Plh Kasat Reskrim Polres Dompu IPDA Rusnadin. (ist/lakeynews.com)
Korban Iskandar meregang nyawa (diduga) setelah dibunuh secara sadis oleh sepupunya sendiri, SF. (ist/lakeynews.com)

Laporan:
Tim Lakeynews.com, Dompu

Bagaimana perkembangan penanganan kasus pembunuhan sadis terhadap Iskandar (35) oleh tersangka SF (28) yang juga sepupu satu korban sendiri di Dusun Nggeru Timur, Desa Mangge Asi, Kecamatan Dompu, Kabupaten Dompu, Jumat (12/6) lalu?

===============

UNTUK mengetahui dan memastikannya, Lakeynews.com berupaya mengonfirmasikan hal ini ke Kasat Reskrim Polres Dompu IPTU Ivan Roland Christofel.

“Silakan ke kantor (Sat Reskrim Polres Dompu, red) Pak. Saya lagi di Polda (NTB). Ada kegiatan,” kata Ivan melalui pesan WhatsApp-nya, Kamis (2/7) sore.

Namun, Kapolres Dompu AKBP Syarif Hidayat, SH, SIK melalui Plh Kasat Reskrim IPDA Rusnadin, mengungkapkan, berkas perkara kasus ini sudah tahap satu ke Kejaksaan Negeri Dompu.

“Berkas perkaranya sudah tahap satu. Sudah kami limpahkan ke kejaksaan, beberapa hari yang lalu,” kata Rusnadin via ponselnya, Kamis malam ini.

Saat ini, kepolisian sedang menunggu petunjuk dari kejaksaan. Kira-kira seperti apa petunjuk kejaksaan dari hasil penyidikan yang lakukan polisi. “Itu yang kita tunggu sekarang,” papar Rusnadin.

Adakah kemungkinan penambahan tersangka, termasuk ayah tersangka SF yang oleh elemen tertentu diduga terlibat dalam kasus ini?

Menjawab itu, Rusnadin menjelaskan, untuk sementara masih satu tersangka. Dari alat bukti yang sudah dikumpulkan, baik keterangan para saksi dan lainnya, tersangkanya masih satu orang.

“Belum ada yang menunjukkan keterlibatan orang lain,” aku pria kelahiran 11 April 1979 itu.

Kendati demikian, Rusnadin menegaskan, bukan tidak bisa atau bukan tidak mungkin ada tersangka lain. “Kami akan terus berupaya mengusut tuntas kasus ini,” tegasnya.

Sejumlah saksi, termasuk saksi yang diajukan pihak keluarga korban sudah diperiksa. Dari pernyataan para saksi, belum ada yang mengarah pada adanya keterlibatan ayah pelaku.

Diakui Rusnadin, ada satu saksi yang yang diajukan keluarga korban yang sempat melihat kejadian itu dari jarak dekat. Dia seorang kakek yang kebetulan kebunnya dekat dengan lokasi pembunuhan.

Namun saksi tersebut hanya melihat saat pelaku menindih parang ke leher korban. “Setelah itu, saksi kabur, karena ketakutan,” urainya.

Bagaimana dengan rekonstruksi kasus ini? Kapan dan dimana rencana dilaksanakan?

“Sama. Kami menunggu petunjuk dari kejaksaan. Apakah perlu dilakukan rekonstruksi atau tidak,” jawab Rusnadin.

Kalau mengacu pada Undang-undang, lanjutnya, rekonstruksi sebenarnya tidak diwajibkan. “Tapi, kalau kejaksaan punya keyakinan tidak perlu dilakukan rekonstruksi, berarti tidak perlu kami lakukan,” paparnya.

“Namun, kalau menurut petunjuk kejaksaan, kami perlu melakukan rekonstruksi untuk meyakinkan teman-teman jaksa, maka kami lakukan,” tegas Rusnadin menambahkan.

Leher Korban Nyaris Putus

Diketahui, kasus pembunuhan sadis itu terjadi di sebuah ladang/kebuh di Dusun Nggeru Timur, Desa Mangge Asi, Jumat (12/6) lalu.

Menurut Paur Humas Polres Dompu AIPTU Hujaifah, kasus pembunuhan yang terjadi sekitar pukul 13.30 Wita itu berawal dari masalah sepele. Hanya cekcok.

Usia salat Jumat, korban pergi ke ladang pertanian dengan sepeda motor. Kebetulan lokasi ladang korban berdekatan dengan ladang jagung milik pelaku.

Awalnya, korban dan pelaku sempat ngobrol menanyakan perihal kabar. Tidak lama kemudian keduanya terlibat cekcok.

Cekcok keduanya didengar orang tua pelaku, Abdul Rasyid dan menengahinya.

Tidak terima orang tuanya didorong, pelaku SF marah dan mengajak korban berkelahi.

Saat itu juga, pelaku langsung mengeluarkan parang yang sudah dibawa sebelumnya dan diselipkan di pinggang. Pelaku lalu menyerang korban, membacok berkali-kali dan tega menggorok leher korban hingga nyaris putus.

Beberapa saksi lain yang sempat melihat kejadian itu tidak berani mendekat. “Mereka bahkan memilih lari karena ketakutan,” jelas Hujaifah.

Setelah membunuh korban, pelaku menyerahkan diri ke Polres Dompu dengan pakaian berlumuran darah. (*)