KIDOM Coffee, kopi berbahan dasar kelor yang diproduksi CV. Tri Utami Jaya (kiri). Dan, Owner Tri Utami Jaya, Nasrin H. Muhtar, MM, dengan Teh Moringa KIDOM yang lebih awal terkenal. (ist/lakeynews.com)

KELOR NTB dibawa polesan CV. Tri Utami Jaya akan kembali menghebohkan dunia. Setelah membooming Teh Moringa (Kelor) KIDOM-nya, kini produsen jamu dan minuman kesehatan itu bakal mengguncang jagad raya dengan Kopi Kelor.

Kopi berbahan baku kelor yang diproduksi perusahaan yang digawangi Nasrin H. Muhtar, MM, tersebut diberi nama KIDOM Coffee (bukan Mori Coffee).

“Insya Allah, KIDOM Coffee segera mendunia. Kita akan gemparkan dunia dengan menunjukkan bahwa kelor NTB yang terbaik dan NTB sebagai daerah pusat budidaya kelor dunia,” kata Nasrin, si Owner Tri Utami Jaya.
 
Menurutnya, variasi produk sangat penting untuk memenuhi beberapa selera pasar. Juga untuk mengolah ketersediaan bahan baku yang ada.

“Hal inipun dapat bermanfaat sebagai lapangan kerja bagi generasi muda,” kata pria kelahiran Desa Malaju, Kecamatan Kilo, Kabupaten Dompu ini pada Lakeynews.com di Mataram, Senin (18/1).

KIDOM Coffee dengan tampilan dua rasa memiliki aroma khas. Yaitu campuran bubuk kelor kualitas terbaik, kopi dari Gunung Tambora dan Gunung Rinjani.

“Kopi Tambora mewakili kopi dari Pulau Sumbawa (Dompu). Sedangkan Kopi Rinjani mewakili kopi dari Pulau lombok (Sajang),” jelas Nasrin.

Yang menakjubkan juga, KIDOM Coffee memiliki tampilan DRIP BAG yang lebih kekinian. “Dalam satu kemasan terdapat dua bungkus KIDOM Coffee dengan harga relatif terjangkau,” urainya.
 
Tidak hanya itu, kedepan, perusahaan yang baru saja meresmikan pabrik kelor terbesar dan berstandar internasional di NTB, sudah memiliki sabrek rencana.

Diantaranya, akan memproduksi makanan dengan bahan dasar kelor. Seperti biskuit, mie, bubur, dodol kelor dan lainnya.

“Nanti, kita juga akan memproduksi kosmetik, seperti masker bubuk atau masker tisu basah, sabun batang dan cair,” papar Doktor Jamu, sapaan Nasrin.
 
Kemudian, akan ditambahkan produk-produk kebutuhan lain yang dibutuhkan masyarakat. Antara lain, lotion, pasta gigi dan shampo.

“Ada juga klaster obat berupa teh celup, teh bubuk dan kapsul,” urai Paduka, sapaan lain Nasrin.
 
Untuk memenuhi kebutuhan itu, saat ini sudah ditanam 150 hektare kelor. Disamping itu, dilakukan MoU (kerja sama, nota kesepahaman) dengan para petani, beberapa organisasi dan kampus untuk budidaya kelor. Dengan lahan 1000 hektare se-NTB untuk menambah populasi yang ada.
 
Tri Utami Jaya telah menandatangani MoU dengan 10 perusahaan untuk pemasaran. Salah satunya, PT. Bandung yang memiliki kantor di 17 negara.

“Kami juga memasifkan pasar luar negeri untuk mendongkrak ekonomi,” tandasnya seraya kembali berharap dukungan semua pihak, terutama Pemda dan DPRD.

( zulhaq armansyah )