
Bantah Terima Sesuatu dari Proyek, Bukan Koodinator Aksi Ratusan Warga O’o
DOMPU, Lakeynews.com – Salah satu tokoh agama di Desa O’o, Kecamatan Dompu, Kabupaten Dompu, Ustadz Harits Kusfi, Lc memberikan klarifikasi terkait kehadiran dan keikutsertaannya dalam aksi penolakan penggantian pipa air di Dompu timur, Kamis (31/10).
“Saya bukan sebagai koordinator dalam aksi tersebut. Kehadiran saya di tengah-tengah warga kemarin untuk membersihkan nama baik saya yang telah dianggap dan dituding macam-macam,” tegas Ustadz Harits (sapaan akrabnya) pada Lakeynews.com, Jumat (1/11) pagi menjelang siang.
Diketahui, karena ditolak ratusan warga, pengerjaan proyek penggantian pipa air dari Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) itu akhirnya ditunda. Perlengkapan proyek, termasuk alat berat dan pipa pun ditarik semuanya.
Warga menolak proyek di Dompu bagian timur itu karena dinilai tidak membawa dampak manfaat bagi masyarakat setempat. Justru menjadi malapetaka baru. Kebutuhan air bersih, pengairan irigasi dan persawahan warga sekitar tidak lagi terlayani.
Dalam aksi tersebut, sebagaimana dilansir juga media ini pada tulisan sebelumnya, Ustadz Harits Kusfi, Lc (bukan Ustad Elhariz Kusfi, Lc, red) disebut-sebut sebagai koordinator aksi. “Saya bukan koordinator aksi. Aksi itu murni gerakan moral masyarakat,” jelasnya.
Siapa dan apa isi tudingan yang mencoreng namanya tersebut?
Menjawab pertanyaan itu, Ustadz Harits tidak menyebut nama penuding dimaksud. Menurutnya, di tengah masyarakat Desa O’o telah beredar kabar bahwa dirinya termasuk yang menerima sesuatu dari pihak proyek tersebut.
Ustadz Harits kemudian mengungkapkan dugaannya sehingga muncul anggapan minor di tengah masyarakat. Menurutnya, terkait proyek ini sudah beberapa kali dilakukan pertemuan para pihak terkait, termasuk perwakilan masyarakat Desa O’o.
Salah satu pertemuan tersebut, yakni pertemuan keempat diikuti Ustadz Harits. Usai pertemuan itu, nama saya disebut-sebut menerima sesuatu. “Ini perlu saya klarifikasi, saya sama sekali tidak pernah menerima apapun dari siapapun,” tegasnya.
Membuktikan bahwa tudingan itu tidak benar sekaligus sebagai ajang klarifikasi dan membersihkan namanya yang tercoreng, Ustadz Harits hadir di tengah-tengah massa. “Saya hadir. Saya membacakan pernyataan sikap berisi beberapa poin tuntutan,” tandasnya.
Disampingi itu, keberadaannya di tengah warga yang menolak pengerjaan proyek penggantian pipa air sebelum semuanya jelas, karena tidak ingin kasus yang terjadi beberapa tahun lalu terulang kembali.
Ustadz Harits tidak ingin masyarakat merusak fasilitas negara (daerah) yang berujuang pada terjadinya benturan dengan aparat keamanan. Sehingga kehadirannya untuk mendinginkan suasana, memberikan pemahaman dan ikut meredam agar warga tidak terlalu bergejolak.
“Kalau sampai warga merusak fasilitas negara, aparat tentu akan bertindak represif. Jika warga tidak terima dengan hal itu, saya kuatir terjadi benturan. Ini yang tidak kita inginkan,” paparnya. (zar)
