
KEJADIAN, bencana dan ujian besar, tidak selamanya membawa petaka. Bagi Gubernur dan Wakil Gubernur NTB, Dr. H. Zulkieflimansyah dan Dr. Hj. Sitti Rohmi Djalilah (Zul-Rohmi), ada hikmah dan berkah dalam membangun daerahnya lebih baik.
Ada dua bencana besar yang secara beruntun melanda NTB. Bencana alam gempa bumi yang terjadi pada Agustus 2018 dan pandemi Covid-19 yang masih berlangsung hingga saat ini.
Zul-Rohmi bersama jajarannya berhasil mengatasi tantangan tersebut dan menemukan peluang membangun NTB selama dua tahun masa kepemimpinan mereka.
Menurut Rohmi, dalam tantangan dan kejadian itu, tetap ada hikmah dan berkah yang luar biasa untuk mewujudkan NTB Gemilang.
Menurutnya, meski hambatan luar biasa, pencapaiannya sangat membanggakan. “Kita tetap bisa membangun NTB yang lebih baik,” papar Rohmi.
Hal itu disampaikan Wagub saat menjadi narasumber dalam acara Berugaq Live bertema “Dua Tahun Zul/Rohmi Membangun NTB” di Studio TVRI NTB, Senin (21/9).
Pencapaian program-program unggulan NTB, lanjut Rohmi, sudah ‘on the right track’ (di jalan yang benar). Berbagai inovasi juga lahir dalam upaya percepatan pemulihan pascabencana.
Bahkan, menurut dia, Pemerintah Pusat mengapresiasi NTB sebagai salah satu provinsi terbaik dalam pemulihan pascagempa tahun lalu.
“Walaupun kita yang menjalani di sini sangat besar tantangannya, ternyata secara nasional, penanganan kita termasuk yang terbaik,” paparnya.
Belum sempat menikmati angin segar pascapemulihan akibat gempa bumi, NTB khususnya dan Indonesia umumnya kembali dikejutkan dengan pandemi Covid-19.
Antisipasi dari dampak pandemi itu, Pemprov NTB segera merumuskan kebijakan-kebijakan yang difokuskan pada penanganan kesehatan dan dampak sosial ekonomi masyarakat.
Program JPS Gemilang yang diluncurkan, menggunakan produk-produk lokal. Itu ternyata menjadi inspirasi di tingkat nasional. “Sehingga dua mata pisau ekonomi masyarakat tetap hidup,” ujar Rohmi.
Meski Covid-19 masih mewabah, beberapa program unggulan NTB mulai terwujud. Salah satunya, revitalisasi Posyandu menjadi Posyandu Keluarga.
Dari 7.800 lebih Posyandu se-NTB, hingga 2020 sudah mencapai 1.800 lebih Posyandu berhasil direvitalisasi menjadi Posyandu Keluarga.
Begitu juga pembentukan Pokja. Dari 995 desa di NTB, yang sudah terbentuk sebanyak 556 desa.
Rohmi sangat bersyukur, desa-desa di NTB gampang diajak berkolaborasi. Sebenarnya desa-desa itu butuh solusi, terus dampingi dan diedukasi. “Insya Allah, tahun 2023 semua Posyandu menjadi Posyandu Keluarga,” tuturnya.
Begitu pula dengan program unggulan “NTB Bebas Sampah (Zero Waste)”. NTB Zero Waste maupun NTB hijau merupakan program yang banyak mendapatkan dukungan dan pastisipasi berbagai kalangan.
Katanya, tidak sedikit desa di NTB yang berlomba menyulap desanya asri dan lestari. Penyediaan bank sampah hampir ada di setiap desa, sebagian besar masyarakat juga berhasil mengolah sampah menjadi berkah yang memiliki nilai ekonomis.
“Itulah yang kita dorong agar masyarakat menemukan peluang, agar mendapat nilai tambah,” tandasnya. (tim)
