
Pasangan Muhammad Ruslan-Nasaruddin Bakal Diusung Empat Parpol
Catatan: Sarwon Al Khan, Dompu
KABUPATEN Dompu merupakan salah satu daerah yang menjadi bagian Pilkada “serentak” pada September 2020.
Parpol dan masyarakat seyogianya mengedepankan kejernihan dan akal sekat dalam mengusung dan memilih calon pemimpin.
Karena itu, jangan sampai direduksi kepemimpinan itu sebatas transaksional. “Jangan karena uang, lalu kita kehilangan kejernihan dan akal sehat dalam memilih pemimpin,” tegas Dr. H. Zulkieflimansyah.
Penegasan tersebut disampaikan ketua Tim Pemenangan Pilkada PKS yang juga Gubernur NTB ini ketika bersilaturahmi dengan masyarakat Kecamatan Manggelewa, Sabtu (11/1) malam.
Pertemuan yang berlangsung lebih kurang 20 menit itu berlangsung di halaman rumah salah satu kader PKS, di Desa Doromelo. Selain warga, “silaturahmi politik” itu juga dihadiri Bakal Calon Bupati Dompu Ir. Muhammad Ruslan (Dae Olan).
Hadiri juga Ketua DPC Partai Hanura Dompu H. Sanusi HMZ, Sekretaris DPC yang juga anggota DPRD Kurniawan Ahmadi, Ketua Tim Penjaringan Cabup/Cawabup Hanura Arif Rahman dan sejumlah pengurus lain. Disamping para kader PKS, PBB dan PDI Perjuangan yang ada di Manggelewa.
Sebelumnya, sebagai Gubernur, Bang Zul (sapaan akrab Dr. H. Zulkieflimansyah), melakukan kunjungan disertai beberapa kegiatan di Kabupaten Bima, Kota Bima dan Kabupaten Dompu.
Bang Zul berharap, suksesi Pilkada Dompu 2020 ini melahirkan pemimpin dan menghadirkan kemaslahatan yang labih baik bagi Nusa Tenggara Barat. “Ini hadiah terbesar demokrasi dari Dompu,” cetus mantan anggota DPR RI ini.
Cerita Tikus, Ilustrasi dan Analogi Suksesi Kepemimpinan
Ketika berbicara dalam durasi sekitar 12 menit, Bang Zul sempat mengilustrasikan dan menganalogikan suksesi kepemimpinan (Bupati, Walikota dan Gubernur) dengan Cerita Tikus.
Dia mengaku tertarik membaca cerita itu, lalu menceritakannya dalam forum tersebut. Cerita ini juga sering disampaikannya pada masa kampanye Pilgub/Wagub NTB , beberapa waktu lalu.
Berikut lebih kurang cerita singkatnya;
Konon, ada seekor tikus yang tinggal di rumah pasangan suami istri petani. Tikus itu tiap hari berlari ke sana dan kemari. Naik ke loteng, menjijit, riang dan bergembira. Saking senangnya. Dia merasa menjadi bagian dari keluarga petani itu.
Suatu hari, Pak Tani dan Bu Tani ini ke pasar. Pulang membawa bungkusan besar. Isinya perangkap tikus.
Tikus yang sudah telanjur senang menjadi stress. Sudah merasa bagian dari keluarga petani itu, tiba-tiba dibawakan perangkap. Seakan-akan ingin mengakhiri hidupnya.
Tak lama kemudian, dia bertanya pada lingkungan sekitarnya. Dia mengekspresikan suasana batin yang teramat gelisah.
Tikus lalu bertanya pada Ayam. “Wahai Ayam, kita ini kan hidup bertetangga. Sesama di rumah si petani ini,” kata Tikus membuka pembicaraan.
Tikus merasa sudah cukup lama hidup di rumah petani itu. Membersihkan rumah dari sisa-sisa makanan. Semuanya dikeluarkannya.
“Tapi, kenapa petani ini tiba-tiba membawa perangkap tikus. Ini kan sama dengan akhir hidup saya,” curhat Tikus.
Jawaban yang berikan Ayam sungguh mengecewan Tikus. “Nggak ada hubungan saya dengan perangkap tikus. Itu urusan kamu,” kata Ayam dengan sombong.
Rupanya si Petani ini juga memelihara kambing. Tikus pun mendatangi Kambing. Dia bertanya dan menyampaikan kegelisahan serupa.
Jawaban Kambing; “Nggak ada urusan dengan saya. Perangkap tikus itu urusan kamu.”
Kecewa lagi tikus.
Selanjutnya, tikus mendatangi Sapi. Ekspresi perasaan yang sama pun disampaikannya. Namun, lagi-lagi Tikus mendapat jawaban yang sama dengan yang disampaikan Ayam dan Kambing.
Bahkan, jawab sapi lebih keras lagi. Lebih sombong pula. “Apa hubungannya saya dengan perangkap Tikus? Nggak ada kaitannya dengan saya. Itu urusan kamu,” kata Sapi dengan congkaknya.
Singkat cerita, tikus kecewa. Dia sudah merasa tetangga dengan ayam, kambing dan sapi. Ketika mengekspresikan perasaannya, justru ditanggapi tidak bersahabat seperti itu.
Perangkap tikus akhirnya dipasang pasutri petani itu di sawahnya.
Ketika fajar mulai muncul, si Istri Pak Tani mendatangi tempat perangkap tikus. Dia ingin melihat hasil perangkap yang mereka pasang.
Rupanya, sejak semalam, bukan tikus yang terperangkap. Tapi ular yang justru terjaring. Ketika wanita itu membuka perangkap, langsung dipatok ular. Dan, ularnya kabur ke sawah.
Wanita itu menjadi lemas dan terjatuh. Dilihat sama suaminya. Suaminya kaget. Istrinya yang dikenal kuat, tiba-tiba lemas.
Pak Tani berpikir, perlu memberikan sop ayam pada istrinya agar pulih. Kemudian memanggil anaknya untuk menyembelih ayam dan membuatkan sop.
Karena totokan ular parah, kondisi istrinya tidak membaik, bahkan tambah parah. Keluarga pada datang menjenguk.
Lantaran banyaknya keluarga yang datang, akhirnya potong kambing.
Manusia hanya punya rencana, Tuhan yang menentukan. Bu Tani meninggal dunia.
Berita meninggalnya ibu tani beredar luas. Orang sekampung pun berdatangan, melayat dan takziah. Sehingga untuk makan warga itu, sapi Pak Tani dipotong.”
Ada pesan moral yang ingin disampaikan oleh pemilik cerita. Sekilas, memang tidak ada kaitannya antara perangkap tikus dengan ayam, kambing dan sapi.
Tetapi, karena tidak ada kepedulian pada kegelisahan dan nasib tetangganya (tikus), maka ayam, kambing dan sapi justru lebih dulu mampus disembelih. “Ayam, kambing dan sapi jadi korban juga,” kata Bang Zul.
Kira-kira begitu juga dengan kepemimpinan. Termasuk terkait dengan pergantian bupati, walikota atau gubernur. Tidak sedikit dari masyarakat yang beranggapan, “Apa hubungannya pergantian pemimpin dengan kita.”
Menurut Bang Zul, sebagian masyarakat menganggap, bupati, walikota atau gubernur berganti, mereka toh begini-begini saja. “Tidak ada urusannya dengan kita,” tuturnya mengutip anggapan masyarakat.
Analoginya, lanjut Bang Zul, sama antara tikus dan perangkapnya dengan ayam, kambing dan sapi. Kalau masyarakat tidak peduli dengan kepemimpinan di level apapun, bukan hanya ayam, kambing dan sapi yang disembelih atau jadi korban.
“Mungkin jembatan, jalan raya, nasib perani seperti pupuk dan sebagainya, itu juga bisa tersebelih dengan sendirinya, kalau kita tidak peduli dengan pergantian pemimpin,” tegasnya.
Bukan saatnya lagi masyarakat dan semua elemen tidak peduli. Dia mengajak masyarakat menikmati demokrasi dengan cita-cita. “Ingatkan masyarakat pada mandatnya,” imbuhnya.
“Jangan sampai direduksi kepemimpinan itu sebatas transaksional. Jangan karena uang, kita kehilangan kejernihan dan akal sehat dalam memilih pemimpin,” ujar Bang Zul menekankan.
Demikian juga partai politik. Dia berharap di Dompu, parpol-parpol rasional dan punya akal sehat untuk menjadi partai yang mengusung kepemimpinan Dompu yang lebih baik.
“Mudah-mudahan pada suksesi kepemimpinan 2020, kita memiliki pemimpin yang lebih baik,” harapnya.
Jangan Korbankan Masyarakat
Pada sisi lain, Bang Zul berpesan, beda parpol dan beda calon yang diusung (didukung), jangan sampai kehilangan kehangatan persaudaraan. “Partai boleh beda, calon yang diusung juga boleh beda. Tapi, jangan bikin masyarakat jadi korban,” pintanya.
Sebenarnya, kata Bang Zul, bupati, walikota, gubernur ini pelayan masyarakat. Mestinya, kalau sebagai pelayan, tidak semua ingin. “Ini bukan jadi raja,” tandasnya.
Diakuinya, kekuasaan seorang kepala daerah ini memang besar. Sebab, kadang disematkan kepemimpinan ini luar biasa. Bisa ganti kepala dinas dan sebagainya.
“Kalau kita tidak mengapresiasi cara memilih yang baik, kita akan melahirkan kepemimpinan yang tidak berkualitas,” tegas Bang Zul mengingatkan.
Diharapkan, kehadiran dan penyampaiannya tersebut dapat menjadi inspirasi bagi partai politik dalam memutuskan calon yang akan diusung dan diperjuangkan pada Pilkada 2020 ini. Juga bagi masyarakat Dompu umumnya.
Sekali lagi, hadir dalam pertemuan itu ada dari PKS, Partai Hanura, PBB dan PDI Perjuangan. Informasi yang dihimpun Lakeynews.com, keempat parpol itu disebut-sebut sebagai pengusung pasangan Ir. Muhammad Ruslan (Presiden RAN) dan Nasaruddin, SH (ketua PKS Dompu).
Informasi lain sebelumnya, Bang Zul telah memberikan dukungan dan restu pada pasangan dengan jargon Dompu Juara tersebut. Bahkan, pertemuan yang digagas kubu Dompu Juara di Manggelewa itu pun sebagai tindak lanjut dari restu yang diberikan Bang Zul, beberapa waktu lalu.
“Semoga jernih. Mudah-mudahan Dompu yang sudah bagus ini, kedepan bisa dilanjutkan dengan kepemimpinan yang lebih bagus,” imbuhnya. (*)

One thought on “Bang Zul: Jangan karena Uang, Hilang Akal Sehat Memilih Pemimpin”