
Pernah Gagal di Pileg 2014, Sukses Sejati di Pileg 2019
Catatan: Sarwon Al Khan, Dompu – NTB
Meraih kesuksesan sejati itu memang tidak mudah. Iskandar, S.Pd sangat sadar, bahwa itu mutlak memerlukan pengorbanan ekstra. Mulai dari harus memeras keringat, mengucurkan air mata, hingga pengorbanan-pengorbanan lainnya.
DEMI sebuah kesuksesan perlu perjuangan berat yang memerlukan kekuatan fisik, melewati bermacam-macam tantangan yang senantiasa menghadang di setiap langkah. Diperlukan stamina yang kuat agar mampu bertarung selama masa perjuangan yang lamanya kadang sampai bertahun-tahun.
Diperlukan pula kekuatan menghadapi segala cuaca yang silih berganti. Kadang harus bertahan di bawah guyuran hujan deras. Kadang harus bertahan di bawah terik sinar matahari. Pun naik-turun gunung. Melawan arus sungai yang deras. Melewati rawa berlumpur. Melewati padang ilalang dan semak belukar penuh duri.
Pemilu Legislatif 2019, sesungguhnya bukan kali pertama diikuti Iskandar. Sebelumnya, pada Pileg 2014 dia pernah menjadi kontestan dan bertarung melalui Partai Bulan Bintang (PBB) di Dapil yang sama. Dapil 1 (Kecamatan Dompu, Pajo dan Hu’u).
Sayangnya, waktu itu dewi fortuna belum berpihak padanya. Dia hanya mampu berada di urutan kedua.

Namun, pengalaman lima tahun lalu menjadi pelajaran dan guru berharga baginya saat kembali turun ke arena Pemilu April 2019.
Menurutnya, pengorbanan adalah peristiwa besar dan berani dalam sejarah perjalanan kehidupan umat manusia. Karena jiwa pengorbanan itu berlandaskan pada kebenaran, keberanian, keikhlasan dan kejujuran.
“Semua itu didasari pada keimanan, ketakwaan, kesabaran dan akhlak yang unggul dan prima,” ungkap Iskandar berfilosofi.
Sebaliknya orang-orang yang enggan berkorban menegakkan “dinullah”, memperibadati-Nya dengan sungguh-sungguh, adalah karena mereka bergelimang dalam kecintaan berlebihan terhadap dunia, nafsu dan kepentingan yang “menenggelamkan”.
Tidak jarang juga diiringi “egoisme syahwat”, bersifat sementara dan asesoris dunia, serta termanjakan hiburan tontonan yang melalaikan. “Pengorbanan menjadi harga mati bagi iman,” tuturnya.
Geliat iman, sambungnya, antara lain akan terlihat pada sebanyak apa insan berkorban, sebanyak apa-apa memberi, sebanyak apa lelah, serta seberapa besar ilmu dan tenaga dicurahkan untuk (ke) jalan Allah SWT.

“Juga, pada seberapa kita sanggup meninggalkan rutinitas harian (bagi yang Islam) untuk shalat fardhu berjamaah di masjid dan seterusnya,” urainya.
Selain itu, juga pada sebanyak apa mengadu saat Shalat Tahajud. Puncak dari segalanya adalah saat di mana umat menyerahkan harta dan jiwanya sebagai persembahan total kepada Allah SWT.
“Sesungguhnya kemenangan dalam pertarungan hidup tidaklah diperoleh hanya dengan harta, kekayaan dan kesenangan. Tapi, dengan perjuangan keras, pengorbanan, ketakwaan dan kesabaran,” sambung lelaki yang kerap dipanggil Ayah Shaum itu.
Karena pernah merasakan getir dan pahitnya kehidupan di bawah garis kemiskinan itulah, menjadi bagian alasan Iskandar bertekad maju sebagai Caleg.
“Niat dan motivasi saya, dengan menjadi wakil rakyat, saya akan lebih bisa membantu orang-orang miskin dan orang-orang yang sangat membutuhkan bantuan. Tentu yang utama juga memperjuangkan pembangunan bagi wilayah yang mungkin selama ini kurang mendapat sentuhan, terutama di Dapil yang saya wakili,” paparnya. (habis)

One thought on “(3) Suka Duka Fotografer Keliling yang Kini Menanti Dilantik sebagai Anggota DPRD Dompu”