Kepala Balai TNT Murlan Dameria Pane saat ditemui Lakeynews.com di ruang kerjanya. (sarwon/lakeynews.com)

Wawancara Khusus Kepala Balai TNT, Murlan Dameria Pane (2)

Hingga akhir Oktober ini, pendakian gunung Tambora masih tutup sementara. Mengapa dan sampai kapan baru dibuka kembali? Berikut lanjutan wawancara khusus Wartawan Lakeynews.com Sarwon Al Khan dengan Kepala Balai Taman Nasional Tambora (TNT) Murlan Dameria Pane.

===========

DIKETAHUI, Balai TNT menutup sementara pendakian Tambora mulai 1 Oktober lalu.

Menurut Murlan, pihaknya masih memantau kondisi di lapangan. Kalau cuaca masih panas-kering, angin masih kencang, dan kalau masih ada titik-titik api, berarti potensi kebakaran masih cukup tinggi.

“Karena itu, pendakian masih ditutup sementara. Kami memperhatikan dan memprioritaskan atau mengutamakan keselamatan para pendaki,” jelasnya.

Baca juga : http://lakeynews.com/2019/10/30/tiga-bulan-400-an-hektare-kawasan-tnt-terbakar/

Pendakian baru dibuka kembali, kalau sudah mulai kondusif. “Kita masih melihat dan mengkaji dulu kondisi alam,” tegasnya.

Sementara ini, pihaknya belum bisa memprediksikan kapan akan dibuka kembali. Laporan petugas TNT di lapangan, di atas (puncak Tambora) hujan sudah mulai turun.

Sebenarnya, pendakian Tambora ada lima jalur. Namun, yang aktif empat jalur. Keempat jalur itu; untuk tracking di Kawinda To’i dan Pancasila, serta untuk offroad Piong dan Doroncanga.

Namun, saat ini, keempat jalur itu masih ditutup semua untuk sementara. Karena jalur-jalur pendakian merupakan wilayah rawan kebakaran.

Murlan mengharapkan pemahaman dan maklum para pencinta (pehobi) mendaki. “Bagi yang sudah menjadwalkan pendakian, sementara pendakian tengah ditutup sementara, maka, kita tunggu dan cari momen lain yang lebih aman,” imbuhnya.

Dia mencontohkan, beberapa hari lalu ada yang merencanakan mendaki pada 28 Oktober. Agenda itu bertepatan dengan peringatan hari Sumpah Pemuda. “Ya, kita cari momen dan waktu yang lain dan lebih tepat,” ujarnya.

Imbauan kepada Pendaki dan Warga

Kepada para pendaki dan masyarakat umumnya Murlan menyarankan dan mengimbau, agar sedapat mungkin tidak membuat api unggun. Sebab, jika api tidak benar-benar dipadamkan, itu berpotensi dan bisa menimbulkan kebakaran.

Pendaki dan warga diminta supaya tidak merokok, tidak membuang puntung rokok yang masih berapi di kawasan TNT. Walaupun tidak sengaja, itu bisa menimbulkan kebakaran.

“Kondisi sabana yang begitu kering, ditambah dengan angin kencang, itu sangat mudah mengakibatkan kebakaran,” urainya.

Bukan itu saja, siapapun yang berada di TNT kiranya tidak sembarangan membuang sampah. Bila ada sampah, agar tidak dibakar dan ditinggalkan di sana.

“Kalau menghasilkan sampah pribadi, sampah itu dibawa pulang. Seperti bungkusan makanan, plastik dan sebagainya, bawa pulang lagi,” pinta Murlan.

Pendaki dan warga agar tetap melaksanakan etika konservasi selama melaksanakan kegiatan atau aktivitas di wilayah TNT. Misalnya, tidak menebang pohon, kayu atau ranting. Tidak mengganggu kalau menemukan satwa liar. Apapun jenisnya.

Tidak memetik bunga edelweiss (bunga abadi), kalau menemukan. Edelweis merupakan salah satu vegetasi yang sangat penting, dijaga, dilindungi dan dilestarikan di TNT.

“Jangan petik dan ambil apapun. Boleh saja mengambil tapi cukup fotonya saja,” katanya seraya melempar senyum.

“Harus dipikirkan, tidak hanya untuk kepentingan sendiri. Tapi juga orang lain yang ingin merasakan hal yang sama dengan kita, ketika menikmati suasana di kawasan TNT,” tambahnya. (bersambung)