

TANPA berniat mendiskretitkan yang lain, sejumlah Warga Kelurahan Kandai Satu, Kecamatan Dompu, Kabupaten Dompu, Provinsi NTB menilai Dedi Arsyik, S.Sos, merupakan lurah terbaik yang mereka kenal.
Enam tahun lebih menjabat Lurah Kandai Satu, seabrek program berhasil dicetak Dedi, baik fisik maupun non fisik.
Hubungannya dengan masyarakat setempat harmonis. Meski diakui sempat muncul beberapa riak di tengahnya, mampu diselesaikan dengan baik bersama unsur-unsur terkait di kelurahan.
Salah satu yang cukup menyita perhatian publik, tidak hanya dari Kabupaten Dompu tapi juga dari Bima dan Sumbawa, menggairahkan tiga titik destinasi wisata di wilayahnya.
Baca juga berita sebelumnya; Dedi Arsyik, Mantan Lurah “Fenomenal” (1)
Ketiga destinasi wisata yang gerakkan bersama Pokdarwis, pemuda dan warga setempat itu; Doro Wadu Na’e (DWN), Situs Klasik Doro Bata dan Bukit Sultan.
Sayangnya, sejak negeri ini dilanda pandemi Covid-19, tingkat kunjungan wisatawan di tiga tempat itu agak meredup. Baik wisatawan lokal maupun regional dan nasional.
Hanya Rp. 202 Juta, Sejumlah Pembangunan Tuntas 100 Persen
Yang tak kalah mendapat apresiasi, kesuksesan Dedi menuntaskan sejumlah program pembangunan fisik di Kandai Satu. Tahun 2021 misalnya.
“Semuanya tuntas 100 persen,” katanya pada Lakeynews.com, baru-baru ini.

Berikut sejumlah pembangunan fisik yang anggarannya bersumber dari Dana Alokasi Kelurahan dan tuntas dikerjakan tersebut;
– Pengerjaan Rabat Gang di lima lingkungan. Akumulasi panjang rabat lebih kurang 600 meter, lebar sekitar dua meter, dengan total anggaran sekitar Rp. 138 juta.
– Rehab Saluran Drainase satu paket di Lingkungan Dorongao sepanjang 200 meter dan lebar 30 centimeter, dengan anggaran Rp. 19,5 juta.
– Pembangunan Saluran Drainase di Lingkungan Kandai Satu sepanjang 50 meter, lebar 30 Cm. Anggarannya Rp. 23 juta.
– Pembangunan dua unit Gapura Selamat Datang. Yakni di Lingkungan Dorongao dan Lingkungan Mada Kimbi, dengan total anggaran Rp. 21.300.000.
“Total anggaran untuk program kegiatan pembangunan itu Rp. 202 juta,” jelas Dedi.
Proses pengerjaan semua proyek tersebut dimulai Agustus hingga September ini. “Pengerjaannya secara swakelola oleh pemerintah kelurahan dengan mempekerjakan warga sekitar,” sambungnya.
Secara umum, pelaksanaan berbagai program pembangunan di Kelurahan kandai Satu berjalan lancar.
Masyarakat di sana sudah semakin kritis dalam mengawasi dan mengontrol pengerjaan proyek. Saking kritisnya, kadang muncul kecurigaan dari mereka.
Namun Dedi dan jajarannya, tidak mengklarifikasikan dengan kata-kata. “Kita jawab dengan melaksanakan program dan pembangunan sesuai mekanisme, aturan dan transparan,” jelasnya.

Salah satu yang sempat memunculkan sedikit ketegangan terkait pergeseran item pekerjaan. Dari (rencana) pembuatan Talud ke Rabat Gang di Lingkungan Dorongao. “Sejumlah warga mempertanyakan kenapa berubah seperti itu,” papar Dedi.
Perubahan item pekerjaan ini, mengakomodir permintaan elemen masyarakat karena gang mereka sudah rusak parah. Perubahan itu dibuatkan berita acaranya dan dibenarkan oleh aturan.
Setelah dijelaskan, warga yang semula memrotes pun akhirnya dapat memahami dan memaklumi terjadinya pergeseran item pekerjaan tersebut.
Kendati secara umum pelaksanaan program-program pembangunan di Kandai Satu berjalan lancar, bukan berarti tanpa hambatan dan kendala.
Saat pengerjaan proyek Rabat Gang misalnya. Beberapa warga yang terkena proyek rabat gang, tidak bersedia menyerahkan lahan pekarangannya secara sukarela.
“Itu di satu sisi. Tapi, pada sisi lain, dana yang ada tidak cukup dan tidak teralokasikan untuk ganti rugi lahan maupun bangunan warga,” jelas Dedi.
Sebagian warga berhasil dilakukan pendekatan. Tapi sebagian lagi, hingga saat ini masih ada belasan meter gang di Lingkungan Dorompana yang belum dirabat.
“Itu ada pagar permanen milik warga. Pemiliknya meminta ganti rugi,” papar Dedi lagi.
Ketua Lembaga Pemberdayaan Masyarakat (LPM) Kelurahan Kandai Satu Muhammad Nur, S.Pt, memberikan apresiasi kepada Dedi dan jajarannya (saat menjadi Lurah).

“Patut kita apresiasi kinerja Pemerintah Kelurahan yang saat itu dipimpin Pak Dedi Arsyik,” ujar pria yang akrab disapa Uma Neo itu pada media ini, juga beberapa hari lalu.
Bayangkan, lanjutnya, hanya dengan anggaran lebih kurang Rp. 200 juta, Dedi dan jajaran mampu menuntaskan sekian banyak item pekerjaan. Tentu saja dengan segala tantangan dan rintangannya.
Yang membahagiakan dan membanggakan, kata Uma Neo, dalam pengerjaan sejumlah proyek itu memberdayakan warga sekitar. “Warga bisa mendapatkan penghasilan walaupun ini sedang masa pandemi,” urainya.
Apresiasi dan pujian terhadap mantan Dedi Arsyik juga disampaikan netizen di media sosial. Salah seorang diantaranya, akun FB bernama Budi Ansyas Marhaen.
Berikut kutipan status akun Budi Ansyas Marhaen itu;
“Kerja keras, sederhana, bersahaja, humoris, aspiratif, responsif, melindungi & mengayomi, menyayangi yg kecil, menghormati yg tua dll.
Saya sendiri bukan warga kelurahan kandai I, namun saya yakin sebagian besar warga kelurahan kandai I sependapat dgn saya.
LURAH TERBAIK YG PERNAH ADA DI BUMI NGGAHI RAWI PAHU, dan AKAN DICATAT DGN TINTA EMAS DIHATI KAMI.
Selamat bekerja di tempat nya yg baru bang Dedy K’Nday.” (sarwon al khan)
