
Sejak Kecil, Kerja Apa Saja, Asalkan Dapur Tetap Berasap
Catatan: Sarwon Al Khan, Dompu – NTB
Salah satu dari 30 calon terpilih anggota DPRD Dompu Periode 2019-2024 yang akan dilantik (menurut rencana) pada 30 September ini adalah Iskandar, S.Pd. Berbagai pekerjaan telah dilakoni pria 39 tahun ini. Berjualan keliling es, nasi bambu, hingga fotografer keliling dilakukannya untuk menyambung hidup. Berikut kisah suka dan duka lelaki yang akrab disapa Iskandar PAS atau PAS Dompu itu.
PADA Pemilu Legislatif yang dihelat April 2019 lalu, Iskandar berjuang meraih dukungan rakyat dengan menggunakan Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Nomor Urut 11. Dia bertarung di Dapil 1 (Kecamatan Dompu, Pajo dan Hu’u).
Hasilnya, pria yang tangis pertamanya meletus pada 1 November 1980 itu berhasil mendulang 1.590 suara. Dukungan itulah yang membuatnya tampil sebagai peraih suara tertinggi di internal partai dan meraih salah satu dari 11 kursi yang diperebutkan di Dapil 1.
Karena itu, Iskandar mengucapkan terima kasih tak terhingga kepada semua pihak yang mengantar dan mendukung kesuksesannya. Terutama PKS (pengurus dan kader), tim sukses, relawan, pendukung, simpatisan dan berbagai elemen yang tidak dapat disebutkannya satu persatu.
“Apalah artinya seorang Iskandar tanpa dukungan dan peran serta dari orang lain. Terima kasih, terima kasih, terima kasih pada semuanya,” ucap pria yang kerap juga dipanggil Ayah Shaum ini berulang-ulang dalam sebuah perbincangan dengan Lakeynews.com di kediamannya, beberapa waktu lalu.
Ketika perbincangan mulai menyentuh hal-hal yang sifatnya pribadi dan menyangkut perjuangan hidup hingga kiprah politiknya, sejenak pembicaraan Iskandar PAS terhenti. Sejurus kemudian, tetes demi tetes air matanya keluar, mengalir di kedua belah pipinya.
Baru dengan suara terbata-bata, Iskandar berucap, “saya lahir dari keluarga kurang beruntung secara ekonomi di Kecamatan Hu’u, bang.”
Iskandar merupakan anak kelima dari sembilan bersaudara, buah hati pasangan Jamaludin Ismail dan Siti Romlah (almarhumah). Sejak usia anak-anak, Iskandar kecil sudah belajar menopang ekonomi keluarga. Dia membantu orang tuanya mencari uang belanja.
“Apapun pekerjaan yang baik saya lakukan, yang penting bisa membantu uang belanja ibu dan dapur di rumah tetap bisa berasap,” tutur Iskandar mengenang hidupnya di masa kecil.

Beragam jenis pekerjaan yang sempat dilakoni Iskandar kecil. Kerjanya serabutan. Mulai dari ikut menanam hingga menyabit padi warga yang waktu itu upahnya hanya Rp. 500 sehari, baik di Desa Daha maupun Desa Hu’u.
Pernah juga menjadi penjual es keliling, berjualan “Timbu” (nasi bambu) buatan ibunya ke dalam kampung-kampung. Tidak ada rasa malu, pun tidak ada gengsi. “Getir memang kondisi keluarga saya waktu itu, Bang,” katanya.
Seiring dengan usianya yang menanjak remaja, usaha mengais rezeki pun “naik kelas”. Dengan dukungan peralatan sederhana bahkan seadanya, Iskandar PAS menjadi tukang foto (fotografer) keliling.
Pekerjaan itu ditekuninya secara rutin sejak kelas satu SMP hingga menikahi seorang gadis bernama Nurwahidah, S.Pd. Dari hasil pernikahan itu, kini mereka sudah dikaruniai tiga orang anak. Dua putri (Shaum dan Sitti) dan satu putra (Siraz).
Pekerjaan sebagai fotografer keliling itu dilakukannya dengan tekun, sabar dan tabah, penuh dengan perjuangan dan cucuran air mata. “Semua itu saya lakukan karena keterbatasan ekonomi keluarga,” tutur Iskandar, lagi-lagi dengan mata agak berkaca. (bersambung)

Kisah yang inspiratif
Kisah yang inspiratif, mudah-mudahan setelah menjabat bisa memahami keadaan dan kondisi masyarakatnya