
Oleh: N. Marewo *)
–
Di belahan dunia manapun dan pada zaman kapanpun, profesi menulis merupakan pilihan yang terlalu nekat untuk dilakoni karena berhadapan dengan begitu banyak risiko. Namun hidup siapa yang tanpa risiko?
Menulis bagian dari panggilan jiwa – bergetarnya keinginan berbagi akibat mencuat dan rembesannya ide-ide yang tak terbendung. Kata dan kalimat dalam bahasa digunakan sebagai instrumen. Dan dalam cabang kesenian lain terdapat instrumen berbeda yang dijalani pemahat, musisi, pembuat film dan pelukis. Kesemuanya bergelut dengan gagasan, ide.
Penulisan puisi, cerita pendek, novel dan naskah drama merupakan bagian dari bentuk-bentuk karya sastra yang dikenal umum. Tak ada cara baku dalam tahapan penuangan ide-ide tergantung apa pilihannya, bagaimana kebiasaandan seberapa kesanggupan kita. Meletakkan niat yang kuat untuk berkarya, keleluasaan waktu yang dipunyai,dan self-confidence sangat dibutuhkan sebelum menulisnya. Intesitas berlatih di samping kualitas dan kuantitas membaca mutlak dilalui karena keterkaitannya dengan pemahaman peta penulisan.
Mengenali dan memahami makna puisi dan alasan mengapa cerpen, novel dan naskah drama ditulis merupakan bagian yang juga tak kalah penting. Selain puisi, aspek-aspek vital dalam penyelesaian penulisan karya sastra tak berbilang banyaknya – seluas perasaan dan jangkauan pikiran (namun detail tentang hal ini menjadi wilayah kritikus sastra, bukan kewajiban para penulis untuk menguasainya).
Puisi merupakan suasana hati. Cerita pendek diilustrasikan sebagai bacaan sekali duduk yang diharapkan sangat berfaedah bagi pembacanya karena memuat kandungan “pesan-pesan” yang di dalamnya termasuk pesan moral. Novel yang merupakan bacaan lebih panjang memerlukankegigihan dan ketabahan ekstra serta cadangan tenaga kuda untuk menggarap – sebab dituntut agar konsisten dalam penceritaan. Dan naskah drama tak lain dari tulisan yang kelak dipentaskan dan melibatkan kerja tim (sutradara, penata artistik dan lainnya).
Puisi ditulis saat perasaan menggebu untuk meluapkan kata atas suasana batin. Karya prosa yang lebih panjang dan tak memerlukan bungkusan simbul dilatih, diulang-ulang dan berproses dengan tumpukan “bahan-bahan” yang jauh lebih beragam.

Pengetahuan yang menangkap perbedaan atas jenis-jenis tulisan dalam karya sastra sangat membantu memperluas cakrawala berpikir penulis sehingga membuahkan karya berisi dan bermutu. Seburuk apapun karya sastra tidak termaafkan bisa terlahir dari rahim copy paste, plagiat dan semacamnya. Keaslian dan kemurnian karya merupakan keharusan walau tak dapat dielak pengaruh bacaan dan cara kerja para pendahulu. Dituntut kepekaaan perasaan, ketulusan, kemampuan mengolah dan menyusun kata di samping kekayaan berbahasa juga diperlukan logika yang kuat, pemahaman dan penguasaan terhadap topik yang ditulis. Dan pilihan diksi yang pas diprioritaskan.
Selain puisi yang menoreh suasana batin; cerpen, novel dan naskah drama mutlak memerlukan kekuatan logika dan daya nalar. Dan, untuk itu, bila hendak menggarap novel yang baik maka bayangkanlah sebuah novel yang dianggap bagus tergengggam di tanganmu. Seperti halnya menyajikan makanan, diperlukan imajinasi yang dapat “melihat” makanan bergizi terhidang menggiurkan dalam piring-piring dan mangkuk di meja rapi. Bahan-bahan yang tersedia di dapur diperhatikan dan dikalkulasi. Apa yang belum lengkap dan mesti dikumpulkan. Bahan apa yang dominan dan tidak untuk menu yang hendak dihidangkan; takarannya seberapa, rasa apa yang dimaui, bumbu masakan apa yang diperlukan, dihidang mentah atau direbus, dipanggang atau digoreng atau campuran dari kesemuanya? Bila digoreng pakai minyak apa? Buat membuatnya gurih pakai kacang apa yang pas, dan tidak membuatnya dominan sehingga rasa asli dari bahan menu utama yang dihidangkan tidak terabaikan. Kita tes rasanya, dipikirkan juga apakah hindangan untuk dikonsumsi sendiri, buat keluarga ataukah umum, diperuntukkan anak-anak, bayi, remaja, orangtua, ataukah hidangan untuk segala usia?
Ketelitian dalam penggarapan karya sastra tentu sebuah keharusan. Bila mungkin diendapkan sebelum diedit lagi dan dikirim ke media massa agar dapat dinilai redaktur sastra yang berfungsi sebagai quality control. Di dapur redaktur sastra-budayalah setiap karya dibaca teliti, dianalisa layak tidaknya untuk dibaca khayalak. Tulisan-tulisan yang akan dikonsumsi publik dipertimbangkan logika penceritaan, rancu tidaknya, layak tidaknya dihidangkan ke ranah publik.
Makanan yang disaji di restoran-restoran tak boleh membahayakan kesehatan konsumen (itu salah satu fungsi quality control). Apalagi terigu, ikan dan dagingnya tidak asli, tak jelas dari mana dan meracuni. Langsung atau tak langsung seorang penulis bertanggung jawab secara moral terhadap pembaca yang dirampas waktu dan kesempatannya, pikiran dan tentu juga materi.
Bagi penerbit, menggandakan buku memerlukan pertimbangan dan kalkulasi besar. Diperlukan alasan-alasan kuat karena tak ingin citranya sebagai penerbit tercoreng akibat dinilai serampangan. Sebab, urusan buku menyangkut nasib banyak orang, bahkan kualitas sebuah bangsa. Bahasa menunjukkan bangsa.
Dunia perbukuan merupakan monumen pucuknya intelektual yang ikut menentukan tegak dan runtuhnya peradaban sebuah bangsa. Siapapun yang terlibat dalam dunia perbukuan bertanggung jawab terhadap baik tidaknya perkembangan generasi mereka; kesehatan jiwa para pembaca.
Mencetak tulisan dan membukukan karya merupakan hal lain karena pada zaman now iklim penerbitan buku tidak sesulit dulu yang mana penulisnya menunggu bertahun-tahun. Menjadi penulis bukanlah hal mentereng. Tak diperlukan lagi jalur media massa seperti halnya surat kabar dan majalah sastra. Tak perlu lagi quality control.
Menulis buku sangat gampang karena dianggap soal teknis, dan kian hari semakin tumbuh deretan alasan untuk menggampangkannya. Seseorang bisa saja menulis bagaimana beternak belut walau penulisnya tak sempat melihat dan memegang belut. Internet setia setiap saat, disamping ketersediaan editor dan segala macam tukang sulap yang menyediakan jasa asalkan sanggup membayar.
Ghost writer bisa dinegosiasi asalkan ada budget. Bahkan kalau mau penulis kenamaan pun bisa saja hanya membuat draft, toh editor yang sudah faham keinginan dan ke mana arah pemesan bisa menyelesaikan dengan sempurna. Bila kebiasaan ini membudaya; maka demikianlah budaya baca-tulis kita. Toh penggarapan skripsi dalam dunia akademik pun tidak murni lagi, bahkan lebih keruh dari yang sanggup kita pikirkan.
Menjadi tanda tanya besar mengapa minat membaca buku di kalangan masyarakat justru rendah ke titik penghabisan saat buku-buku marak diterbitkan. Kian hari minat membaca kian surut di bawah susut? Para pendidik demikian kesulitan mengarahkan siswa-siswa mereka agar rajin membaca buku. Adakah sikap generasi penerus yang cuek terhadap buku-buku berhubungan dengan itu semua?
Selera bergantung mood dan menu yang disuguhkan – gizi bacaan bagaimana yang tersaji. Banyak buku dijual online, sebagian dipajang di toko-toko buku, di rumah-rumah baca maupun di perpustakan-perpustakaan. Namun, merebaknya generasi muda yang kecanduan bermain game merupakan tantangan dan pe-er tersendiri, menjadi fokus pemikiran setiap eleman. Di sana-sini siang malam tunas-tunas bangsa berwajah pucat bermata sayu tak lepas hape android. Melupakan waktu beribadah, melalaikan jam makan dan jam tidur, membantah dan membangkang pada orangtua dan kesulitan berinteraksi sosial secara wajar. Di belahan yang berbeda mereka menggandai nyawa di sadel-sadel motor, dan tak sedikit turut terlibat dan menjadi korban narkoba.
Panggung-panggung pementasan, gedung kesenian, perpustakaan-perpuskaan baik di sekolah dan di kampus-kampus, stad bibliotik yang dibangun mentereng mestinya mencerahkan wajah-wajah mereka, namun tampak muram dan sepi. Hanya rak-rak buku bisu, meja kusam dan kursi berdebu.
Dahulu, para tetua kita menyimpan rapi bacaan dalam peti-peti kayu melebihi harta karun adalah kurun di mana kata dan bahasa punya taring, lebih tajam dari gigitan singa. Itu zaman tak ada internet seperti sekarang di mana miliaran kata masuk ke ponsel kita setiap menitnya. Proses kreatif penulisnya berbeda. Dan itu dahulu, tantangan zaman tidak seberat sekarang – buku ditulis atas ketulusan melayani anak-anak negeri – saat mana buku dinilai lebih penting dari sepatu, lemari, baju, makanan, kendaraan dan status sosial.
Bagaimana menumbuhkan trust generasi terhadap pentingnya membaca buku, membiaskan kebiasaan membaca sehingga menjadi bagian dari budaya? Bukankah buku gudang ilmu? Bukankah buku jendela dunia?
Bacaan bermutu dan menggiurkan tentu menggiring. Itulah barangkali mengapa sejak awal penyampaian “pesan-pesan” dalam setiap penulisan sangat diindahkan dan proses kreatif dibahas secara mendasar.
Membiasakan diri banyak membaca, latihan berulang-ulang dan berkelanjutan, perenungan, pendalaman atas realitas sekeliling dan pengalaman membaca karya-karya penulis lain boleh jadi gerbang yang ditapaki penulis untuk menghasilkan karya yang juga bagus. Zaman kata-kata murah seperti era internet sekarang, sekali lagi merupakan tantangan berat untuk merebut hati pembaca. Dan buku lama-lama ditinggalkan. Alasan mengapa penulis harus gigih menghasilkan karya yang lebih bagus menjadi jawabannya. Mungkin dengan itu trust pembaca dan rasa pentingnya membaca dapat terbangun.
Cerpen dan novel adalah cara kerja yang mulanya berasal dari barat. Patut difahami apa maunya dan mengapa dilakukan. Isinya tentu tergantung penulis, namun bermutu-tidaknya, subjektif.
Mengapa menulis? Mengapa menulis karya sastra? Mengapa pilihannya karya sastra? Esai-esai yang bertebaran di media-media massa yang dulu digemari dan dianaliasa ternyata jauh lebih pendek usianya dari umur bayam cabut. Bahasan tentang perestorika Mikhail Gorbachev di Rusia yang heboh dan marak kini sepi tak ada lagi yang mengenang. Tapi salah satu cerpen Anton Chekov berjudul “Kesedihan” yang digarap jauh lebih lama masih dibahas dan dilahap hingga kini sebagaimana saat awal penulis menggarapnya. Puisi Chairil Anwar dan Rendra masih banyak yang menikmati dibandingkan tulisan-tulisan Harmoko saat menjadi wartawan. Novel Buya Hamka “Tenggelamnya Kapal van der Wijck”, “Merahnya Merah” Iwan Simatupang dan “Lorong Midaq” Najib Mahfud entah sampai kapan tetap renyah dinikmati dan menginspirasi generasi ke generasi di belahan dunia berbeda.
Penulisan karya sastra merupakan rekaan, alam misal, dan penulis sudah dibebaskan untuk memisalkan apa saja dan siapa saja. Penulis seolah-olah dapat menjadi penipu saat menulis dan mendalami karakter penipu. Bisa menjadi pelacak jejak, koruptor, pengusaha, petani, pembohong, ulama, dosen dan guru, ilmuwan, filosof, siswa, anak-anak, tukang sol sepatu, penggali kubur, apapun dengan cara menuliskannya. Dan penulis karya sastra yang baik memerlukan kemampuan intelektual dan kecerdasan yang tak main-main dan bukan sekadar kerja pengrajin, melainkan inovatif dan menginspirasi beragam hal, termasuk penyumbang dalam pengembangan cabang-cabang ilmu – corong zaman, oli bagi mesin dan harkat martabat bangsa: memikirkan jangkauan dan kemungkinan peristiwa (bukan khayalan kosong dan sekadar menyusun kata) – melainkan diharapkan membiaskan cahaya.
Ketidakjelasan bacaan di sebuah negeri yang belum dewasa budaya baca-tulisnya akan dapat menghancurkan iklim dan budaya baca karena masyarakat pembaca dapat kehilangkan trust terhadap bacaan, semacam sikap pemberontakan yang meragukan buku.
Membaca seperti dianggap membuang-buang waktu boleh jadi karena pengalaman dikecewakan sebagai akibat kekecewaan, tak sebanding dengan keluangan waktu yang dikorbankan. Kesan novel yang mengidentikkan sebagai bacaan semi blue masih sulit dihilangkan di kepala publik sampai sekarang karena kita sempat mengalami era dimana banyak karya-karya demikian mendominasi pasar.
Bila sudah sampai terlempar jauh dalam palung keterpurukan betapa mengenaskan nasib budaya baca-tulis. Betapa buruk perkembangan generasi, termasuk rendahnya rasa percaya diri untuk bisa bangkit menghadapi era persaingan global yang kian menggeliat. Ini catatan kecil dan sangat sederhana sebagai bagian dari pidato hari ini.
Pembahasan karya sastra sama luasnya dengan perbincangan tentang hidup dan manusia, dan segala permasalahannya. Seperti halnya makanan bergizi tinggi — karya sastra diharapkan mengundang bergudang-gudang alasan siapapun untuk menghampiri dan melahapnya. Pembaca yang akan mencari buku, bukan kebalikannya.
Menyikapi ini semua, tugas semua pihak untuk berendah hati, bersikap objektif dan tabah mengenali dan memprioritaskan gizi bacaan terhadap generasi penerus. Dengan harapan siswa-siswa, mahasiswa dan masyarakat luas tumbuh minat baca dan trustnya terhadap bacaan – bukan merasa lebih asyik membunuh waktu dan memperjudikan hidup dengan bermain game siang-malam melahap kesia-siaan dengan menggenggam hape android, atau mengganggu ngebut-ngebutkan di jalanan, terperangkap obat-obat terlarang yang menghancurkan masa depan mereka.
Kapan dan di manapun, kita harus punya kejelasan jati diri sebagai sebuah bangsa. Dunia perbukuan kita – sastra atau di luar sastra; dunia kesenian kita yang berkaitan dengan buku atau tidak harus tetap tumbuh dan berkembang menuju hal-hal yang lebih positif – tidak rubuh kehilangan arah, tidak terkapar oleh pelemahan yang melalaikan pada nilai-nilai baik dan buruk.
Pelukis yang sudah pandai menggambar bertahun-tahun tetap ditugasi menggarap sketsa saat masuk sekolah melukis. Untuk menuju dinding pameran perlu waktu sangat lama – dan itu semua agar mematangkan profesi pelukis. Demikian pula dengan sekolah-sekolah musik.
Apa yang terjadi di sini, juga berlangsung di negeri-negeri yang jauh. Dan dari sini (di tepi teluk ini) mari kita mulai dan bertahan untuk tetap terus berkarya di sisa usia yang dikaruniakan sebagai sebuah investasi bagi pertumbuhan, pengembangan dan pencerdasan. Hal yang baik belum tentu banyak dan meriah, namun merembeskan nilai-nilai luhur. Buku-buku, lukisan bagus, musik yang bagus dan pahatan yang bagus pun belum tentu laku di pasaran. Tiap proses tak terpisahkan dari hasil akhir. Kesemuanya saling berkaitan. Demikian sensitifnya — sekata atau satu angka yang tak pas dan tertera di pojok salah satu halaman buku sebagus apapun dapat mencederai makna dan nilai sebuah buku. Di balik kehebatan sebuah karya terdapat sosok yang jauh lebih agung, sebab karya sebesar apapun tidak akan pernah lebih besar dari keteguhan, ketabahan dan konsistensi sikap senimannya.
Oleh karenanya, mari kita simak dan renungkan:
If you can’t be bestselling author,
be an author
If you can’t be an author,
be a writer
If you can’t be a writer,
be a story teller
And if you can’t be a storyteller
just be a person who
play with words.
Kita bisa membangun rumah dengan sejumlah batubata. Guci terbaik di dunia tersususn dari air dan debu. Dan dengan tinta kita bisa membangun kehidupan. Kata-kata yang kita susun mampu mengungkapkan, menguatkan, mencerahkan, meninggikan, meluaskan, membereskan, melebarkan, memulihkan, mempercepat, melipatgandakan, memotivasi, memperindah, memegahkan, memaksimalkan, meongoptimalkan, mewujudkan, dan menentramkan. Setetes tintamu bisa membangun dunia.
Terima kasih atas kesempatannya. Wassalamu’alaikum Wr. Wb. (*)
*) Penulis adalah Novelis.
