
Catatan:
SARWON AL KHAN, Dompu
ORANGNYA sederhana, fair dan low profile. Bicaranya tegas dan berisi. Terbuka, apa adanya, blak-blakan. Jauh dari kesan rekayasa dan pencitraan. Pun tak gila pujian.
Itulah sekelumit yang tergambar dari sosok polisi yang satu ini. Kompol Abdi Mauluddin, S.Sos, nama lengkapnya.
Perwira Menengah (Pamen) Polri dengan mawar satu ini diamanahkan memangku jabatan Waka Polres Dompu, Daerah NTB. Masa jabatannya di daerah bermoto Nggahi Rawi Pahu belum genap sebulan.
Semasa kecil, dia akrab dipanggil teman-teman sepermainannya dengan nama Deny. Namun, setelah menjadi polisi, teman-temannya di institusi baju coklat menyapanya dengan nama Abdi.
Mau dipanggil Deny, mau dipanggil Abdi, baginya sama saja. Tetapi Lakeynews.com/Penulis (selanjutnya ditulis “saya”) terbiasa memanggilnya Bang Deny.
Hampir sama dengan perwira-perwira lainnya. Bang Deny juga merupakan perwira polisi yang tidak sulit ditemui, tidak sulit diajak bicara.
Meski tegas, dia polisi yang murah senyum dan ramah. Enak diajak berdiskusi dan mampu mencairkan suasana.
Semenjak dipercaya sebagai Waka Polres Dompu, ini kali pertama saya bertemu dan bersilaturahmi dengan Bang Deny.
“Izin Bang Deny… Sedang di kantor atau di lapangan,” tanya saya melalui telepon WhatsApp-nya, Senin (12/7) pagi menjelang siang.
“Di kantor, Dek. Ayo ke sini. Abang tunggu, ya,” jawab Bang Deny.
Komunikasi singkat lewat telepon, terbangun baik. Dicapai kata sepakat untuk bertemu. Pertemuan empat matapun akhirnya berlangsung di ruang kerjanya. Lebih kurang satu jam lamanya.
Banyak hal yang kami bicarakan dan diskusikan. Baik menyangkut kepolisian maupun pers (media dan wartawan). Keberadaan, posisi dan peran masing-masing. Hingga terkait hubungan dan kemitraan.
Intinya, bagaimana polisi dan pers di Dompu bersinergi dalam menjalankan tugas dan profesi. Saling mendukung dan saling mengisi, demi terwujudnya Dompu yang lebih baik, aman, damai dan nyaman.
Hal tersebut terjalin dengan mengedepankan rasa saling menghormati dan menghargai satu sama lain. Tanpa mengintervensi peran dan tugas para pihak.
Meski demikian, kepolisian tidak salah mengingatkan dan menegur jika insan pers keliru. Sebaliknya, pers juga tidak “haram” mengoreksi atau mengkritisi kinerja kepolisian.
Tentu saja hal-hal itu dilakukan dengan semangat kebaikan. Didukung sudut pandang faktual dan konstruktif.
“Pers dan kepolisian merupakan dua komponen yang saling membutuhkan. Sehingga dalam menjalankan tugas, sepatutnya kita bersinergi,” kata Bang Deny.
Dia berharap antara kepolisian dan media/wartawan saling membuka diri. Media membuka diri pada kepolisian. “Kepolisian juga begitu. Jangan terbuka pada media hanya pada saat membutuhkan media,” tegasnya.
Sifat dan karakternya hampir tidak terlihat perubahan. Tidak ada perbedaan ketika Bang Deny menjadi Waka Polres Bima Kabupaten, sebelum dimutasi ke Bidang Humas Polda NTB.

Di institusi kepolisian, Bang Deny tidak mematok target untuk menduduki jabatan tertentu. Tidak punya cita-cita yang muluk-muluk.
“Saya hanya ingin jadi pelangi bagi institusi Polri dan masyarakat (rakyat). Bagi saya, itu lebih baik, lebih bagus dan lebih berguna,” papar Bang Deny sembari meluruskan masker yang dikenakannya.
Dengan jabatan, kapasitas dan kemampuan yang dimilikinya saat ini, dia berusaha semaksimal mungkin melakukan yang terbaik. Menjalankan amanah sesuai dengan yang diembankan pimpinan dan harapan masyarakat.
Sebagaimana kita ketahui kepolisian hadir untuk “Melindungi, Mengayomi dan Melayani” masyarakat. Itu salah satu dari bunyi dan makna Tribrata Polri.
Selengkapnya Tribrata Polri:
Satu, berbakti kepada nusa dan bangsa dengan penuh ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa.
Dua, menjunjung tinggi kebenaran, keadilan dan kemanusiaan dalam menegakkan hukum NKRI yang berdasarkan Pancasila dan Undang-undang Dasar 1945.
Tiga, senantiasa melindungi, mengayomi dan melayani masyarakat dengan keikhlasan untuk mewujudkan keamanan dan ketertiban.
Bang Deny mempunyai resep sederhana tapi jitu sebagai pengendali dirinya agar tidak melakukan tindakan yang menyimpang.
“Saya selalu bersyukur, merasa cukup dengan posisi dan kenikmatan yang Tuhan berikan saat ini,” urainya.
“Bagi saya, dengan jabatan sekarang sudah luar biasa,” sambungnya.
Dalam menunaikan tugas sebagai anggota Polri dan melakukan pekerjaan-pekerjaan sosial, Bang Deny tidak mengharapkan imbalan dari manusia. “Saya hanya berharap ridha dari Allah SWT, Tuhan Yang Maha Esa,” tegasnya.
Sebagai personel kepolisian yang kini menjadi Pamen, tidak terbersit sedikit pun di sanubarinya untuk melukai hati dan perasaan orang lain.
“Apalagi melukai hati dan perasaan warga, masyarakat. Insya Allah tidak akan pernah saya lakukan,” janjinya.
Karena demikian, Bang Deny sangat berharap semua anggota Polri di Polres Dompu dan jajaran tidak ada yang menyakiti serta melukai hati rakyat. Tidak ada yang melakukan pelanggaran hukum dan disiplin.
Sebab, ketika ada yang tetap nekat berbuat arogan dan sewenang-wenang terhadap rakyat (dengan alasan apapun), Bang Deny memastikan, penegakan disiplin akan dilaksanakannya.
“Penegakan aturan disiplin pada anggota yang melanggar tidak boleh kendor. Yang penting ada bukti, kita tindak. Tidak boleh ada pembiaran,” tegasnya lagi. (*)
