
Ahsanul Khalik: Belum Ada Hasil Lab, Jangan Berspekulasi karena Covid-19
MATARAM, Lakeynews.com – Pascameninggalnya salah seorang pasien RSUD Provinsi NTB pada Sabtu (28/3) sore, informasi beredar begitu liar. Sederet spekulasi dan anggapan nyaring di telinga.
Bertambah parah karena informasi tersebut dikait-kaitkan dengan isu Covid-19 yang tengah melanda daerah, negeri, bahkan mewabah pada sejumlah negara di dunia.
Menanggapi hal itu sekaligus meminimalisir keresahan di tengah masyarakat, Kepala Pelaksana BPBD Provinsi NTB H. Ahsanul Khalik memberikan tanggapan, penjelasan dan klarifikasi. Dan, itu disampaikannya kepada media massa dan publik, Minggu (29/3).
Menurut Ahsanul, pasien itu berinisial IMS (55). Asal Karang Medain, Kota Mataram. Masuk ke IGD RSUD NTB pada Rabu (25/3).
Pasien datang diantar keluarganya, setelah pulang dari salah satu Rumah Sakit Swasta di Kota Mataram. IMS memiliki riwayat Diabetes Mellitus, Jantung dan Hipertensi.
“Pasien masuk ke RSUD Provinsi sudah dalam kondisi lemah dan ditangani secara intensif oleh tim medis (RSUD),” jelas Ahsanul dalam rilisnya pada media.
Karena saat ini sedang ramai kasus Covied-19, dan tanda awal dari pasien yang dalam kondisi lemah dan keluhan sesak, maka pihak RSUD NTB –sesuai SOP– mengambil langkah sigap.
“RSUD Provinsi melakukan isolasi pasien ini pada Jumat (27/03), sekitar pukul 13.00 Wita. Terus dilakukan pemantauan dan perawatan,” papar Ahsanul.
Keesokan harinya, Sabtu (28/03) kondisi pasien semakin lemah. Sehingga pada pukul 13.00 Wita, dokter penanggung jawab stand by dan memantau kondisi pasien secara seksama.
“Pada sekitar pukul 14.00 hingga 16.00 Wita kondisinya semakin melemah. Pukul 16.30 Wita pasien dinyatakan meninggal di hadapan keluarga dan tenaga medis,” urai mantan Kadis Sosial NTB itu.
Ahsanul mempermaklumkan dan menegaskan pada semua pihak (masyarakat luas), pasien tidak memiliki riwayat melakukan perjalanan ke daerah pandemi Covid-19.
Kendati demikian, terhadap yang bersangkutan (almarhum) tetap dilakukan pengambilan swab. Saat ini, pihaknya menunggu hasil pemeriksaan yang dilakukan Litbangkes Kemenkes RI.
“Saya berharap masyarakat tidak berspekulasi, tidak mengambil kesimpulan sendiri dan tidak berbagi informasi yang belum kita dapatkan kebenarannya bahwa pasien ini meninggal karena Covid-19,” tegasnya.
Terlebih, lanjut Ahsanul, almarhum tidak pernah atau tidak mempunyai riwayat bepergian dan kontak dengan penderita Covid-19.
“Tolong semuanya tenang dan bersabar menunggu hasil resmi dari Litbangkes,” imbuhnya lagi.
Lebih jauh dijelaskan Ahsanul, Tes Swab merupakan tes yang dilakukan dengan pengambilan cairan pada hidung atau tenggorokan.
Dari hasil tes swab inilah keberadaan virus corona dalam tubuh dapat diketahui. “Diagnosis corona didapat melalui Swab terhadap sampel yang dikirim ke Laboratorium Litbangkes Kemenkes,” paparnya.
Sesuai SOP dan untuk menjaga keselamatan masyarakat secara luas, maka penanganan terhadap jenazah IMS dilakukan seperti penderita Covid-19. Langkah itu semata-mata sebagai sebuah kewaspadaan. “Pada saat pemakaman masyarakat tidak perlu khawatir,” cetusnya.
Masyarakat diimbau agar percaya bahwa yang dilakukan dalam penananganan jenazah almarhum adalah yang terbaik. Untuk kepentingan masyarakat.
“Karena itu, kita tidak berpekulasi apakah almarhum positif atau negatif Covid-19,” tegas Ahsanul.
Yang paling penting saat ini, semua pihak mengikuti petunjuk yang telah dikeluarkan oleh pemerintah. Tetap saling mengingatkan dan saling menjaga. Cuci tangan, jaga jarak (physical distancing), jalankan pola hidup bersih dan sehat.
“Konsumsi vitamin, jauhi keramaian dan jangan termakan berbagai isu dan informasi hoax. Dapatkan informasi dari sumber resmi dan dapat dipercaya,” sarannya. (tim)
