Ketua FTPQ Kabupaten Dompu Nurdiansah, S.Pd alias Guru Enggo. Dua generasi qurani asal Dompu , M. Maula Aqiyas dan M. Fadilah Rizky, memperkuat kafilah NTB pada STQH Nasional XVI/2021 di Maluku Utara. Serta, penampilan mereka di event nasional tersebut. (ist/lakeynews.com)

MELIHAT gegap gempitanya penyambutan kontingen PON XX/2021 Papua oleh Pemkab dan masyarakat Dompu baru-baru ini, muncul beberapa pertanyaan kritis dari elemen yang menggeluti bidang keagamaan.

Salah satunya, “akankah perlakuan yang sama diberikan pemerintah daerah kepada para kafilah STQ atau MTQ?”

Pertanyaan itu terkait perhatian terhadap pegiat keagamaan yang selama ini dinilai kurang. Bukan persoalan tulus-tidak tulus, atau soal ikhlas-tidak ikhlas.

Juga bukan persoalan iri dan dengki. Namun, perhatian yang sama patut diberikan demi terasanya asas keadilan.

Baca juga: Dijemput di Perbatasan, Dijamu di Pendopo, lalu ”Mandi” Bonus

Selama ini, menurut mereka, peserta bersama anggota kafilah yang akan mengikuti lomba STQ atau MTQ ke tingkat Provinsi NTB misalnya, umumnya, saat pelepasan saja dilakukan secara resmi.

Ketika pulang dari berlomba, dapat juara atau tidak, kadang langsung kembali sendiri ke rumahnya masing-masing. “Jarang ada apresiasi seperti yang diberikan kepada atlet/kontingen olahraga, kok,” kata salah seorang keluarga peserta STQ provinsi pada Lakeynews.com.

Pada sisi lain, potensi sumber daya manusia (SDM) yang dimiliki Dompu terkait Quran sebenarnya luar biasa. Kelemahannya adalah  kurangnya pembinaan secara intens yang dilakukan Pemda, khususnya Bagian Kesra dan LPTQ kabupaten.

Menurut Ketua Forum Taman Pendidikan Quran (FTPQ) Kabupaten Dompu Nurdiansah, S.Pd, potensi dimaksud terlihat dengan makin banyak dan berkembangnya TPQ, Rumah Quran dan Tempat Belajar Quran (TBQ).

Seandainya potensi ini dipetakan sesuai dengan keahlian dan cabang lomba, maka tidak akan sulit bagi Dompu untuk bersaing dengan daerah-daerah lain. Bahkan, pada ajang  STQ/MTQ Tingkat  Provinsi NTB, tidak perlu lagi meminjam peserta dari luar daerah untuk mewakili Kabupaten  Dompu.

“Termasuk saat ini yang mewakili NTB dipinjam oleh Dompu seorang peserta yang berasal dari luar daerah yang mengikuti Cabang Lomba Tafsir Bahasa Arab,” ungkap pria yang akrab disapa Guru Enggo itu.

“Apakah SDM Kabupaten Dompu tidak mampu? Sebenarnya, SDM kita mampu. Hanya saja terkendala pada minimnya pembinaan,” sambung Guru Tahfiz SMP IT As-Sakinah Wawonduru, Kecamatan Woja itu.

Guru Enggo kembali menegaskan terkait pembinaan yang dinilai belum maksimal. Apabila pembinaan dilakukan dengan maksimal, SDM yang dimiliki Dompu pun bisa tampil dan memberikan hasil maksimal.

“Pembinaan ini harus dilakukan secara berkala dan berkelanjutan. Bukan hanya sekadar menggugurkan kewajiban,” tegas pria yang juga ketua TPQ Al-Hijrah Balibunga, Kelurahan Kandai tersebut.

Bagaimana jika dikaitkan dengan Program Dompu Religius?

Diakuinya, visi-misi itu sudah lama didengar oleh telinganya. Tetapi realisasi untuk mencapainyalah yang belum maksimal dilaksanakan.

Dia menunjuk angka buta Quran di Kabupaten Dompu yang masih sangat tinggi. Peserta didik setingkat sekolah dasar juga banyak yang tidak tuntas Iqra. “Ini menyulitkan satuan pendidikan SMP dan SMA/SMK dalam menuntaskan baca Quran ini,” tegasnya.

Semua itu merupakan PR besar bagi semua pihak, terutama pihak Kantor Kemenag dan Dinas Dikpora Kabupaten Dompu. “Pertanyaan sederhana kita, kenapa Tuntas Calistung bisa dilakukan pada jenjang SD, sementara Tuntas Iqra’ tidak bisa dilakukan,” tanyanya.

Guru Jenggo kemudian melontarkan pertanyaan selanjutnya. “Dimana keberadaan Guru PAI SD? Kenapa bisa kalah dengan guru Bahasa Indonesia dan Matematika? Artinya, guru PAI SD dinilai tidak memiliki target dalam hal Tuntas Iqra,” tandasnya.

“Kolaborasi antara Kemenag dan Dikpora Dompu sangat dibutuhkan untuk mencapai Visi Dompu Religius ini,” imbuhnya menambahkan.

Qiyas dan Rizky, Dua Generasi Qurani Dompu Perkuat Kafilah NTB di STQH Nasional XVI

Saat ini tengah berlangsung Seleksi Tilawatil Quran dan Hadits (STQH) Tingkat Nasional XVI tahun 2021 di Kota Sofifi, Provinsi Maluku Utara, 14-23 Oktober.

Dari sekian anggota kafilah NTB, ada beberapa utusan dari Kabupaten Dompu. Dua diantaranya, M. Maula Aqiyas dan M. Fadilah Rizky, sama-sama berasal dari Kecamatan Woja.

Qiyas beralamat di Lingkungan Bukit Larema, Kelurahan Simpasai. Sedangkan Rizky, beralamat di Kelurahan Kandai Dua.

Pada STQH Nasional XVI ini, Qiyas mengikuti Cabang Tahfidz 20 Juz. Putra pasangan Muhammad Ihsan dan Zakiah Darajat ini tengah menempuh pendidikan di Ponpes Al Aziziyah Kapek Gunungsari, Lombok Barat (Lobar).

Sedangkan Rizky mengikuti Cabang Tilawah Anak-anak Putra. Saat ini, putra Dahlan, S.PdI sedang menempuh pendidikan di SMP IT Al Hilmi Dompu.

Orang tua, keluarga dan masyarakat Dompu menemui kesulitan mengikuti perkembangan perlombaan tiap hari.

“Sejauh ini kami kekurangan informasi terkait hal tersebut. Setiap peserta dari daerah kami yang mewakili Provinsi NTB di ajang STQ/MTQ Nasional senyap dari pemberitaan. Padahal itu kegiatan dan prestasi yang sangat membanggakan,” papar beberapa warga Dompu.

Hal senada juga disampaikan Guru Enggo. Namun, dia bersyukur karena Biro Kesra Setda Provinsi NTB, menyampaikan informasi (walaupun masih terbatas) tentang kegiatan STQH Nasional 2021 itu.

“Terima kasih kami sampaikan kepada admin akun media sosial Facebook Biro Kesra Setda NTB. Karena lewat postingan-postingannya kami mendapat informasi terkait peserta-peserta yang tampil di ajang STQH Nasional ini,” ujar Guru Enggo.

Kedepan dia berharap, Pemkab Dompu melakukan hal yang sama dengan Biro Kesra Setda (Pemprov) NTB. Khususnya untuk menyampaikan informasi-informasi perkembangan peserta STQ/MTQ asal Dompu yang berkompetisi di tingkat nasional.

“Misalnya, melalui akun media sosial Bagian Prokopim dan Bagian Kesra Setda, atau Dinas Kominfo Dompu,” urainya mencontohkan.

Hal tersebut dilakukan, dengan harapan (salah satunya) dapat memberikan motivasi bagi generasi muda Dompu yang sedang berlomba maupun yang lainnya agar terus mengembangkan potensinya pada bidang ilmu Quran.

Guru Enggo mengucapkan selamat atas keberhasilan atlet-atlet asal Dompu yang sudah berjuang keras dan meraih medali pada PON XX Papua. “Kalian luar biasa, kami bangga. Kalian layak disambut dengan penyambutan yang luar biasa,” pujinya.

Tetapi pada sisi lain, Guru Enggo menilai, kondisi tersebut jauh berbeda dengan kepulangan peserta dan kafilah STQ/MTQ Dompu, baik kepulangan dari ajang STQ/MTQ tingkat provinsi, lebih-lebih dari ajang STQ/MTQ tingkat nasional.

Mengapa? “Tidak ada penyambutan semarak dan meriah. Tidak ada gegap gempitanya. Sepi dari pemberitaan. Miris rasanya,” tuturnya.

Sementara itu, Muhammad Ihsan, S.PdI, ayah M. Maula Aqiyas, salah seorang peserta STQH Nasional XVI/2021 Maluku Utara, menyampaikan tanggapan singkat dan harapan cukup sederhana.

“Sebagai orang tua, kami berharap Quran maupun event tentang Quran ini lebih diperhatikan lagi. “Perhatian pemerintah terhadap Quran ini sebaiknya tidak kalah-lah dengan dangdut dan olahraga,” ujarnya pada Lakeynews.com.

Menurut Ihsan, anak-anak mereka adalah putra terbaik yang dimiliki Dompu pada bidang keagamaan (Quran). Ikut mengharumkan nama Dompu, baik tingkat provinsi maupun nasional.

“Semoga kedepan akan lebih baik lagi perhatian pemerintah terhadap Ahlul Quran ini,” harap Ihsan. (tim lakeynews.com)