Kasat Reskrim Polresta Mataram AKP Kadek Adi Budi Astawa, saat jumpa pers, Rabu (21/10). (ist/lakeynews.com)

MATARAM, Lakeynews.com – Ini peringatan untuk para penagih utang seperti debt collector agar tidak semena-mena merampas kendaraan dan belum lunas. Jika berani, maka kepolisianlah lawanmu.

Ini salah satu buktinya. Dua orang debt collector Tim Puma Polresta Mataram. Mereka berinisial NV (36), warga Ampenan Utara, Kota Mataram, dan LE (31), warga Praya, Lombok Tengah.

Kedua pelaku merampas mobil Suzuki APV warna hitam milik ibu hamil di Kota Mataram. “Ini kasus dengan modus operandi debt collector. Ada dua pelaku yang kami amankan,” kata Kasat Reskrim Polresta Mataram AKP Kadek Adi Budi Astawa, Rabu (21/10).

Perampasan terjadi di Jalan Bung Karno Kota Mataram. Saat itu, korban baru menyelesaikan pembayaran cicilan ke salah satu perusahaan finance.

Setelah itu korban dihadang kedua pelaku yang mengaku diperintahkan oleh perusahaan finance. Alasannya, korban menunggak setoran kredit. Korban tidak bisa membayar dan mobilnya dibawa kedua pelaku.

“Ada negoisasi sebenarnya dan korban yang sedang hamil sempat ada ancaman dengan nada tinggi. Merasa terancam korban pasrah dibawa kunci mobilnya,’’ bebernya.

Korban lalu melapor ke kepolisian dan ditindaklanjuti. Dari pemeriksaan dokumen yang ada, korban tidak menyerahkan mobil itu secara suka rela.

Sementara berdasarkan keputusan terbaru Mahkamah Konstitusi (MK) Nomor: 18/PUU-XVII/2019 yang dikeluarkan 6 Januari 2020, bahwa perusahaan pembiayaan alias leasing tak bisa sembarangan melakukan penyitaan secara sepihak.

Penyitaan harus seizin pemilik atau berdasarkan keputusan pengadilan yang sah. “Itu yang menjadi dasar kita untuk menindaklanjuti kasus ini. Keduanya sudah menjadi tersangka,” kata Kadek.

Kedua pelaku saat beraksi, mendata mobil penunggak. Kemudian dieksekusi. “Pelaku sering berbagi informasi dengan rekan-rekannya untuk mobil yang menunggak. Baru nanti dieksekusi. Kalau di kasus ini, korban memang ada tunggakan setoran kurang setahun,” tuturnya.

Kedua tersangka sudah beberapa tahun berprofesi sebagai debt collector. “Yang satunya sudah sudah 10 tahun. Satunya lagi baru satu tahun menjalani profesi itu,” jelas Kadek.

Keduanya, menurut Kadek, dijerat dengan pasal 368 ayat (1) Jo pasal 55 ayat (1) KUHP atau pasal 335 ayat (1) tentang pemerasan dan ancaman. Ancaman hukumannya maksimal sembilan tahun penjara. (zar)