupan berjalan aman dan damai. Tercipta suasana Toleransi,  saling menghormati satu sama lain dalam  kehidupan beragama dan berbangsa.

Penegakan Hukum dilaksanakan seadil-adilnya. Seluruh warga/masyarakat diperlakukan sama tanpa pandang bulu. Rasulullah bersabda: “Barangsiapa menyakiti seorang zimmi (non muslim yang tidak memerangi umat Muslim), maka sesungguhnya dia telah menyakitiku. Dan barang siapa yang telah menyakitiku, maka sesungguhnya dia telah menyakiti Allah” (HR. Thabrani).

Berdasarkan hadis ini, maka haram mengambil barang milik non muslim atau mengganggu hewan piaraannya. Umat muslim tidak boleh menyakiti non muslim dalam bentuk apapun, baik dengan perkataan, perbuatan, tindakan, kebijakan, termasuk mengganggu hewan piaraannya. Keharaman mengganggu milik non muslim sama seperti keharaman mengganggu milik orang muslim lainnya.

Umat manusia di abad ini mendapat pelajaran yang amat berharga dari tokoh-tokoh Islam yang pernah memimpin dunia. Kita menemukan begitu banyak permata yang berharga dalam kepemimpinan mereka tentang berbagai hal, terutama dalam kehidupan berbangsa, bernegara, hukum dan kemanusiaan.

Termasuk para tokoh pendiri bangsa diawal kemerdekaan (founding fathers) ketika merumuskan Pancasila sebagai Dasar Negara. Sila pertama sampai dengan sila kelima semuanya terinspirasi dari nilai-nilai  Alquran.

Tren dan motivasi masyarakat Islam di abad 21 untuk kembali menjadikan Alquran sebagai Road Map (panduan hidup)  cukup signifikan.

Eksistensi Lembaga Pendidikan Islam dengan muatan Kurikulum Tahfiz Alquran yang dikelola secara profesional mendapat tanggapan positif dari masyarakat Islam sebagai lembaga pendidikan alternatif.

Mereka berbondong-bondong memasukan anak-anaknya ke sekolah Islam. Baik sekolah reguler maupun yang boarding school dengan bayaran mahal. Harapannya, anak-anak mereka mahir membaca, menghafal dan mengamalkan Alquran, serta terbentuknya kepribadian anak yang berakhlak mulia.

Selain itu, juga sebagai langkah antisipatif terhadap derasnya pengaruh negatif arus kehidupan global yang cenderung permisive (pergaulan bebas) yang menyasar anak dan remaja usia sekolah sebagai aset masa depan bangsa.

Senada dengan itu, John Naisbit dalam MEGA TREND 2000 menulis, di antara 10 tren besar abad 21 adalah Tren Agama. Jhon Naisbit tidak menyebut secara jelas nama agama yang mengalami tren kenaikan.

Pendapat Jhon Naisbit hampir sama dengan pendapat intelektual barat lainnya. Seperti George Bernad Shaw, mengatakan, bahwa Islam merupakan Agama Masa Depan Dunia. (*)

*) Ketua Forum Umas Islam (FUI) Kabupaten Dompu.