
Oleh: Suherman
Ke ribaan Ilahi Rabbi, semua isi langit dan bumi pasti kembali. Tak terkecuali manusia itu sendiri.
Sekitar jam 02.20 pagi tadi, Selasa 28 April 2020 saat terbangun untuk makan sahur. Saya sempat membuka HP, betapa terkejutnya ketika menerima informasi di group WA Alumni yang menginfokan telah meninggalnya, Nur Komalasari.
Saya menunda makan sahur seketika, mencoba mengingat-ingat memori saat bersamanya. Membuka dan mencari album lama. Tak seperti yang lain, dengannya saya memang jarang berswa foto dan berselpie ria secara pribadi.
Beberapa waktu lalu saya sempat mendengar kabar tentang penyakit yang dideritanya dan tempat perawatannya. Informasinya almarhumah mengidap sakit ginjal dan beberapa bulan terkahir dirawat di RSUD Kota Mataram.
Saya mengenalnya saat sama-sama ssbagai penyelenggara pemilu di daerah. Ia di Bawaslu Dompu dan saya sendiri di KPU Kabupaten Dompu.
Di awal-awal menjadi anggota Panwaslu yang akhirnya menjadi Bawaslu berdasarkan UU No.7/2017 tentang Pemilu, ia banyak mengajak saya berdiskusi baik lewat telpon maupun ketika bertemu langsung. Itu dilakukannya karena selain sebagai sesama penyelenggara pemilu dan juga karena saya pernah memiliki pengalaman sebagai anggota Panwaslu pada periode sebelumnya.
Kami banyak berdiskusi dan sharing tentang kelembagaan penyelenggara pemilu, tentang etika penyelenggara pemilu, terkait dengan strategi pengawasan pemilu dan hal-hal lainnya.
Ia sosok yang detail dan teliti karena latar belakang pendidikannya yang sarjana ekonomi. Logikanya sistematis dan rapi, argumentasinya padat dan berisi. Saat rapat pleno tentang data dan angka, pleno DPT misalnya. Ia “crewet” memberikan masukan dan tanggapan untuk koreksi dan perbaikan.
Selain itu, ia adalah sosok yang sabar dan berdedikasi tinggi. Suatu ketika saat mengikuti kegiatan yang diadakan Bawaslu Propinsi, ia mengalami patah tulang kaki dan harus dioperasi.
Saat dirawat di Rumah Sakit Angkatan Darat (RSAD) Kota Mataram, saya sempat menjenguknya. Tak ada sedih dan kecewa dalam dirinya. Yang ada hanya senyum sabar yang menyebar.
Bahkan saat masih dalam proses pemulihan diharuskan memakai tongkat sebagai penyangga kedua kakinya, ia tetap taat bekerja sepenuh waktu dan sepenuh hati. Tetap menghadiri acara sosialisasi, konsolidasi dan kordinasi baik di Dompu maupun di Propinsi.
Dan satu lagi, karakter seseorang bisa dilihat saat dia berdebat dan berdiskusi. Apakah sosok yang tensi atau mampu menahan diri. Kak Ala (panggilan akrabnya) adalah termasuk sosok yang bisa menahan diri dan rendah hati, ia tetap terlihat santun dan tersenyum manakala lawan diskusi dan debatnya mulai menunjukkan tensi tinggi.
Dalam setiap rapat pleno, ia selalu mengatakan dan menegaskan kepada kami (anggota KPU) dan rekan-rekan PPK bahwa “kami ini bukan musuh, kami (Bawaslu) tidak pernah mencari kesalahan rekan-rekan sekalian”.
Kak Ala, kau dan aku bahkan kita bukanlah musuh yang selalu mencari kesalahan masing-masing. Kau tetaplah teman yang mungkin dalam berteman, kita ada khilaf dan salah. Maafkan dan dengan tulus kaupun dimaafkan.
Selamat jalan Kak Ala, pergilah menuju Rabbmu dengan damai dan tenang. Insha Allah Husnul Khatimah, Al Fatihah.
Penulis adalah temannya, anggota Panwaslu Dompu periode 2012-2014 dan anggota KPU Dompu periode 2014-2019. (*)
