
Oleh: Faisal Mawa’ataho *)
NGOHO adalah tradisi bercocok tanam dou Mbojo ra Dompu (orang Bima dan Dompu) yang dilakukan pada lahan kering di dataran tinggi, perbukitan dan pegunungan dengan cara membabat hutan. Lahan untuk ditanami tanaman semusim seperti padi, jagung, kedelai, dan sayur-sayuran. Tanaman-tanaman tersebut dibudidayakan dengan mengandalkan air hujan, sehingga aktivitas ngoho biasanya dilakukan pada musim penghujan.
Meskipun sudah dilakukan secara turun temurun sejak ratusan tahun yang lalu, selama 15 tahun terakhir ini aktivitas ngoho yang dilakukan secara besar-besaran untuk penanaman jagung mulai menampakkan ekses negatif.
Menurut Direktur Wahana Lingkungan Hidup (WALHI) NTB Amri Nuryadin, 30.000 hektare hutan di perbukitan di Bima dan Dompu beralih fungsi menjadi lahan penanaman jagung sehingga kerap menimbulkan bencana banjir (detik.com, 30/12/2024).
Ngoho sebagai Budaya Dou Mbojo ra Dompu
Terminologi ngoho sebenarnya mengacu pada tahapan pembersihan lahan yang berada di dataran tinggi, perbukitan, maupun pegunungan dengan cara menebang hutan dan perdu yang menutupi lahan tersebut. Sedangkan dalam Bahasa Mbojo-Dompu, aktivitas bercocok tanam sendiri disebut kanggihi, kemudian ladang di dataran tinggi, perbukitan, dan pegunungan disebut oma. Oleh sebab itu bercocok tanam di dataran tinggi, perbukitan, dan pegunungan itu boleh juga disebut kanggihi oma. Akan tetapi, karena ngoho sendiri merupakan aktivitas yang paling mencolok dan dominan dari keseluruhan proses kanggihi oma, maka kini kata ngoho sudah identik dengan aktifitas bercocok tanam di ladang itu sendiri.
Ngoho pada dasarnya merupakan tradisi bercocok tanam yang diwariskan nenek moyang dou Mbojo (orang Bima) dan dou Dompu (orang Dompu). Tujuannya tentu saja dalam rangka memenuhi kebutuhan pangan lokal, di tingkat keluarga maupun desa. Artinya, pada zaman dahulu ngoho dan kanggihi oma hanya dilakukan demi tujuan bertahan hidup, bukan demi gaya hidup. Metode bercocok tanam seperti ini dilakukan sebelum diperkenalkannya metode bercocok tanam di lahan basah atau sawah (tolo).
Metode bercocok tanam di lahan basah (sawah) mulai diperkenalkan di Pulau Sumbawa pada tahun 1400-an. Cara bertani seperti ini diperkenalkan oleh orang-orang dari Jawa yang menduduki Pulau Sumbawa setelah kesuksesan Ekspedisi Padompo pada tahun 1357 M. Kemudian pencetakan sawah semakin meningkat pada Abad XVII atas perintah Sultan Gowa yang berhasil menginvasi dan menduduki kerajaan-kerajaan di P. Sumbawa (Boers, 1995: hal. 39).
Antara Kebutuhan Ekonomi dan Keserakahan Manusia
Banyak orang beralasan bahwa aktivitas ngoho dan bertanam jagung yang begitu masif dilakukan ini terkait erat dengan kebutuhan ekonomi masyarakat. Sejak dicanangkan pada tahun 2011, program penanaman jagung sebagai salah satu program pilihan dalam masa pemerintahan pasangan Gubernur TGKH. Zainul Majdi (Tuan Guru Bajang) dan Wakil Gubernur H. Badrul Munir menjadi primadona di Bima dan Dompu.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) NTB, jumlah penduduk miskin di NTB pada tahun 2011 adalah 894.770 jiwa. Jumlah tersebut merupakan 19,73 % dari total keseluruhan penduduk NTB yang mencapai 4,4 juta jiwa (antaranews.com, 14/12/2011). Jumlah tersebut menurut penulis adalah jumlah yang cukup tinggi. Sehingga wajar apabila program penanaman jagung secara masif menjadi salah satu pilihan utama untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat, khususnya di Bima dan Dompu.
Pendapat ini didukung pula dengan tingginya angka pengangguran di NTB. Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) NTB, terdapat sekitar 2.174.164 angkatan kerja pada tahun 2011. Dan 5,35 % atau sekitar 116.412 orang dari angkatan kerja tersebut tercatat sebagai persentase pengangguran terbuka. Dari jumlah total pengangguran tersebut, 63.365 orang berpendidikan SMP ke bawah, 39.720 orang berpendidikan SMA dan 7.327 orang berpendidikan diploma satu ke atas (antaranews.com, 06/05/2011).
Data-data tersebut menunjukkan bahwa, respon masyarakat yang bersemangat menanam jagung dengan menggunduli hutan adalah sesuatu yang memiliki motif ekonomi. Kemiskinan dan pengangguran sangat wajar dijadikan alasan untuk meningkatkan taraf hidup meskipun dengan cara ngoho yang menghancurkan hutan.
Namun menurut pengamatan penulis selama 15 tahun terakhir ini, motivasi utama dari aktivitas ngoho dan bertani jagung sudah mulai bergeser. Ngoho dan bertani jagung yang pada awalnya dilakukan dengan motifasi kebutuhan hidup, kini justru telah dipicu oleh gaya hidup. Penulis mendengar penuturan langsung dari banyak oknum petani jagung dengan cara ngoho, bahwa aktivitas itu mereka lakukan bukan untuk memenuhi kebutuhan primer semacam pangan, sandang dan papan. Namun justru untuk keperluan membeli barang-barang kebutuhan sekunder dan tersier.
Selain itu, para pelaku juga menunjukan sikap serakah secara terang-terangan. Ketimbang membabat hanya beberapa hektar hutan, sebagian besar di antara mereka justru memilih untuk membabat hutan dengan luas 10 Ha (baca: hektare) ke atas. Satu orang pelaku bisa saja menggunduli belasan hektar hutan untuk ditanami jagung. Maka patut kiranya kita mempertanyakan, layakkah kerusakan hutan yang telah terbukti memicu berbagai bencana alam di Bima dan Dompu ini dimotivasi oleh gaya hidup dan keserakahan manusia?
Ngoho dan Kerusakan Alam
Ngoho dan pertanian jagung dengan merambah hutan telah menyababkan berkurangnya kawasan tutupan pohon serta hutan secara drastis. Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) NTB Madani Mukarom menyebutkan bahwa terdapat 1,07 juta Ha hutan yang tercatat di NTB, 34 % di antaranya telah rusak parah. Tingkat kerusakan hutan paling parah adalah di Pulau Sumbawa. Hutan di Pulau Sumbawa telah mengalami kerusakan sebesar 80 % yang terjadi Bima, Dompu, hingga daerah Sumbawa yang berbatasan dengan Dompu (indobalinews.co, 27/12/2021).
Sedangkan menurut data Global Forest Watch, dari 2002 hingga 2025 NTB telah kehilangan sebanyak 15.000 Ha hutan primer basah. Dan dari 2001 hingga 2025 NTB telah mengalami kehilangan area tutupan pohon sebanyak 110.000 Ha. Selama 2001 hingga 2025, Sumbawa telah kehilangan 36.000 Ha tutupan pohon, kemudian disusul oleh Dompu seluas 26.000 Ha dan Bima seluas 25.000 Ha. Faktor utama dari hilangnya hutan menurut data tersebut ternyata disebabkan permakultur (pertanian tadah hujan) seluas 92.000 ha dan disusul oleh faktor perladangan bergilir seluas 4.200 Ha serta penebangan hutan seluas 1.700 Ha. (globalnaturewatch.org).
Selain kerusakan hutan, bencana banjir pun kerap terjadi di wilayah Bima dan Dompu. Masih segar dalam ingatan kita banjir besar setinggi 3 meter yang menerjang Kota Bima pada tanggal 21 dan 23 Desember 2016 yang meluluhlantakkan 33 kelurahan di 5 kecamatan. Sebanyak 105.758 korban terdampak dan 104.378 terpaksa mengungsi (bnpb.go.id, 24/12/2016). Demikian pula banjir besar yang menerjang Dompu pada 4 April 2023 yang merendam 4.166 rumah di 15 desa dan kelurahan di empat kecamatan (okezone.com, 06/04/2023).
Tidak bisa dipungkiri, bencana banjir yang kerap terjadi itu berkorelasi langsung dengan tingginya angka kerusakan hutan di Bima dan Dompu. Menurut Dosen FMIPA Unram Hilman Ahyadi, bencana banjir yang sering terjadi di NTB -khususnya di Bima dan Dompu- dipicu oleh kerusakan hutan untuk ditanami jagung (suarantb.com, 20/01/2025).
Ngaha, Aina Ngoho!
Mencermati fenomena kerusakan lingkungan akibat aktifitas ngoho yang saat ini terjadi di Bima dan Dompu, penulis mengajak semua pihak untuk mengingat kembali petuah lama. Ngaha, aina ngoho. Petuah ini sering diucapkan orang-orang tua di Bima dan Dompu. Bahkan petuah lama ini pernah disematkan di lambang daerah Kabupaten Bima, meskipun kini telah dihapus kembali. Petuah ini sering diucapkan ketika anak-anak mereka mulai boros dalam makan dan minum, terdengar kasar namun begitu jujur dan sederhana.
Secara literal petuah di atas dapat diterjemahkan menjadi makanlah, jangan menggunduli hutan. Namun jika dikaji dari aspek budaya, sebenarnya petuah ini mengandung ajaran untuk berhemat. Melalui anjuran ngaha, aina ngoho, nenek moyang dou Mbojo ra Dompu ingin mengirimkan pesan bahwa seseorang boleh saja makan namun harus disisakan untuk esok dan lusa. Jangan dihabiskan semuanya hari ini.
Dalam konteks kerusakan hutan akibat dampak ngoho dan penanaman jagung saat ini, petuah ini terasa masih sangat relevan. Ngaha, aina ngoho merupakan petuah yang meminta kita untuk menghemat sumber daya alam kita. Jangan sampai dihabiskan semua hari ini dan tidak tersisa sama sekali untuk generasi penerus kita.
Coba bayangkan apa jadinya generasi orang Bima dan Dompu jika yang mereka warisi nanti hanya alam yang rusak dan tak bisa dimanfaatkan. Tentu saja itu sama saja kita mewariskan bencana untuk anak cucu kita.
Anak cucu kita adalah darah daging kita, penerus generasi, etnis, suku dan bangsa kita. Mereka juga berhak untuk hidup sejahtera dengan memanfaatkan sumber daya alam yang disediakan Tuhan. Mereka pun berhak untuk menikmati hutan yang hijau dengan segala hasil manfaatnya. Generasi kita hari ini boleh saja menebang hutan demi tuntutan ekonomi, bahkan demi gaya hidup bak selebriti, namun jangan lupa menyisakannya bagi mereka nanti. Ngaha, aina ngoho! (*)
*) Penulis adalah Pemerhati Lingkungan di Bima dan Dompu.
