Kepala Balai TNT Murlan Dameria Pane saat ditemui Lakeynews.com di ruang kerjanya. (sarwon/lakeynews.com)

Wawancara Khusus Kepala Balai TNT, Murlan Dameria Pane (1)

Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla), pendakian dan illegal logging atau perambahan hutan, antara lain persoalan dan kondisi yang terpampang di kawasan Taman Nasional Tambora (TNT). Mengupas masalah-masalah itu, Wartawan Lakeynews.com Sarwon Al Khan (T) mewawancarai khusus Kepala Balai TNT Murlan Dameria Pane (J) di ruang kerjanya, Selasa (29/10). Murlan ditemani Kasi Pengelolaan TNT Wilayah I (Kore) Muhammad Saad. Berikut rangkuman wawancara dengan wanita ramah itu yang dirilis secara bersambung.

===========

T: Sudah berapa lama dan sejak kapan Karhutla di kawasan TNT?

J: Karhutla di kawasan TNT sebenarnya sudah cukup lama. Sudah sekitar tiga bulan. Kebakaran terjadi sejak bulan Agustus lalu. Tapi, kebakarannya tidak terus menerus terjadi.

T: Kira-kira berapa luas kawasan yang terbakar?

J: Belum semuanya terhitung dan terdata secara pasti jumlah titik maupun luasnya. Karena, saat terjadi kebakaran, umumnya teman-teman di lapangan fokus bagaimana memadamkan api. Penghitungan dilakukan setelah tidak ada asap dan tidak ada api.

T: Paling tidak, perkiraan?

J: Perkiraan sementara, luas kawasan TNT yang terbakar 400-an hektare (Ha).

T: Ekosistem dan jenis apa yang dominan terbakar?

J: Sebagian besar yang terbakar adalah sabana. Rumput-rumput dan semak-semak. Terbakar karena kondisinya sangat kering, akibat musim kemarau yang cukup panjang. Apalagi disertai dengan angin kencang.

T: Bagaimana dengan vegetasi, pohon-pohon besar?

J: Memang ada wilayah gunungnya yang terbakar –khususnya vegetasi pohon besar. Namun, tidak banyak. Sebagian kecil saja.

T: Bisa dipaparkan aktivitas pemadaman yang dilakukan?

J: Pemadaman langsung dilakukan teman-teman di lapangan. Petugas TNT tidak hanya memadamkan Karhutla di kawasan sendiri, tapi juga kebakaran yang terjadi di sekitarnya. Apa itu wilayahnya KPH (Kesatuan Pengelolaan Hutan, red), atau wilayahnya siapa yang ada di gunung Tambora, teman-teman di lapangan tetap bergerak memadamkan api.

T: Bagaimana peran dan kolaborasi dengan elemen lain dalam melakukan pemadaman?

J: Benar. Kegiatan pemadaman didukung juga oleh masyarakat peduli api yang dibina TNT, masyarakat Polhut (polisi kehutanan), anggota Polri dan TNI, serta masyarakat umum di sekitar lokasi tersebut.

Tidak hanya dalam hal pemadaman api, namun juga kami sama-sama melakukan pencegahan agar gunung Tambora yang hijau, indah dan tercinta tidak menjadi hitam karena terbakar.

T: Umumnya, apa penyebab terjadinya kebakaran?

J: Kami belum bisa memastikannya. Namun, ada beberapa potensi yang menjadi penyebab terjadinya kebakaran. Terlepas sengaja atau tidak. Salah satu potensi itu, dari pencari atau pemanen madu. Untuk bisa memanen madu dibutuhkan asap untuk mengusir induknya. Pengasapan tersebut kadang menggunakan batang kayu yang dibakar. Nah, kalau api pada batang kayu itu tidak benar-benar dimatikan atau dipadamkan, lalu ditaruh (diletakkan) begitu saja, itu berpotensi menimbulkan kebakaran.

T: Bagaimana upaya terhadap kawasan yang sudah terbakar?

J: Kalau wilayah sabana, rumput-rumput yang sudah terbakar, itu nanti musim hujan akan tumbuh sendiri. Kalau vegetasi pohon besar, tidak seberapa. Dan, nanti akan dilakukan pemulihan ekosistem. Sesuai jenis yang terbakar, kita akan tanam kembali vegetasi asli. Bukan ekosistem luar Tambora.

T: Apa saja dilakukan Balai TNT untuk mengantisipasi kebakaran selanjutnya?

J: Mencegah terjadinya kebakaran, pihak TNT rutin melakukan sosialisi dan penyuluhan kepada masyarakat. Karena, penyebab terbesar terjadinya kebakaran adalah faktor manusia. Kalau terjadi kebakaran, maka yang rugi kita sendiri. Kita semua.

T: Selain itu?

J: Balai TNT melakukan pemberdayaan masyarakat. Kita memberikan solusi dalam bentuk kegiatan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Ini juga menjadi salah satu solusi agar aktivitas masyarakat ke kawasan TNT menurun. Baik kelompok masyarakat wisata, panen madu, tergantung potensi masyarakat masing-masing.

T: Apa harapan dan imbauannya pada masyarakat?

J: Jika hendak memanen madu misalnya, masyarakat diimbau agar memperhatikan hal-hal yang bisa membuat kerawanan kebakaran. TNT tidak bisa melarang masyarakat beraktivitas. Namun, masyarakat perlu memperhatikan juga lingkungan. Mari kita sama-sama jaga, lestarikan dan lindungi Taman Nasional Tambora ini. (bersambung)