
IPTU Ivan R.C. : Pengawasan Orang Tua Harus Ditingkatkan
MATARAM, Lakeynews.com – Kasus persetubuhan dan penganiayaan merupakan dua jenis kasus yang paling banyak ditangani Satuan Reskrim Polres Dompu dalam beberapa bulan terakhir.
“Dari dua jenis kasus itu, dominan melibatkan anak-anak di bawah umur. Baik sebagai pelaku maupun korban,” kata Kasat Reskrim IPTU Ivan Roland Christofel pada Lakeynews.com.
Ivan yang saat itu didampingi Paur Subbag Humas Aiptu Hujaifah menjelaskan, yang paling banyak pertama ditangani pihaknya adalah kasus penganiayaan.
“Pembacokan menggunakan senjata tajam maupun panahan, itu yang paling banyak,” jelas Ivan saat mengunjungi Redaksi Lakeynews.com di Jalan Lintas Sumbawa Desa O’o, Kecamatan Dompu.
Ivan kembali menegaskan, dari kasus-kasus tersebut, kebanyakan anak-anak di bawah umur.
“Hampir 90 persen kasus penganiayaan ini melibatkan anak-anak, baik sebagai pelaku maupun korban,” tandas Pama Polri yang dikenal sederhana dan low profile itu.
Apa penyebab terjadinya kasus penganiayaan oleh dan terhadap anak-anak ini?
“Banyak penyebabnya. Ada yang karena terkait asmara. Ya, masalah pacar,” jawab Ivan baru-baru ini.
Selain itu, ada yang tersinggung karena tidak terima diejek temannya, ribut antargeng dan banyak hal lainnya.
“Secara umum, pemicunya hal-hal sepele. Hanya karena masalah yang tidak patut saja,” tandas IPTU Ivan.
Sekolah libur atau belajar di rumah selama pandemi Covid-19 juga mempengaruhi tingginya kasus penganiayaan yang melibatkan anak-anak ini.
Kalau malam, jelas Ivan, anak-anak lebih banyak berada di luar rumah. Ngumpul dengan teman-temannya. “Ada ketersinggungan, mungkin dipicu saling ejek, maka terjadilah penganiayaan,” ulasnya.
–
Persetubuhan dan Pencabulan
Disamping kasus penganiayaan, kasus persetubuhan dan pencabulan juga tinggi. Lagi-lagi anak-anak di bawah umur yang paling banyak sebagai korbannya.
Faktor pandemi Covid-19 dinilai berkontribusi pada tingginya kasus persetubuhan dan pencabulan terhadap anak-anak ini.
Menurut Ivan, kegiatan belajar mengajar biasanya lebih banyak di sekolah. Namun, selama masa pandemi, lebih banyak kegiatan belajar di rumah.
Parahnya lagi, pengawasan dari orang tua justru kurang. “Nah, pengawasan dari orang tua ini sangat penting,” imbuhnya.
Ivan mengingatkan agar perlunya pengaktifan kembaki kegiatan-kegiatan keagamaan, seperti mengaji dan sebagainya.
“Daripada anak-anak lebih banyak menghabiskan waktunya di luar sana, lebih baik mengaktifkan kegiatan-kegiatan yang positif,” tukasnya.
Pihak desa atau dusun, menurut hemat Ivan, bisa menjalankan jam-jam pengajian bagi anak-anak.
Bagaimana upaya kepolisian untuk meminimalisir terjadinya kasus-kasus yang melibatkan anak-anak ini?
“Diantaranya, kita rutin dan terus melakukan patroli. Pagi, siang, sore dan malam,” jawab IPTU Ivan.
Hanya saja, lanjutnya, kepolisian tidak bisa sendiri dalam mengatasi masalah ini. Sangat dibutuhkan keikutsertaan, keterlibatan dan bantuan dari berbagai lapisan masyarakat.
Ivan tidak ingin pihaknya seolah seperti pemadam kebakaran. Menunggu ada kejadian, baru proses.
Namun, yang jauh lebih penting bagaimana masyarakat bersama-sama kepolisian menggali akar masalahnya dan mencari solusi penyelesaiannya.
“Pengawasan orang tua, tokoh-tokoh masyarakat, tokoh agama, tokoh pemuda dan masyarakat secara umumlah yang harus diutamakan serta sangat dibutuhkan,” pinta Ivan. (tim)
