
Tiga Hari Sebelum Kecelakaan, Korban Tunjukkan Sikap Aneh
–
ADA sekelumit kisah mengharukan tentang Laras Wati alias Laras (15), siswi SMPN 2 Dompu, NTB, asal Desa Manggena’e, Kecamatan Dompu.
Dia korban meninggal dunia dalam tragedi Bus Titian Mas tujuan Mataram di Dusun Lara, Desa Nangatumpu, Kecamatan Manggelewa, Minggu (7/2) malam. Jenazahnya dimakamkan di Pemakaman Umum Manggena’e, Senin (8/2) sore.
Laras merupakan anak ketiga dari empat bersaudara, buah hati pasangan Syamsudin asal Dompu dan Gianti asal Solo, Jawa Tengah (Jateng).
BACA JUGA :
- Titian Mas Kecelakaan di Nangatumpu, Satu Korban Meninggal di Tempat
- Tiba di Rumah Duka, Jenazah Korban Kecelakaan Titian Mas Disambut Histeris
- Kecelakaan Bus Titian Mas di Nangatumpu karena Jalan Licin
- Jenazah Korban Titian Mas Dimakamkan di Manggena’e
Setelah pemakaman almarhumah Laras, yang belakangan meninggalkan kuburan adalah Gianti, ibundanya. Gianti ditemani putri sulungnya, Fifi dan suaminya, Dian. Sedangkan ayah korban, Syamsudin meninggalkan pemakaman terlebih dulu bersama para pengantar jenazah lainnya.
Ketika ditemui Lakeynews.com usai pemakaman, Gianti tampak masih sangat terpukul atas meninggal tak wajar salah seorang putrinya. Meski ikhlas dan berusaha tegar menerima ujian dan cobaan berat itu, Gianti terlihat tidak sanggup menutupi kesedihannya.

Namun, dengan sisa ketegaran yang dimiliki, Gianti menceritakan pengalaman dan kisah bersama almarhumah semasa hidupnya.
“Laras itu anak yang manja. Tapi, orangnya bertanggung jawab,” tutur Gianti sembari mengusap air mata yang terus meleleh dan membasahi pipinya, sore itu.
Gianti mengaku tidak memiliki firasat apa-apa, atau perasaan buruk terhadap anaknya. Cuma, beberapa hari sebelum kejadian nahas itu, dia melihat prilaku putrinya berubah-ubah.
“Dia kadang manja, juga kadang mendadak jadi pemarah. Tapi, itu hanya sebentar. Tak lama kemudian, dia candai kami,” urai Gianti dengan nada terbata-bata.
Lebih jauh diceritakan Gianti, beberapa hari sebelum Bus Titian Mas menghantam tebing dan terguling, Laras telah menunjukkan tanda-tanda aneh.
Keanehan tersebut tampak melalui sikap yang tidak seperti biasanya terhadap kedua orang tua. Gianti mengaku tidak tahu anaknya tiba-tiba bersikap seperti itu.
Dia mencontohkan cara almarhumah memanggil kedua orang tuanya. Orang tua laki-laki biasanya dia panggil “Papa”. Sedangkan orang tua perempuan dipanggil “Mama.”
Tetapi sekitar tiga hari sebelum kecelakaan maut di Dusun Lara, Desa Nangatumpu, Laras kerap memanggil nama asli bapak dan ibunya. Tanpa canggung atau malu, bapaknya dipanggil Syamsudin dan ibunya dipanggil Gianti.
Nada panggilannya juga tinggi. Tapi semua itu dilakukan Laras tidak dengan serius. “Laras setiap memanggil nama asli saya maupun bapaknya, selalu dengan canda dan tersenyum,” cerita Gianti.
Meski dengan nada guyon, tetap saja dianggap aneh. Kedua orang tuanya pun dibuat heran. “Kami heran saja,” ujar Gianti.

Ingin Jenguk Kakek/Nenek dan Pindah Sekolah ke Solo
Laras sangat ingin menjenguk kakek dan neneknya yang sedang sakit di Solo. Gadis yang masih duduk di bangku kelas dua SMPN 2 Dompu ini juga hendak pindah sekolah di sana.
Sebelumnya, Gianti pernah menceritakan keadaan nenek dan kakeknya yang tua, tak mampu lagi berjalan, beraktivitas dan sedang sakit. Sejak mendengar hal itu, Laras terlihat murung dan merasa iba pada kakek dan neneknya.
“Laras pernah katakan kepada saya, ‘mama, biarkan Laras yang pergi ke Solo. Mama nggak usah pergi, tinggal di sini saja sama bapak’,” kata Gianti mengutip penuturan korban yang dinilai seperti orang dewasa.
Permintaan itupun langsung diaminkan Gianti dan suaminya. Sehingga, Laras memutuskan untuk meninggalkan keluarga di Manggena’e, teman-teman sepermainan dan seangkatan sekolahnya.
“Laras juga ingin melanjutkan sekolah (SMP)-nya di Solo,” papar Gianti.
Ketika berangkat ke Solo dengan Bus Titian Mas, Laras kakak sulungnya, Fifi dan suaminya, Dian.

Laras di Mata Teman-temannya
Salah seorang teman akrab dan sahabat Laras, Kendi Celfi Alfia. Selain satu sekolah, Kendi adalah satu kelas Laras di Kelas II/B. “Laras itu sahabat yang pemaaf,” tutur Kendi pada media ini.
Kendi kemudian bercerita, suatu waktu, dia bersama Laras dan teman-temannya salat di Masjid Sekolah. Saat itu, salah satu temannya tiba-tiba menampar Laras. “Saya tidak tahu apa masalahnya,” ujarnya.
“Ketika ditampar oleh teman, saya melihat Laras justru hanya tersenyum,” sambung Kendi.
Terkait rencana kepindahan Laras ke Solo, Kendi mengaku, pernah diberitahu oleh korban saat di sekolah.
Teman Laras yang lain, Indah, menceritakan permintaan korban untuk diantar ke tempat dia naik Bus Titian Mas. Yakni di Dusun Saka, Desa Mangge Asi.
“Teman-teman, ayo dong antar saya. Saya mau berangkat ke Solo ini untuk selama-lamanya. Saya baru akan kembali kalau sudah selesai kuliah,” pinta korban sebagaimana ditiru Indah.
Sebelumnya, Indah mengatakan, Laras sangat baik orangnya. Kebetulan di depan rumahnya, orang tua Laras berjualan bakso. “Kalau Laras yang jualan, dia selalu melebihkan pentolan baksonya,” kenang Indah. (ferimulyadin/won)
