Ratusan anggota keluarga dan warga Desa Mekar Sari, Gunungsari, Lombok Barat, menjemput paksa jenazah pasien Covid-19 di RSUD Kota Mataram. (ist/lakeynews.com)

Laporan:
Sarwon Al Khan

Peristiwa penjemputan paksa jenazah positif Covid-19 oleh keluarga bersama warga di RSUD Kota Mataram, Senin (6/7) begitu heboh dan menyita perhatian publik. Kepolisian pun akhirnya turun tangan, memberikan edukasi yang humanis kepada warga, terutama keluarga almarhum.


SEBAGAIMANA diketahui, ratusan anggota keluarga dan warga Desa Mekar Sari, Kecamatan Gunungsari, Kabupaten Lombok Barat (Lobar), menjemput paksa jenazah pasien Covid-19 hari itu sekitar pukul 19.00 Wita, mendatangi RSUD Kota Mataram.

Laporan yang diterima Lakeynews.com, massa menuntut pemulangan jenazah warga berinisial MS (50) yang oleh pihak RSUD dinyatakan positif Covid-19. Dan, akhirnya berhasil membawa pulang secara paksa jenazah tersebut.

Hasil rapid test dan swab di RSUD Kota Mataram, MS positif Covid-19. Sehingga, pihak rumah sakit menganjurkan agar pemakaman jenazah menggunakan protokol kesehatan Covid-19. Namun, massa menolaknya.

Awalnya, almarhum MS dibawa ke RS Metro Medika Rembiga pada Kamis (2/7) karena sesak napas.

Karena tidak ada perubahan, akhirnya pasien dirujuk ke RSUD Kota Mataram dan sempat menjalani perawatan selama empat hari. Hasil diagnosa pihak rumah sakit setempat, pasien mengalami infeksi paru-paru.

Petugas medis dan rumah sakit telah berupaya merawat dan mengobati. Namun, Yang Maha Kuasa berkehendak lain. Pada Senin (6/7) sekitar pukul 16.00 Wita, MS menghembuskan napas terakhirnya.

Pihak rumah sakit sempat menginformasikan kepada pihak keluarga, bahwa hasil Swab, MS positif Covid-19. Tampaknya pihak keluarga tidak percaya dan tidak menerima MS dianggap positif Covid-19.

Informasi tersebut sampai juga ke telinga warga Desa Mekar Sari. Sekitar pukul pukul 19.00 Wita, ratusan warga berdatangan ke rumah sakit untuk menjemput paksa pasien positif Covid-19 itu.

Sebelum jenazah dibawa paksa, sempat dilakukan mediasi antara pihak keluarga dan rumah sakit didampingi Camat, Danramil dan Kapolsek Gunungsari serta kepala dusun Mekar Sari.

Namun demikian, pihak keluarga tetap tidak menerima almarhum dinyatakan positif Covid-19. Mereka ngotot melakukan prosesi pemakaman jenazah MS sesuai tuntunan Islam.

Pihak Polres Mataram juga sempat melakukan pendekatan pada pihak keluarga. Namun, pihak keluarga tetap ngotot.

Mereka mengatakan siap bertanggung jawab apapun yang terjadi di kampungnya. “Masyarakat juga banyak yang tidak setuju warganya (MS, red) dinyatakan positif Covid-19. Kami langsung bawa pulang jenazahnya,” tegas salah seorang anggota keluarga almarhum MS.

Akhirnya, sekitar pukul 21.00 Wita pihak keluarga membawa paksa jenazah MS. Yang memilukan jenazah diangkut menggunakan mobil taksi. Kemudian dimandikan hingga dimakamkan pada Selasa (7/7).

Sayangnya, terkait masalah ini, Lakeynews.com tidak berhasil mendapat tanggapan pihak Gugus Tugas Penanganan Covid-19 Provinsi NTB.

Salah satu unsur Gugus Provinsi yang dikonfirmasi adalah Kepala Dinas Kesehatan NTB dr Nurhandini Eka Dewi. Sayangnya, hingga Rabu (8/7) malam ini pukul 20.13 Wita, dr Eka belum membuka pesan WhatsApp yang dikirimkan media ini sejak Selasa (7/7) pukul 16.21 Wita.

Kapolres Lombok Barat melakukan pendekatan terhadap keluarga almarhum MS di Desa Mekar Sari. (ist/lakeynews.com)

Sedangkan Kadis Komunikasi, Informatika dan Statistik (Kominfotik) NTB I Gde Putu Aryadi, M.Si (IGP Aryadi), menyarankan agar Lakeynews.com mengonfirmasikan ke Gugus Tugas Kota Mataram.

“Ini konfirmasi ke Gugus Tugas Kota Mataram. Saya gak bisa memberikan keterangan, karena masih dalam ranah kewenangan Walikota Mataram,” jelas Pak Gde, sapaan IGP Aryadi melalui pesan WhatsApp-nya.

Sementara Gugus Tugas Kota Mataram, hingga sore Rabu ini, belum berhasil dikonfirmasi.

Namun, Pemkot melalui RSUD Kota Mataram telah mengambil langkah. Keluarga almarhum MS telah membuat Surat Pernyataan tentang Penolakan Tindakan/Prosedur Penanganan Covid-19. Terutama pada proses pemakaman jenazah.

“Selanjutnya pihak RSUD Kota Mataram tidak bertanggung jawab terhadap segala sesuatu yang terjadi di luar RSUD Kota Mataram dan pihak keluarga pasien bersedia menerima konsekuensi hukum sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.”

Demikian antara lain isi surat pernyataan di atas materai 6000 yang ditandatangani Mahnun, dengan saksi Nasrudin (Keluarga/Kadus Mekar Sari) dan Hiznadi (Tim Negosiasi RSUD Kota Mataram).

Kabid Humas Polda NTB Kombes Pol Artanto, SIK, M.Si. (ist/lakeynews.com)

Kepolisian Upayakan agar Keluarga Bersedia Rapid Tes

Pengambilan jenazah positif Covid-19 di RSUD Kota Mataram, mengharuskan Polda NTB bijak dalam menyikapinya.

Sebagai langkah persuasif, Polda bersama Polres jajaran terkait melakukan humanis approach (pendekatan humanis) dan edukasi kepada pihak keluarga almarhum MS.

Kapolda NTB Irjen Pol Muhammad Iqbal, SIK, MH melalui Kabid Humas Artanto, SIK, M.Si, mengungkapkan kepolisian melakukan pendekatan terhadap keluarga jenazah, agar bersedia melakukan pemakaman sesuai prosedur penanganan Covid-19. “Alhamdulillah keluarga almarhum menyetujuinya,” ujar Artanto.

“Kapolda melalui Kapolres Lombok Barat juga kembali melakukan pendekatan. Namun saat pemakaman, mereka (keluarga dan warga) menolak untuk dilakukan sesuai prosedur Covid-19,” sambung Artanto.

Upaya membantu memutus rantai penyebaran Covid-19 dan membangun kesadaran masyarakat terus dilakukan kepolisian. Lagi-lagi pendekatan kembali dilakukan.

Kali ini untuk edukasi (pembelajaran). Pokisi memberikan pemahaman agar pihak keluarga bersedia dilakukan rapid test. “Ini perlu dilakukan untuk mengetahui kondisi kesehatan mereka. Jangan sampai mereka yang berinteraksi juga terpapar Covid-19,” tandas Artanto.

Rapid test diharapkan dilakukan terhadap keluarga almarhum, termasuk terhadap yang berinteraksi saat pengambilan jenazah.

Pihak kepolisian bekerja sama dengan rumah sakit mulai melakukan traching terhadap semua yang berinteraksi. Termasuk sopir taksi yang digunakan membawa pulang jenazah.

“Dari hasil traching itu, nantinya akan dilakukan rapid test,” papar Artanto. (*)