Dr. Ihlas Hasan. (ist/lakeynews.com)

IAI Muhammadiyah Bima Tambah Doktor Baru

DITENGAH pandemi Covid-19, Dosen IAI Muhammadiyah Bima Ihlas Hasan mampu meraih gelar doktor.

Dia berhasil mempertahankan Judul Disertasinya; “Transformasi Budaya Pacuan Kuda untuk Pengembangan Karakter Anak Usia Dini”.

Perjuangan mempertahankan disertasinya tersebut dilaksanakan secara online pada Senin (18/5).

Sebelum sampai pada ujian promosi ini, dia telah melewati tahapan ujian kualifikasi, proposal, kelayakan, tertutup dan publis jurnal internasional.

Ihlas melaksanakan ujian Promosi Doktor Pascasarjana Universitas Negeri Jakarta (UNJ) dan berhasil mempertahankan hasil risetnya, di hadapan promotor dan dewan penguji.

Para promotor dan dewan pengujinya itu terdiri dari; Dr. Komarudin, M.Si, Prof. Dr. Nadiroh, M.Pd, Penguji Prof. Dr. Tri Ratna Murti, M.Psi, Prof. Dr. Mastini Jamaris, M.Sc.,Ed, Promotor, Prof. Dr. Yufiarti, M.PSi dan Co-Promotor Dr. Edwita, M.Pd.

Dr. Ihlas meneliti, bidang ilmu PAUD terkait dengan masalah pembentukan karakter anak usia dini.

Pada Lakeynews.com, Ihlas menjelaskan, penelitian ini dilatarbelakangi oleh adanya fenomena anak usia dini yang mengalami kecanduan gadget, seperti game online, smartphone, laptop dan produk teknologi sejenisnya.

“Padahal beberapa hasil penelitian menemukan, bahwa anak-anak yang terpapar flash screen terlalu lama lebih dari 15 menit berdampak buruk bagi kesehatan anak-anak,” jelasnya. 

Misalnya gangguan penglihatan, gangguan syaraf otak dan menyebabkan penyakit fisik lain disebabkan anak tidak banyak bergerak. Untuk itu, perlu digali kembali permainan tradisional sebagai sarana stimulasi perkembangan anak.

“Salah satunya adalah budaya pacuan kuda,” jelasnya.

Ihlas berhasil menemukan korelasi positif dan signifikan antara  pengembangan fisik motorik halus dan kasar anak melalui kearifan lokal budaya pacuan kuda.

Temuannya menjelaskan, kearifan lokal budaya pacuan kuda mendukung perkembangan fisik motorik anak usia dini. Terutama pada apek motorik kasar, seperti kemampuan menendang, lompat, duduk, berdiri, berjalan berlari, dan naik-turun kuda.

Sementara aspek motorik halus, seperti kemampuan yang berhubungan dengan keterampilan fisik yang melibatkan otot kecil dan koordinasi mata-tangan.

Selain itu, melalui pacuan kuda mampu terbentuk sensori integrasi. Misalnya persendian, sensori penglihatan (visual), pendengaran (audiotory), keseimbangan (balance), perasa (gustatory) perabaan (tactile) dan persendian (proprioceptive).

Bukan itu saja. Temuan penting dalam penelitiannya, bahwa melalui budaya pacuan kuda dapat membantu terbentuknya karakter anak usia duni. Antara lain, karakter religius, karakter bersahabat, cinta lingkungan, sportif, mandiri, kerja keras dan disiplin.

“Karena, budaya pacuan kuda, mulai dari awal belajar sampai menjadi joki cilik memerlukan kerja keras dan disiplin,” urainya. 

Pada kesempatan itu, Ihlas menyampaikan ucapan terima kasih pada UNJ, Rektor, Promotor, Ko-Promotor, penguji, pimpian IAI Muhammadiyah Bima, PDM Kota dan Kabupaten Bima, rekan-rekan dosen, teman-teman dan dukungan keluarga selama studi.

Sebagai anak petani, tentu Ihlas merasa sangat bersyukur, karena bisa sampai pada tahap pendidikan akademik tertinggi. “Semoga capaian ini bisa menjadi motivasi bagi generasi selanjutnya, terutama di Dompu dan Bima,” harapnya.

Diakuinya, dalam menyelesaikan studi doktor, bukanlah perkara mudah. Banyak cobaan dan tantangan yang dihadapi. Tetapi berkat motivasi dan dukungan sahabat, keluarga dan berbagai pihak yang tidak sempat dia sebutkan satu persatu, akhirnya studi ini bisa dirampungkan.

Bagaimana kisah, suka dan duka, pahit dan getir perjuangan anak petani asal Desa Karamabura, Kecamatan Dompu, Kabupaten Dompu ini dalam meraih gelar akademik tertingginya itu? Ikutilah kupasan Lakeynews.com pada edisi selanjutnya.

(sarwon al khan/bersambung)