Jika tidak ada hambatan yang berarti, kedua TKI ini, Mardiana dan Syafruddin akan tiba di tanah air, besok, Sabtu (14/12). (ist/lakeynews.com)
Anggota DPR RI Dapil NTB 1 (Pulau Sumbawa) H. Muhammad Syafrudin, ST, MM. (ist/lakeynews.com)

 

Wawancara Anggota DPR RI Dapil NTB 1, HMS: Doakan, Semoga Pemulangannya Lancar

 

Dua TKI asal Kabupaten Bima, Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB), Mardiana (bekerja di Irak) dan Syafruddin (bekerja di Taiwan), dipastikan tiba di tanah air, Sabtu (14/12). Kepastian itu dipetik dari hasil wawancara Lakeynews.com dengan anggota DPR RI Dapil NTB 1 (Pulau Sumbawa) H. Muhammad Syafrudin, ST, MM (HMS), Jumat pagi ini.

————–

SEBAGAIMANA diketahui, Mardiana merupakan wanita asal Dusun Langgar Selatan, Desa Bugis, Kecamatan Sape. Menjadi TKW di di Kota Amara, Provinsi Wasit, Irak. Dia bersikeras pulang ke tanah air karena merasa jiwanya terancam oleh konflik yang terus menerus terjadi di negara itu.

Sedangkan Syafruddin (26), TKI asal Desa Sie, Kecamatan Monta yang bekerja di Taiwan. Pria ini pulang karena terpeleset dari lantai 11 di salah satu apartemen tempat tinggalnya, saat menghindari kejaran petugas pada Selasa (5/11) lalu.

Keinginan Mardiana pulang ke tanah air akhirnya terwujud. Anggota DPR RI H Muhammad Syafruddin memastikan kepulangan TKW asal Dusun Langgar Selatan Desa Bugis Kecamatan Sape Kabupaten Bima ini, pada Jumat (13/12).

“Insya Allah, besok pagi (Sabtu, red) Mardiana akan tiba Indonesia,” kata HMS via ponselnya.

Menurut anggota Komisi IV ini, sesuai tiketnya, Mardiana akan terbang dari Baghdad (Irak) pukul 11.10 dan tiba di Doha (Qatar) pukul 13.10 waktu setempat. Menggunakan pesawat QATAR Airways.

Setelah transit sekitar lima jam, Mardiana melanjutkan perjalanan. Dengan maskapai penerbangan yang sama, dia akan lepas landas dari Doha pukul 18.50 dan dijadwalkan mendarat di Bandara Soekarno-Hatta pukul 07.35 WIB. Melalui terminal tiga.

“Mohon doa dari kita semua, semoga pemulangannya berlangsung lancar dan selamat sampai di tanah air,” pinta politisi PAN yang sukses tiga periode duduk di parlemen Senayan itu.

Kalau tidak ada halangan, saya akan live (lakukan siaran langsung) kedatangan Mardiana maupun Syafruddin melalui media sosial,” tambahnya HMS.

Sebelum terbang dari Baghdad, Mardiana berada di Kantor Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI). Sebelumnya, dia dijemput di tempatnya bekerja oleh pihak kedutaan di Kota Amara, Provinsi Wasit. Kota Amara berada di sekitar 370 kilometer bagian tenggara Kota Baghdad atau berbatasan dengan Iran.

“Sebelum dijemput, Mardiana sempat kabur dari rumah majikannya. Karena, di daerah itu sering terjadi konflik,” jelas HMS.

Mardiana mengadu nasib di Kota Amara selama 1 tahun 4 bulan melalui jalur non prosedural. Selama di Kota Amara, kehidupannya tidak aman dan merasa tertekan. Selalu dihantui ketakutan oleh konflik berkepanjangan di negara itu.

Namun, berkat upaya keras HMS, Kemenlu, KBRI dan sejumlah pihak terkait lainnya, akhirnya keinginan Mardiana pulang ke negaranya terwujud.

“Alhamdulillah, ini berkat dukungan dan doa semua pihak, keinginan Mardiana pulang kampung halamannya bisa tercapai,” ujar yang lebih awal terkenal dengan panggilan Rudy Mbojo itu.

 

Syafruddin Akan Dirawat Lanjut di RS Sanglah

Besok juga dipastikan Syafruddin pun dipastikan bertolak dari Taiwan menuju tanah air. Dia menjalani perawatan intensif di Rumah Sakit Landseed International Hospital, Daerah Zhongli, Taiwan. Tidak jauh dari tempat tinggalnya.

Menurut HMS, Syafruddin akan diterbangkan dari Taiwan langsung menuju Denpasar, Bali, menggunakan maskapai penerbangan China Airlines.

“Syafruddin akan dipulangkan Sabtu, besok menuju Denpasar. Kiriman tiket nya barusan saya terima dari KDEI (Kamar Dagang Ekonomi Indonesia) di Taiwan. Semoga tidak ada kendala,” papar HMS.

“Rencananya, Syafruddin akan dirawat lanjut ke Rumah Sakit Sanglah Denpasar,” sambungnya.

Ditegaskan, rencana kepulangan Syafruddin sulit diubah tiketnya. Pemulangannya menggunakan Medical Stretcher Case (6 seats reserved), Aircraft Ventilator dan alat-alat medis lain, serta dua petugas medis pendamping.

“Biaya pemulangan ditanggung Kementerian Luar Negeri sekitar Rp. 210 juta,” kata HMS menyampaikan informasi yang diterimanya dari pihak Kedubes RI di Taiwan.

Lebih jauh dijelaskan, pemulangan Syafruddin karena alasan kemanusiaan. “Ini suatu kesyukuran buat kita semua. Apa yang kita upayakan membuahkan hasil,” tuturnya.

Menurut pria Kelahiran Tanjung, Kota Bima ini, biaya kepulangan Syafruddin ditanggung pemerintah melalui KDEI di Taiwan. Meski demikian, terdapat biaya operasi dan operasi ringan sekitar Rp. 450 juta yang masih tertunda pembayarannya.

“Kita masih melakukan komunikasi dengan Departemen Luar Negeri untuk menyelesaikan biaya RS dan operasi yang masih tertunda ini,” tandasnya.

Terlepas dari itu, HMS meminta masyarakat mendoakan keselamatan Syafruddin selama perjalanan. Diharapkan, setelah mendapat perawatan di RS Sanglah, kondisinya semakin membaik.

“Kita harap Syafruddin bisa segera sehat, sehingga dapat pulang kembali ke kampung halaman,” tuturnya. (zar)