
DOMPU, Lakeynews.com – Akibat ditolak ratusan warga Desa O’o, Kecamatan Dompu, pengerjaan proyek penggantian pipa dari Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Kabupaten Dompu akhirnya ditunda. Perlengkapan dan peralatan proyek, termasuk alat berat dan pipa ditarik semuanya.
Informasi yang dihimpun Lakeynews.com, sebelum melakukan aksi, beberapa perwakilan warga menginformasikan tentang adanya aksi tersebut di masjid.
Sekitar pukul 07.50 Wita, massa yang datang dari Dusun O’o Timur dan O’o Barat ini mulai memadati Jalan Lintas Desa Karamubara dan berkumpul di bak induk PDAM. Aksi tersebut sempat membuat arus lalu lintas terganggu selama beberapa jam, meskipun kendaraan tetap bisa lewat.
Menghindari kesalahpahaman dan perselisihan ini, seluruh perlengkapan proyek ini termasuk alat berat dan pipa ditarik semuanya. “Pelaksanaan proyeknya kami tunda untuk sementara waktu,” kata Camat Dompu Abdurahman, S.Sos di tengah kerumunan massa aksi, Kamis (31/10).
Baca juga : http://lakeynews.com/2019/10/24/ratusan-warga-oo-dompu-tolak-penggantian-pipa-air/
Terkait tuntutan dan keinginan warga setempat pihaknya telah berkoodinasi dengan dinas terkait. “Semua aspirasi warga tersebut sudah kami sampaikan ke Dinas PUPR. Juga telah saya sampaikan langsung ke Bupati dalam forum Muspida,” jelasnya.
Korlap aksi Ustad Elhariz Kusfi, Lc, dalam orasinya menyampaikan sejumlah tuntutan terkait penolakan proyek pemasangan Saluran Layanan Air Bersih (SLAB) tersebut. “Aksi kami hari ini sebagai kelanjutan penolakan atas pengerjaan proyek pemasangan pipa di desa kami,” ungkapnya.
Menurutnya, kehadiran proyek bernilai belasan miliar tersebut tidak membawa dampak manfaat buat masyarakat. Justru menjadi malapetaka baru.
“Kebutuhan air bersih dan pengairan irigasi dan persawahan warga sekitar tidak lagi terlayani. Jangan masuk proyek ini, saat ini warga desa kami sedang sekarat masalah air,” tegasnya.
Dalam perencanaannya, proyek ini hanya diperuntukan bagi kebutuhan warga kota, Pajo hingga Hu’u. “Setelah kami cek dokumen proyek ini, bukan hanya untuk kebutuhan air minum, tapi juga untuk kebutuhan irigasi perkotaan,” ujarnya.
Artinya, kata Haris, keberadaan proyek ini jelas-jelas mengabaikan kebutuhan warga desa induk penyuplai air tersebut. “Ini jelas-jelas malapetaka dan bencana buat kami masyarakat Desa O’o,” tegasnya.

“Intinya air ini tidak boleh ke wilayah kota sebelum melewati dan mengutamakan kebutuhan desa kami,” sambungnya.
Sementara itu, Faiziah, salah satu perwakilan perempuan dalam aksi tersebut mempertanyakan adanya surat pernyataan bersama yang diklaim telah ditandatangani sejumlah perwakilan masyarakat.
“Kami minta surat itu agar dibacakan dan kami juga ingin mengetahui kenapa surat itu tidak berani ditandantangani Kadis PU Dompu,” terangnya.
Dia menegaskan, aksi ini adalah murni aspirasi masyarakat terutama ibu-ibu yang tidak lagi memiliki air di rumahnya. “Air ini adalah kebutuhan pokok. Tidak boleh kemudian ditawar-tawar lagi. Intinya, kami menolak proyek pembagian air ini,” paparnya.
Lebih lanjut Faiziah menjelaskan, selama ini mereka sudah mengalami krisis air. Baik untuk kebutuhan mandi dan mencuci maupun untuk sawah yang memang telah banyak kering.
“Jika diganti dengan pipa yang lebih besar dengan volume air yang lebih banyak, kami pastikan akan terjadi krisis air bersih. Sawah bertambah kering, sehingga tidak bisa lagi bercocok tanam,” jelasnya. (ady)
